Kamis , September 23 2021

Dua Hati Dalam Satu Rongga

(ilustrasi)

Oleh: Alfi Ummuarifah

Satu kata yang mengalihkan perhatian kita jika kita baca ayat Allah itu semuanya berkesan. Ayat di bawah ini menceritakan tentang larangan dari Allah menjadikan dua hati dalam rongga tubuhnya. Maksudnya dua arah fokus hidupnya di dalam satu hatinya. Kafir dan beriman dalam satu rongga. Hak dan batil yang dimiliki bercampur dalam jiwanya. Putih dan hitam. Atau bersikap abu-abu.

Artinya sangat indah. Sastranya tinggi penuh makna. Makna dari “Dua hati dalam satu rongga itu” adalah Allah tidak membolehkan dua tujuan dalam satu kehidupan. Tujuan menjadi kafir atau mukmin. Menjadi abu-abu pun tidak boleh. Karena yang putih yaitu keimanan tidak bisa bercampur dengan yang hitam. Kebenaran itu sendiri.

Allah menyatakannya dalam ayat ini. Bahwa di dalam QS.Al-Ahzab Ayat 4, menyebutkan tentang larangan ini. Inilah dia ayatnya.

مَا جَعَلَ اللّٰهُ لِرَجُلٍ مِّنۡ قَلۡبَيۡنِ فِىۡ جَوۡفِهٖ ۚ وَمَا جَعَلَ اَزۡوَاجَكُمُ الّٰٓـئِْ تُظٰهِرُوۡنَ مِنۡهُنَّ اُمَّهٰتِكُمۡ ‌ۚ وَمَا جَعَلَ اَدۡعِيَآءَكُمۡ اَبۡنَآءَكُمۡ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ قَوۡلُـكُمۡ بِاَ فۡوَاهِكُمۡ‌ ؕ وَاللّٰهُ يَقُوۡلُ الۡحَقَّ وَهُوَ يَهۡدِى السَّبِيۡلَ

Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

Beralih dari perintah bertakwa dan larangan menaati orang kafir, Allah melalui ayat ini kemudian berbicara tentang orang yang hatinya tidak istikamah, masalah zihar, dan anak angkat.

Tiga topik ada dalam ayat ini. Namun saya hanya ingin membahas satu topik saja yaitu istiqomah.
Istiqomah yang dimaksudkan adalah agar tetap putih beriman dan hitam menjadi kafir. Tidak mungkin keduanya ada dalam satu rongga. Juga dalam satu jiwa manusia.

Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya. Setiap manusia hanya memiliki satu hati dan darinya muncul kehendak atau keinginan. Karena itu, tidak mungkin di satu sisi ia beriman dan takut kepada Allah namun di sisi lain ia takut kepada selain Allah.

Begitu juga, Dia tidak menjadikan istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu. Zihar adalah perkataan suami kepada istri, “Punggungmu haram bagiku seperti punggung ibuku,” atau yang sama maksudnya.

Allah juga tidak membenarkanmu menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu sendiri. Sejak saat itu hukum anak angkat dibatalkan. Dengan begitu nasab anak itu kembali ke nasab ayah kandungnya.

Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja yang tidak dilandasi ilmu yang benar. Allah mengatakan dan menetapkan hukum yang sebenarnya dan Dia menunjukkan kepadamu jalan yang benar dan lurus.

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Dia tidak menjadikan dua hati dalam satu tubuh sehingga tidak mungkin pada diri seseorang berkumpul iman dan kafir. Jika seseorang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tentu di dalam hatinya tidak ada kekafiran dan kemunafikan, walaupun sedikit, dan ia tentu mengikuti Al-Qur’an dan sunah Rasulullah. Menyeru manusia mengikuti jalan Allah, mengikuti hukum-hukum-Nya dan berserah diri hanya kepada Allah.

Sebaliknya jika seseorang itu kafir atau munafik, tentu di dalam hatinya tidak ada iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan dia tidak akan bertawakal kepada Allah. Dengan kata lain, mustahil berkumpul pada diri seseorang dua buah keyakinan yang berlawanan.

Sebagaimana tidak mungkin ada dua hati di dalam satu tubuh manusia. Maka istiqomah adalah sesuatu yang lumrah. Sebab saat istiqomah tidak ada, kita akan mudah mencampurkan yang hak dan yang batil dalam satu hati.

Bercampurnya keduanya menandakan hati manusia itu plin plan dan penuh keraguan. So, jangan jadi abu-abu. Tetapi jadilah tetap putih dalam keimanan.
Wallahu a’lam bisshowab.

Medan, 4 September 2021

Penulis seorang Pegiat Literasi Islam Kota Medan

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: