Rabu , Oktober 27 2021

Inggris Disebut Krisis BBM, WNI di London Malah Bingung

Antrian BBM terjadi di sejumlah SPBU di Inggris.

London (Riaunews.com) – Salah satu warga negara Indonesia (WNI) di Inggris, Muhammad Fahmi Ardi, mengaku bingung negara itu disebut mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM).

Sejumlah media di Inggris, Amerika Serikat, termasuk di Indonesia memberitakan soal krisis BBM beberapa hari terakhir.

Penyebabnya disebut-sebut karena kebijakan Pemerintah Inggris hengkang dari Uni Eropa atau dikenal Britania Exit (Brexit) hingga aksi panik beli (panic buying) oleh masyarakat.

Kebijakan itu membuat Inggris kekurangan tenaga kerja murah sebagai supir truk BBM dari luar negaranya, terutama dari Eropa. Pasokan BBM ke SPBU pun terhambat sehingga antrean di sana mengular dalam beberapa hari terakhir.

Tak hanya itu, salah satu perusahaan migas Inggris menginformasi nyaris satu per tiga stasiun pengisian BBM kehabisan dua jenis BBM standar pada Ahad (26/9/2021). Kekosongan terjadi akibat aksi kepanikan pembelian (panic buying) yang melanda masyarakat.

“Dengan permintaan yang besar terlihat selama dua hari terakhir, kami memperkirakan sekitar 30 persen dari jaringan (pengisian BBM) saat ini tidak memiliki bahan bakar kelas utama,” ujar BP dalam sebuah pernyataan dikutip dari Reuters, Selasa (28/9/2021).

Meski demikian, Fahmi yang sudah tinggal lebih dari lima tahun tinggal di London tak melihat tanda-tanda nyata krisis BBM di negara itu.

Ia nyaris tidak melihat antrean kendaraan di sejumlah SPBU akibat suplai BBM tersendat, apalagi gelagat panic buying dari masyarakat di Inggris.

“Kehidupan sehari-hari berjalan seperti normal saja. Saya juga bingung jika ada pemberitaan soal krisis BBM. Saya rasa seperti terlalu dibesar-besarkan,” ujar Fahmi saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Dalam beberapa hari terakhir, ia hanya sesekali melihat antrean kendaraan di SPBU. Tepatnya ketika ia tengah berada di Cornwall County, sekitar 445 kilometer sebelah barat daya London.

“Mungkin saya lihat di perjalanan ada antrean SPBU di sana (Cornwall). Tapi itu juga antreannya tidak begitu panjang. Tidak terlihat mencolok kalau memang antrean itu karena krisis BBM,” tutur Fahmi.

Sementara terkait panic buying, ia mengaku belum menjumpai aksi borong barang-barang oleh warga di sejumlah perbelanjaan atau minimarket.

“Beda jika dibandingkan dengan awal-awal lockdown di sini, benar-benar terlihat ada panic buying oleh para warga. Sekarang biasa-biasa saja setiap kali saya belanja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Fahmi mengatakan tak ada pembicaraan serius di antara para warga London, termasuk rekan-rekan kerja dan tetangganya soal krisis suplai BBM.

Berbeda dengan ketika Brexit, diskusi dan perdebatan kerap ia dapati di antara para warga Inggris.

“Saya juga lihat berita-berita di sini soal suplai BBM sempat tersendat. Tapi berita-beritanya biasa saja. Tidak jadi kehebohan di sini,” tutur Fahmi.

Tenaga profesional di perusahaan arsitektur lanskap London itu pun menduga karena masyarakat di Inggris tak langsung bergantung dengan suplai BBM, terutama di sektor privat.

“Mungkin karena di sini (Inggris) aktivitas keseharian tak begitu mengandalkan kendaraan pribadi seperti di kota-kota besar di Indonesia.”

“Warga di sini tentu punya mobil, tapi biasanya digunakan hanya untuk perjalanan jauh misalnya ketika liburan. Untuk bekerja, di sini juga sudah terbiasa menumpang transportasi publik. Layanan itu juga sejauh ini lancar-lancar saja di sini (London),” ungkap Fahmi.

Ia melanjutkan, mayoritas warga di Inggris juga sudah terbiasa bersepeda dalam aktivitas keseharian mereka. Beda halnya dengan kota-kota besar di Indonesia, banyak warga masih mengandalkan kendaraan roda dua yang membutuhkan BBM.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: