Sabtu , November 27 2021

Media Malaysia Ejek Indonesia Ciut dari China di Laut Natuna Utara

Kapal induk milik China di perairan Laut Natuna Utara. (Foto: Reuters via Pikiran Rakyat)

Kuala Lumpur (Riaunews.com) – Negeri Jiran Malaysia memberi sindiran pedas untuk Indonesia terkait kondisi di Laut Natuna Utara.

Baru-baru ini media Malaysia soroti penggunaan kapal China oleh pihak Indonesia di Laut Natuna Utara saat sengketa masih terjadi.

Sebagaimana dilansir laman Pikiran Rakyat, Meski tengah hadapi ancaman kuat dari China atas kepemilikan zona Laut Natuna Utara, salah satu perusahaan Indonesia menyewa kapal milik Beijing.

Tak hanya itu, Malaysia juga menyoroti sikap Indonesia yang ‘diam’ saat kapal milik China mondar-mandir di zona Laut Natuna Utara.

Saat Malaysia langsung menyikapi tindakan China yang memasuki wilayah mereka, Indonesia malah berdiam diri tak beri perlawanan.

Tak cuma sikap Indonesia yang dianggap diam saja, media Malaysia juga menyindir soal keanehan yang terjadi di Laut Natuna.

Beri sindiran pedas, meski terancam oleh keberadaan kapal milik China,perusahaan migas Indonesia, PT Medco Energi masih menyewa kapal pemboran milik perusahaan China untuk mengebor minyak dan gas di Blok B di laut Natuna Utara.

Kapal pemboran Deepblue Explorer (Shen Lan Tan Suo) milik perusahaan China Oilfield Services Limited terdeteksi sedang ditarik ke Laut Natuna untuk melakukan pekerjaan atas nama PT Medco Energi.

Namun, rig pengeboran perusahaan China tersebut tidak merambah perairan Indonesia di Laut Natuna seperti yang dilakukan kapal penjaga pantai, karena rig pengeboran China sebenarnya dikontrak oleh perusahaan Indonesia sendiri.

Kesepakatan antara perusahaan China dan Indonesia itu ditandatangani Juni lalu.

Anehnya, Indonesia menggunakan keahlian dari negara-negara yang merambah perairannya,” tulis Defence Security Asia dalam artikelnya pada 27 Oktober 2021.

Di akhir artikel disebutkan “kapal Haiyang Dizhi akhirnya meninggalkan perairan ZEE Indonesia di Laut Natuna beberapa hari yang lalu, kapal Dayang Hao juga meninggalkan perairan ZEE Malaysia”.

Sementara itu, upaya Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan untuk membungkam isu keberadaan kapal China di Laut Natuna dengan mengatakan bahwa negara itu menghormati kebebasan navigasi di Laut Natuna telah dikritik oleh beberapa pihak.

Mereka mengatakan Indonesia menghadapi risiko kehilangan haknya jika tidak segera memprotes kehadiran kapal China di Laut Natuna.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: