Sabtu , September 18 2021

Mengakhiri Mental ‘Selokan’

Warga rela masuk ke selokan demi mendapatkan kaos yang dilempar Jokowi.

Oleh : Alfiah, S.Si

Tampaknya aksi main lempar bingkisan sangat dinikmati oleh pemimpin negeri ini. Senang menyaksikan rakyat berebut bantuan meski harus terjun ke selokan.

Sungguh ironis! Pandemi sukses membuat rakyat bermental ‘selokan’. Pun pemimpin negeri ini tampaknya memelihara tontonan ini demi sebuah pencitraan. Padahal pemberian bantuan bisa dilakukan oleh skala RT. Sungguh amat disayangkan, kemiskinan seolah menjadi objek lakon yang mengasyikkan.

Cukuplah sudah cara-cara tak etis dalam pemberian bantuan ke rakyat. Seyogyanya yang dibutuhkan rakyat adalah pelayanan urusan rakyat yang murah bahkan gratis. Pendidikan yang murah dan berkualitas, pelayanan kesehatan yang prima dan tak memandang kelas, sembako dan bbm terjangkau. Itulah sebenarnya yang dibutuhkan.

Pemberian bingkisan saat kunjungan apalagi menimbulkan kerumunan sangat kontradiktif dengan semangat pencegahan wabah. Harusnya dipilih cara yang lebih etis dan beradab dalam menyenangkan hati rakyat. Tak perlu berkoar-koar akan ada bantuan yang diberikan. Toh yang diberi jumlahnya terbatas. Apa tidak lebih baik door to door menyampaikan bantuan kepada yang benar-benar membutuhkan? Sungguh, jatuhnya pemberian ke selokan cukup menghinakan tak hanya bagi yang menerimanya tapi juga yang memberi.

Belajarlah dari Khalifah Umar bin Khattab ra.

Khalifah Umar bin Khattab ra. menjadi khalifah sepeninggalan Abu Bakar RA. Dia merupakan sosok pemimpin yang sangat peduli terhadap rakyatnya.

Dikutip dari buku ‘The Khalifah’ karya Abdul Latif Thalib, di suatu malam Umar mengajak asistennya Aslam melakukan ronda keliling kota. Umar melihat sebuah pondok dengan kompor yang menyala di tengah jalanan yang sepi. Umar juga mendengar suara anak-anak yang menangis dari pondok tersebut.

Amirul Mukminin kemudian pergi ke pondok tersebut untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Umar melihat seorang ibu yang terlihat memasak sesuatu di tengah pondok dikelilingi anak-anak yang menangis. Umar kemudian mengetuk pintu pondok dan bertanya penyebab anak-anak tersebut menangis. Umar juga bertanya makanan yang sedang dimasak ibu tersebut untuk anak-anaknya

Ibu tersebut menjawab anak-anaknya menangis karena lapar. Di dalam panci yang dimasak sebetulnya adalah air dan batu. Sang ibu berharap anak-anaknya lelah menunggu masakan matang hingga akhirnya tertidur. Semua bahan makanan yang ada dalam rumah tersebut sudah habis, hingga dia dan anak-anaknya kelaparan selama tiga hari belakangan.

Umar bin Khattab kemudian segera ke Baitul Mal dan mengambil bahan makanan yang diperlukan ibu dan anak-anaknya. Sang khalifah membawa dan memberikan sendiri bahan makanan pada keluarga tanpa bantuan Aslam. Umar kemudian masuk ke dalam pondok dan membantu sang ibu memasak untuk anak-anaknya. Makanan tersebut kemudian diberikan pada anak-anaknya hingga tak lagi merasa lapar.

Dalam buku ‘Umar Ibn Al-Khattab His Life and Times Vol. 1 juga disebutkan, kekeringan dan kelaparan parah sempat terjadi pada tahun ke 18 setelah hijrah. Tahun ini disebut Ar-Ramadah karena angin menerbangkan debu seperti abu atau Ar-Ramad. Bencana ini mengakibatkan kematian hingga hewan-hewan ikut merasakan dampaknya.

Umar yang merasa bertanggung jawab melakukan berbagai usaha untuk membantu rakyatnya, termasuk mendistribusikan makanan dari Dar Ad-Daqeeq. Makanan dari institusi yang menangani kebutuhan logistik masyarakat tersebut, Umar bagikan sendiri untuk masyarakat yang membutuhkan. Umar bin Khattab juga berdoa memohon pengampunan dan rizki dari Allah SWT, hingga akhirnya turun hujan dan mengakhiri bencana tersebut.

Demikianlah hendaknya pemimpin. Tak perlu testimoni, tak perlu puja puji terhadap kepemimpinan rakyatnya. Fakta yang berbicara apakah pemimpin sukses mengentaskan kemiskinan. Sejarah pasti akan mencatat seorang pemimpin berhasil mensejahterakan rakyat. Mental ‘selokan’ tak akan terjadi jika adab dijunjung tinggi. ***

Penulis seorang pemerhati masalah sosial

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: