Sabtu , September 18 2021

Ironi Negeriku; Pejabat Negara Tambah Kaya di Tengah Rakyat Kian Susah


Oleh : Alfiah, S.Si

Pandemi membuat penghasilan menurun atau bahkan kehilangan pekerjaan ternyata tidak berlaku untuk pejabat negara. Kekayaan pejabat penyelenggara negara ternyata mengalami kenaikan selama pandemi Covid-19. Bahkan, berdasarkan catatan Komisi Pemberantasan Korupsi, jumlah pejabat negara yang hartanya mengalami kenaikan mencapai 70,3 persen. Wow, luar biasa.

Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan mengungkapkan, kenaikan harta para pejabat itu diketahui setelah pihaknya melakukan analisa terhadap Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) selama setahun terakhir. Dalam paparan yang disampaikan bertajuk “Sibuk Berjibaku dengan Pandemi, Apa Kabar Aset Pejabat Negara”, Pahala mengungkap, ada 58 persen menteri yang kekayaannya bertambah lebih dari Rp 1 miliar. Sementara, 26 persen menteri kekayaannya bertambah kurang dari Rp 1 miliar.

Di sisi lain, 45 persen kekayaan anggota DPR bertambah lebih dari 1 miliar. Hanya 38 persen anggota Dewan yang melaporkan kekayaannya bertambah kurang dari Rp 1 miliar dan 11 persen lainnya justru melaporkan berkurang. Lantas bagaimana kekayaan orang nomor satu di negeri ini? Dalam setahun terakhir, harta kekayaan Jokowi naik sekitar Rp 8,9 Miliar !

Tak hanya naik di tingkat pusat, Komisi Antirasuah juga mencatat kenaikan harta kekayaan pejabat daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Namun, hanya 30 persen gubernur dan wakil gubernur yang melaporkan kekayaannya bertambah di atas Rp 1 miliar. Sementara, 40 persen lainnya melaporkan kekayaannya bertambah kurang dari Rp 1 miliar. Sementara itu, ada 18 persen bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota yang melaporkan kekayaannya bertambah di atas Rp 1 miliar.

Aneh memang, di tengah rakyat kian susah akibat pandemi dan diterapkannya sistem kapitalis, para pejabat justru tambah kaya. Padahal, kita menyaksikan ribuan pekerja di phk, meningkatnya mahasiswa putus kuliah, gaji honorer yang tak kunjung cair, penggusuran rumah rakyat demi korporat dan berbagai ketidakadilan lain. Beginilah model distribusi kesejahteraan ala oligarki korporasi. Harta para pejabat kian meningkat, sementara rakyat kian melarat.

Malulah kalian wahai para pejabat kepada Khalifah Umar bin Khattab ra…

Adalah Khalifah Umar bin Khattab ra. Pada masanya mampu menghantarkan Khilafah (Negara Islam) pada saat itu menjadi negara yang super power. Kedigdayaan Persia, Romawi, dan Mesir terpaksa harus berakhir dan tunduk di bawah kepemimpinan Beliau. Untuk membuat istana megah, baju yang mewah dan tumpukan harta yang berlimpah mudah saja jika Beliau mau. Tapi ternyata itu semua tidak dilakukannnya.

Beliaulah satu-satunya khalifah, amirul mukminin, yang mempunyai jubah hanya dua buah, bahkan jubah yang satunya adalah milik anaknya. Umar bin Khattab pernah terlambat saat shalat Jumat, beliau naik mimbar untuk khutbah namun meminta maaf sebelumnya karena ia harus menunggu bajunya kering.

Kisah kekaguman bangsa-bangsa besar di dunia terhadap kesederhanaan Khalifah Umar bin Khattab diceritakan oleh Maulana Jalaluddin Rumi dalam karyanya Al-Matsnawi. Rumi mengisahkan bahwa pada suatu ketika seorang penasihat kekaisaran Byzantium dari Konstantinopel datang untuk menghadap Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.

Penasihat itu adalah seorang filsuf, cendekiawan, dan negarawan terkemuka. Setelah memasuki Madinah, utusan dari Byzantium itu merasa heran karena tidak melihat adanya istana kekhalifahan. Ia lalu bertanya kepada salah seorang penduduk Madinah.

“Di manakah istana raja kalian?,” tanya sang utusan.

Orang yang ditanya oleh ksatria Byzantium itu hanya tersenyum, dan menjawab: “Raja kami tidak memiliki istana megah, karena istana termegahnya adalah hati dan ruhnya sendiri yang senantiasa diterangi oleh cahaya takwa.”

Utusan kekaisaran Byzantium itu merasa heran. Ia lalu kembali bertanya.

“Lalu di manakah raja kalian yang namanya kini tersohor itu, penakluk dua benua, penakluk dua imperium, Persia dan Byzantium itu?” tanya sang utusan.

“Tidakkah tadi engkau sadar, di bawah pohon kurma yang baru saja kau lewati itu, seorang lelaki tengah memandikan dan memberikan makan kepada seekor unta?” kata seorang penduduk Madinah.

“Mengapa memang?” tanya sang utusan semakin penasaran. “Itulah sang khalifah dambaan kami, Umar ibn Khattab. Ia tengah memberi makan dan memandikan unta milik baitul mal, milik anak-anak yatim, dan para janda.”

Utusan itu kemudian tergetar. Ia benar-benar telah melihat sesosok raja besar yang sangat bersahaja.

Demikianlah sekelumit kehidupan Khalifah Umar ra. yang bersahaja. Masih banyak fakta yang mengagumkan dari kehidupan Beliau.

Jika dibandingkan dengan para pemimpin negeri ini amat jauh panggang dari api. Indonesia, negara dengan utang luar negeri yang menembus 6000 T lebih, kekayaan sumber daya alamnya banyak dikuasai asing, kemiskinan dan pengangguran meningkat, ternyata pejabatnya masih bisa meningkatkan kekayaan sampai ratusan bahkan milyaran dalam setahun!***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: