Kamis , Desember 2 2021

Biaya Membengkak, Tarif Kereta Cepat Jakarta-Bandung Belum Diputuskan

Anggaran proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membengkak dari Rp86 triliunan menjadi Rp114 triliunan.

Jakarta (Riaunews.com) – PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) belum memutuskan tarif tiket kereta cepat Jakarta-Bandung usai terjadi pembengkakan biaya proyek. Pasalnya, perusahaan masih mempertimbangkan sejumlah aspek seperti permintaan dan penawaran.

“Termasuk juga aspek keterjangkauan dan ekonomi masyarakat, sehingga kami belum bisa memberikan komentar lebih jauh,” kata GM Corporate Secretary KCIC Mirza Soraya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/10/2021).

Pihaknya menyampaikan jarak menjadi salah satu faktor perhitungan tarif perjalanan. Nantinya, tarif akan ditentukan oleh perjalanan baik secara langsung dari Jakarta menuju Bandung, maupun berhenti di stasiun lainnya.

KCIC akan berpedoman dengan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 17 Tahun 2018 untuk menentukan tarif angkutan perorangan dengan transportasi kereta api.

Hingga saat ini, Mirza mengatakan masih belum membahas subsidi tiket perjalanan dengan pemerintah. Penentuan tarif kini masih digodok oleh tim konsultan dari Polar UI.

Selanjutnya, Mirza menegaskan proyek ambisius ini akan tetap beroperasi sesuai target pada akhir tahun depan.

“Fokus kami saat ini melakukan percepatan pembangunan di berbagai aspek. Target operasional kereta cepat Jakarta-Bandung hingga saat ini masih sama yakni akhir tahun 2022,” ujarnya.

Untuk sistem pembelian tiket, KCIC akan membuka sejumlah opsi bagi masyarakat agar dapat dengan mudah mengakses kereta cepat. Mirza mengatakan tiket kereta cepat dapat dibeli secara langsung maupun cashless melalui – di setiap stasiun.

Masyarakat juga dapat mengakses tiket melalui website hingga aplikasi KCIC. Pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan Online Travel Agent (OTA) sebagai penyalur tiket ke depan.

Sebelumnya, biaya pembangunan KCIC membengkak dari semula Rp86,67 triliun menjadi Rp114,24 triliun. Dana tambahan yang dikucurkan berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada konsorsium BUMN.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: