Kamis , Desember 2 2021

Mengakhiri Polemik Nama Jalan Ataturk

Mustafa Kemal Ataturk

Oleh : Alfiah, S.Si

PEPATAH pernah mengatakan apalah arti sebuah nama?, yang ternyata diambil dari cuplikan dialog dalam novel romantis Romeo dan Julliet karya William Shakespeare.

Dalam dialog tersebut Julliet mengatakan nama tidak akan mengubah siapa dia, apalah arti sebuah nama apabila nama itu menimbulkan perselisihan.

Namun tampaknya pepatah itu tak berlaku untuk penamaan salah satu jalan di daerah Menteng, Jakarta dengan nama tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk.

Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah harusnya dipahami oleh para petinggi negeri ini. Sebelum memberikan nama jalan dengan tokoh sejarah Turki, Mustafa Kemal Ataturk, sebaiknya diketahui dulu secara obyektif dan menyeluruh siapa Mustafa Kemal Ataturk.

Bagaimana sepak terjangnya, kontribusi positif apa yang dia berikan untuk negara, bahkan bagaimana akhir kehidupannya.

Seperti yang ramai diberitakan bahwa Duta Besar Republik Indonesia di Ankara, Muhammad Iqbal, mengatakan Indonesia berencana mengganti nama salah satu jalan di daerah Menteng dengan nama tokoh sekuler Turki, Mustafa kemal Ataturk.

Sontak saja rencana ini menuai protes dari berbagai kalangan. Hal ini wajar karena Mustafa Kemal Ataturk tercatat dalam sejarah sebagai tokoh sekuler anti Islam dan juga tokoh yang paling bertanggung jawab terhadap runtuhnya Khilafah Utsmani.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menolak rencana pemerintah mengganti nama salah satu jalan di Jakarta dengan nama tokoh sekuler sekaligus pendiri Turki modern, Mustafa kemal Ataturk.

Menurutnya Mustafa Kemal adalah orang yang pemikirannya sesat dan menyesatkan. Anwar juga menyatakan bahwa Ataturk merupakan seorang tokoh yang telah mengacak-acak ajaran Islam. Ia menilai banyak hal yang sudah dilakukan Ataturk bertentangan dengan ketentuan yang ada dalam Alquran dan sunah.

Anwar mengatakan langkah yang dilakukan Ataturk demi menjadikan Turki menjadi negara maju dengan cara menjauhkan rakyat dari ajaran agama Islam.

Penolakan datang juga dari DPR. Anggota DPR RI Fadli Zon meminta kepada pemerintah untuk mengganti nama Kemal Ataturk dengan Fatih Sultan Mehmet II. Sebagai solusi untuk menjaga hubungan baik dengan Turki.

Sejarah mencatat Mehmed Sang Penakluk adalah penguasa Utsmani ketujuh yang berkuasa pada 1444 hingga 1446 dan 1451 hingga 1481. Dia terkenal karena berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 29 Mei 1453. Konstantinopel kini bernama Islambul atau Istanbul, ibukota Khilafah Utsmani sebelumnya.

Tentu saja langkah pemerintah yang hendak mengabadikan nama Ataturk sebagai nama jalan di negeri ini sama dengan menyakiti hati umat Islam Indonesia. Jika pemerintah ingin memberi nama tokoh Turki untuk nama jalan di negeri ini, pilihlah tokoh yang punya andil positif untuk negeri ini.

Jejak mereka bisa ditemukan dengan menggali sejarah yang hilang, sejarah yang coba dikaburkan dan dikuburkan. Jadilah seolah-olah tidak ada kaitan antara Turki Utsmani dengan nusantara.

Padahal sungguh ratusan tahun yang lalu sudah ada hubungan yang erat antara Turki Utsmani dengan negeri ini.

Jadi kalau pemerintah masih ‘ngotot’ memberikan nama jalan Mustafa Kemal Ataturk, sungguh terlalu!!***

Penulis seorang pegiat literasi

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: