Rabu , Oktober 27 2021

Penjaga Gawang

(ilustrasi penjaga gawang)

Oleh: Helfizon Assyafei

Ketika itu menjelang sore. Saya berbincang dengan seorang rekan usai olahraga sore di tempat isolasi covid-19 sebulan yang lalu.

Intinya ia tidak tahu mengapa kena dan di mana kena. Kerja di sebuah camp di luar kota dengan standar prokes yang ketat. Sudah vaksin 2 kali. Tidak ada interaksi dengan orang lain kecuali teman sekerja.

Saat diswab hanya ia sendiri diantara 20 orang teman sekerjanya yang positif. Lalu dibawalah ke tempat isolasi ini. Artinya kena covid bisa karena lalai prokes bisa juga tidak lalai tapi kena juga. Kalau lalai kita bisa maklum. Tapi kalau dah prokes kena juga ini yang agak membuat kita bertanya dalam hati mengapa?

Akhirnya saya dapat jawabannya dari tuan guru malam ini.

“Usaha hanya sebab. Jangan gantungkan hati mu pada usaha karena semua ada yang mengaturnya. Pengaturan mu takkan bisa menghentikan pengaturan-Nya. Itulah yang disebut ketentuan-Nya (takdir)” ujarnya.

Tuan guru lalu menceritakan kisah Nabi Musa AS. Suatu ketika Nabi Musa sakit perut. Musa berdoa. Turunlah perintah Allah agar memakan daun yang banyak terdapat di Mesir kala itu. Daun itu dimakan oleh Nabi Musa dan ia sembuh.

Di lain waktu hal yang sama terulang. Nabi Musa sakit perut lagi. Bergegas ia mencari daun itu dan memakannya. Apa yang terjadi? Ternyata perutnya bukan sembuh tapi malah tambah sakit.

Nabi mengeluh kepada-Nya, mengapa? Tuhan berkata pada-Nya; “Dulu waktu engkau sakit maka ingat pada Ku dan memohon kesembuhan. Kujadikan daun itu asbab (sebab). Kini ketika hal yang sama terjadi engkau langsung ingat asbab dan lupa pada yang kuasa menyebuhkan.”

Nabi Musa tersadar dan memohon ampun. Bahwa dibalik asbab, dibalik usaha adalah DIA penentu segalanya. Jadi jangan pernah menyandarkan hati dalam mencari manfaat kepada selain-Nya. Sebab asbab hanya bisa bermanfaat dengan izin-Nya.

Mungkin kita telah divaksin lengkap. Mungkin kita taat prokes. Tapi tidak akan menghalangi takdir-Nya bila suratan itu datang. Oleh karena itu penting hati tetap hanya berlindung pada-Nya dan bukan bergantung pada usaha.

Kita seperti penjaga gawang dalam sepakbola. Kita mungkin bisa menjaga gawang 2 x 45 menit. Tapi kita tidak bisa menjamin gawang kita pasti tidak kebobolan. Di situlah pentingnya doa.***

14 Agustus 2021

Penulis merupakan wartawan senior Riau

Artike ini sudah dipublikasikan pertama kali di laman Facebook Helfizon Assyafei

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: