Selasa , Oktober 19 2021

Secarik Kenangan

Asrama tempat isolasi pagi jelang siang. (Foto: Helfizon Assyafei)

Oleh: Helfizon Assyafei

Dulu di asrama tempat isolasi Covid-19 setelah jam olahraga pagi jelang siang adalah waktu yang paling dilematis bagi saya. Ketika sebagian besar warga isoman (isolasi mandiri) masuk kembali ke dalam kamar. Mungkin untuk tidur lagi. Atau mencuci, atau kerja daring atau apalah. Pokoknya masuk kamar.

Saya sudah mencoba hal itu tapi badan malah makin sakit. Sebab kalau sudah cukup tidur dibawa tidur lagi tidak membawa manfaat. Saya sering duduk di kursi kosong di lorong asrama itu seorang diri. Berteman sepi.

Saya terlupa membawa buku ketika pergi ke tempat isolasi ini. Selain hanya buku tipis yang kebetulan ada di jok mobil. Kalau tak salah judulnya ‘Pemikiran Tan Malaka’. Terlalu tipis untuk 14 hari masa isolasi. Meski tipis sudah saya tinggalkan bacanya sebelum tamat.

Itu terjadi ketika saya sampai ke alinia ketika penulisnya yang hidup saat ini mengaku bertemu secara spiritualis dan mewawancarai beliau. Langsung saya lemparkan buku itu. Sekarang ini jangankan di medsos di dunia perbukuan pun sudah muncul yang aneh-aneh begitu.

Main hape? Saya sedang membatasi diri dari medsos ketika itu. Meski amat saya rasakan tarikan-tarikan dari dalam agar mengisinya dengan menulis seperti hobi saya biasanya. Mengapa tidak coba buka efbi atau twitter atau apa kek. Daripada suntuk di lorong asrama isoman ini.

Tapi saya bersikeras untuk kukuh pada komitmen semula jangan bermedsos ria. Meski kadang ‘sakau’ juga dibuatnya. Kepingiiiin sekali menulis. Tapi tetap kukatakan TIDAK pada diri ini.

Masa itu masa-masa membangun semangat yang down. Masa-masa melawan cemas, khawatir dan sakit yang membuat dunia rasanya kehilangan warna.

Tapi sebenarnya masa-masa itu (kalau disebut masa penderitaan) sebenarnya masa yang tepat untuk melatih rohani untuk melepas kelekatan pada apa saja. Melekat pada kebiasaan-kebiasaan. Kesukaan-ketidaksukaan. Saat melatih keheningan hati. Seperti para sufi yang sengaja menempuh jalan penderitaan untuk ‘jalan’ permbersihan diri.

Bagi mereka menderita secara pisik tidak masalah asal rohaninya cemerlang. Tapi mental saya belum sekuat mereka. Sakit masih membuat saya menderita. Lupa semua petuah bijak para pengembara rohani; penderitaan itu sebagai keniscayaan hidup, tapi sifatnya sementara silih berganti dengan kesenangan.

Pelajarannya kata mereka adalah kalau sedang senang bersyukurlah. Kalau sedang susah bersabarlah. Sebab kalau kau senaaang saja tak pernah susah artinya kau sudah di surga. Kalau kadang senang kadang susah berarti kau masih di dunia.

Hmm..kadang masih saja saya teringat secarik kenangan itu.***

4 Agustus 2021

Penulis merupakan wartawan senior Riau

Artikel ini sudah dipublikasikan pertama kali di laman Facebook Helfizon Assyafei

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: