Rabu , Oktober 20 2021

Toleransi Itu Membiarkan Bukan Menyamakan

Pangkostrad) Letnan Jenderal (Letjen) TNI Dudung Abdurachman.

Oleh : Alfiah, S.SI

Akhir-akhir ini isu-isu radikalisme dan fanatisme tampaknya terus digoreng dan dibenturkan dengan Pancasila dan NKRI. Pernyataan-pernyataan para tokoh dan pejabat negeri yang mengaku paling pancasilais seolah mengkonfirmasi bahwa orang yang taat dengan agamanya, konsisten menjalankan syariat, memahami bahasa arab adalah benih radikalisme yang harus diwaspadai.

Adalah Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman ketika melaksanakan kunjungan kerja ke Batalyon Zeni Tempur (Yon Zipur) 9/Lang-Lang Bhuana Kostrad di Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Senin (13/9/2021) memberikan pesan yang berbahaya.

Salah satu pesannya kepada prajurit TNI, Dudung meminta mereka menghindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama.

Ia menyatakan “bijaklah dalam bermain media sosial sesuai dengan aturan yang berlaku bagi prajurit. Hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama. Karena semua agama itu benar di mata Tuhan,”.

Sontak saja ucapannya langsung direspon oleh para ulama. Pengasuh Ponpes Ribath Nurul Anwar Sragen, KH Wafi Maimun Zubair, meminta klarifikasi terkait pernyataan Panglima Komando Staretgis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen Dudung Abdurachman. Gus Wafi, sapaan akrabnya, menyebut, Tuhan tidak pernah membenarkan semua agama.

Putra almarhum KH Maimun Zubair tersebut meminta kepada semua pejabat negara untuk berhati-hati jika berbicara di depan publik membawa nama Tuhan. “Karena pesan dari Tuhan tidak disampaikan secara sembarangan dan lewat orang sembarangan. Tapi melalui kitab suci dan rasul utusan.”

Menurut Mursyid Thoriqoh Syadziliah tersebut, loyalitas dan militansi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak akan luntur dengan keimanan yang tinggi terhadap Tuhannya. Justru, sambung dia, kepercayaan yang tinggi kepada Tuhan menjadi modal dasar untuk meningkatkan integritas dan profesionalitas prajurit TNI.

Bahkan menurut ulama nasional, K.H. Rochmat S. Labib, pandangan yang menganggap semua agama sama adalah membahayakan akidah. Allah SWT berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 83—85, yang artinya : Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya; dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri.” Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Dari ayat di atas jika ditanyakan apakah semua agama sama, sudah jelas di mata Tuhan tidak sama.

Benarlah ucapan Ketua MUI KH Cholil Nafis “bagi kami umat Islam yang benar adalah hanya agama Islam”.

Kita wajib meyakininya agar iman menancap di hati. Namun dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara memang harus bertoleransi kepada umat beragama lain. Yang sama jangan dibeda-bedakan apalagi dipertentangkan dan yang memang beda jangan disama-samakan. Namun, kita tetap harus saling memaklumi, menghargai dan membiarkan umat agama lain menjalankan ibadahnya. Begitulah makna toleransi.***

Penulis adalah pemerhati masalah sosial

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: