Sabtu , September 18 2021

Seniman Jogja Tak Takut Meski Mural 2 Mereka Dihapus dalam 24 jam

Mural bertuliskan ‘Dibungkam’ di Kleringan Kewek, Danurejan, Kota Yogyakarta. (Foto: Instagram)

Yogyakarta (Riaunews.com) – Pelukis mural bertuliskan ‘Dibungkam’ di bawah Jembatan di Kota Yogyakarta, tak kapok kembali melukis karya baru meski yang sebelumnya dihapus Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Mulanya, mural bertuliskan ‘Dibungkam’ di Kleringan Kewek, Danurejan, Kota Yogyakarta, itu dihapus petugas, Ahad (22/8/2021).

“Karya Mural dan Graffiti dengan Kata Di Bungkam, dilindas pagi ini oleh penguasa, karena kata ‘Bungkam’ di tembok ini belum berumur 24 jam sudah membuat pemerintah makin panik! Bah….. Ini bentuk pengendalian dan memperhangus kesenian yang mengeritik pemerintahan,” demikian tulis akun instagram @yogya_streetart_studio, Ahad (22/8/2021).

Tembok tempat tulisan yang diduga bernada satire tersebut dicat putih pada seluruh bagian tanpa tersisa. Senin (223/8) pagi, muncul kembali tulisan menggunakan cat pilox berwarna merah bertuliskan ‘Bangkit Melawan Atau Tunduk Ditindas’.

Tak butuh waktu lama, Satpol PP Kota Yogyakarta kembali menghapusnya dengan cat putih, Senin (23/8) siang.

Wakil Komandan Operasi Lapangan Wilayah Utara Satpol PP Kota Yogyakarta Achmad Solikin mengatakan penghapusan tulisan ‘Bangkit Melawan Atau Tunduk Ditindas’ adalah bentuk penegakkan Peraturan Daerah DIY Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat.

“Juga provokatif, kalau gambar yang sifatnya membangun tidak kita hapus,” kata Achmad di lokasi, Senin (23/8).

Achmad mengimbau masyarakat tak membuat provokasi macam ini, apalagi ketika Pemkot Yogyakarta tengah fokus pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Sementara Rianto Agung dari Satpol PP BKO Kecamatan Danurejan menambahkan Satpol PP pada hari minggu kemarin juga menghapus mural di bawah Jembatan Kewek.

“Itu juga dihapus Pemerintah Kota juga, sama spanduk-spanduk juga,” ucapnya.

Terpisah, Bamsuck (27), yang mengaku sebagai salah seorang yang terlibat dalam pembuatan mural ‘Dibungkam’ di Jembatan Kewek, mengaku membuatnya bersama empat rekan pada Sabtu (21/8).

“Jembatan Kewek itu kan aslinya dari dulu tempat-tempat seniman Jogja berkarya. Tapi kenapa belum ada 1×24 jam sudah dihapus oleh oknum aparat?” katanya ditemui di seputaran Jembatan Kewek.

Ia beranggapan melukis mural bukanlah tindak kriminal dan sebagai sarana menyalurkan aspirasi melalui kesenian.

“Kita bersuara, seniman kan juga rakyat, berhak bersuara. Apa salahnya rakyat untuk bersuara,” ucap dia.

Karya ‘Dibungkam’ itu, kata Bamsuck, secara garis besar merupakan respons dari tindakan pemerintah yang menghapus mural-mural bernada kritik lainnya di berbagai daerah.

Dia heran karena sebelumnya Polri juga sudah menyatakan tak akan bertindak terlalu responsif terhadap konten satire. Bamsuck mempertanyakan kenapa justru hal demikian terjadi lagi.

“Malah kelabakan sendiri yang di bawah,” sebutnya.

Ia juga mengaku sebagai sosok pembuat tulisan ‘Bangkit Melawan Atau Tunduk Ditindas’ pada Senin pukul 05.00 WIB tadi. “Dihapus lagi, belum ada 24 jam,” sindirnya.

Namun, Bamsuck mengaku tak kapok. Dia menyatakan bakal melancarkan aksi serupa di titik-titik lain. Waktu dan tempat ia rahasiakan.

“Enggak pernah takut. Kita sudah tekad. Semakin dihapus, pasti semakin muncul lebih banyak,” pungkasnya.

Sebelumnya, sejumlah mural bernada kritis dihapus di beberapa daerah. Misalnya, mural bergambar Jokowi dan bertuliskan ‘404 not found’, hingga ‘Dipaksa sehat di negara yang sakit’.***

Sumber: CNN Indonesia

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: