Rabu , Oktober 20 2021

Pimpinan NU Anggap Lomba Menulis ‘Hormat Bendera’ BPIP Hal Biasa

Ketua PBNU Marsudi Syuhud.

Jakarta (Riaunews.com) – Lomba karya tulis yang ditaja Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menuai kontroversi di tengah-tengah masyarakat.

Namun, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud menganggap biasa lomba penulisan artikel yang diadakan BPIP. Ia menyebut tema yang diangkat disesuaikan dengan Hari Santri dan menjelang 17 Agustus.

Selain itu, ia juga menyebut lomba itu tidak ada tendensi terhadap paham atau kelompok tertentu.

“Menurut saya biasa biasa saja itu kan memperingati Hari Santri. Karena kata santri itu biasanya kan Islam. Ya, biar santri itu terlatih menulis,” ucapnya, sebagaimana dilansir CNNIndonesia.com, Jumat (13/8/2021).

Lomba penulisan artikel tingkat nasional diinformasikan BPIP lewat unggahan di akun Twitter @BPIPRI pada Rabu (11/8/2021).

Sejak unggahan itu terbit, banyak pihak yang mempertanyakan urgensi lomba dengan mengangkat tema seperti itu. Bahkan ada yang menganggap lomba itu kontraproduktif.

Menanggapi kritik, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo mengatakan pilihan tema tersebut menyesuaikan dengan konteks Hari Santri. Menurutnya, BPIP melihat pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam menyikapi cinta tanah air.

“Disesuaikan dengan Hari Santri. Sama juga hormat bendera menurut agama Kristen, Hindu, Buddha, Katolik, Konghucu,” ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah tokoh mengkritik keras tema yang diusung BPIP tersebut.

Ulama asal Sumatera Barat Anwar Abbas menyarankan agar BPIP dibubarkan. Dia menilai Lembaga pimpinan Megawati Soekarnoputri itu tidak memiliki kepekaan sosial di tengah pandemi Covid-19.

“Kesimpulan saya BPIP seharusnya dibubarkan saja. Bukannya apa, lombanya enggak kontekstual. Orang secara lagi Covid malah masalah hukum bendera,” kata Anwar kepada CNNIndonesia.com, Jumat (13/8/2021).

Hal senada juga diungkapkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Busyro Muqoddas.

“Ini [lomba] bukan saja tendensius, itu jelas-jelas useless, tidak ada manfaatnya sama sekali. Tidak ada konsep akademis ideologisnya,” ucap Busyro.

Busyro menilai tema yang diusung BPIP justru mengadu domba sekaligus penghinaan terhadap komunitas santri. Dia mengatakan Hari Santri bukan hanya milik warga Nahdlatul Ulama saja, tapi milik semua umat Islam.

“Apakah selama ini negara itu ada problem dengan penghormatan bendera Merah Putih? Problem lagu kebangsaan? Faktanya tidak ada. Kalau tidak ada, mengapa BPIP mencari-cari penyakit ini namanya,” kata Busyro.

Dia mengatakan BPIP perlu meninjau kembali rencana lomba tersebut dan segera mencabutnya. Sebab menurutnya, tema itu hanya akan mengusik umat Islam.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: