Rabu , Oktober 27 2021

Gatot Nurmantyo Bongkar Hilangnya Diorama Sejarah Penumpasan G30SPKI di Museum Dharma Bakti

Sejumlah patung diorama penumpasan G30S/PKI di museum Museum Dharma Bhakti hilang. (Foto: Kompas TV)

Jakarta (Riaunews.com) – Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menuding ada paham komunis di tubuh TNI. Hal ini menurut Gatot didukung oleh hilangnya bukti-bukti berupa diorama (patung) sejarah penumpasan G30S/PKI di Museum Dharma Bhakti.

Dalam sebuah diskusi, Gatot mengaku telah memerintahkan seseorang untuk mencari bukti perihal kondisi diorama di Musem Dharma Bhakti.

“Saya mengutus seseorang untuk memfoto ruangan itu dan mendapat dari video itu sudah kosong,” tambahnya sebagaimana dilansir tvonenews.com.

Gatot pun terkejut, diorama saksi sejarah yang menggambarkan Kostrad dan RPKAD (saat ini disebut Kopassus) menumpas gerakan 30 September oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) atau G30S/PKI di museum Kostrad itu sudah tidak ada.

Padahal sebelumnya di museum itu terdapat diorama yang menggambarkan momen ketika Mayor Jenderal TNI Soeharto sebagai Panglima Kostrad, memerintahkan Komandan RPKAD, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo untuk menumpas Gerakan G30SPKI yang dipimpin oleh Letkol TNI Untung.

“Khusus di ruangan Pak Harto ini kan mencerminkan penumpasan pemberontakan G30SPKI di markasnya,” ungkap Gatot.

Dalam diorama tersebut selain menggambarkan adegan pak Harto dan Pak Sarwo, ada juga Jenderal TNI Nasution, yang saat itu dia duduk di sofa dan kakinya berada di meja dan dibalut usai melarikan diri karena lompat ke tembok ketika rumahnya diserbu oleh pasukan Cakrabirawa.

Cakrabirawa merupakan bagian dari unit pasukan yang diperintahkan untuk menculik dan membunuh sejumlah Jenderal yang kemudian kita kenal sebagai Pahlawan Revolusi.

Selain diorama itu, yang juga hilang kata Gatot Nurmantyo adalah Patung Pahlawan Revolusi.

“Mengapa saya sampaikan ini? untuk mengingatkan bahwa indikasi-indikasi seperti ini apabila dibiarkan, maka peristiwa kelam seperti tahun 65, bisa terjadi lagi. Betapa menyakitkan, karena yang jadi korban rakyat juga,” tegasnya.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: