Kamis , Desember 2 2021

Mengenal Ibunda Bung Karno, Ida Ayu Nyoman, Bangsawan dari Bali

Ibunda Bung Karno, Ida Ayu Nyoman Rai. (Foto: Kintamani)

Pekanbaru (Riaunews.com) – Salah satu anak perempuan Presiden Pertama RI Soekarno, Sukmawati, sedang menjadi perbincangan hangat dan disorot pemberitaan media saat sekarang.

Penyebabnya adalah karena saudari kandung Ketua Umum PDIP Megawati ini mengatakan bahwa dirinya akan pindah keyakinan ke Agama Hindu.

Pelaksanaan ritual pindah agama Sukmawati akan digelar di Kawasan Sukarno Center Heritage di Bale Agung Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Selasa (26/10/2021) mendatang.

Menurut Kepala Sukarno Center di Bali Arya Wedakarna sekaligus penanggung jawab acara, pindahnya Sukmawati ke Agama Hindu merupakan haknya untuk bisa kembali ke agama leluhurnya. Karena, menurutnya nenek Sukmawati yakni Ida Ayu Nyoman Rai Srimben asal Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, dan beragama Hindu.

Mengutip laman Kintamani.id, ibunda dari Bung Karno merupakan seorang wanita keturunan bangsawan dari Pulau Bali. Beliau memiliki nama lengkap Ida Ayu Nyoman Rai dengan nama kecil Idayu.

Ida Ayu Nyoman Rai tercatat lahir sekitar tahun 1881 di Kota Buleleng, Bali. Beliau menjadi anak kedua dari pasangan suami istri Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Oleh kedua orang tuanya, Idayu memiliki nama panggilan Srimben yang memiliki arti limpahan rezeki yang menjadi sumber kebahagiaan dari Bhatari Sri.

Tidak seperti Bung Karno, Ida Ayu Nyoman Rai merupakan wanita Bali yang lahir dengan agama Hindu. Bahkan, beliau merupakan wanita keturunan bangsawan, tepatnya dari kasta brahmana. Menurut adat istiadat yang ada di Bali, mereka yang berasal dari kasta brahmana tidak diperbolehkan untuk menikah dengan seseorang dari kasta yang lebih rendah.

Namun, situasi yang terjadi malah begitu kontras dengan aturan adat istiadat. Alih-alih menikah dengan bangsawan Bali, Ida Ayu Nyoman Rai ternyata menjadi pasangan resmi dari Raden Soekemi Sosrodiharjo yang tak lain adalah ayah kandung Bung Karno. Perkenalan keduanya diawali dengan pengenalan oleh Made Lastri yang merupakan sahabat Nyoman Rai kepada Soekemi.

Sontak, hal ini menjadi peristiwa yang begitu kontroversial di Bali. Tidak hanya menikah dengan orang yang bukan dari kasta sama atau lebih tinggi, Ida Ayu Nyoman Rai malah menjalin hubungan asmara dengan orang luar Bali. Bahkan, Soekemi bukanlah penganut agama Hindu, melainkan seorang muslim yang taat. Oleh karena itu, tidak heran kalau pernikahan keduanya mendapatkan penolakan dari kedua orang tua Nyoman Rai.

Menghadapi situasi yang serba sulit seperti itu, keduanya ternyata memutuskan tetap untuk menikah. Sebagai imbasnya, Ida Ayu Nyoman Rai menikah dengan Soekemi tanpa persetujuan kedua orang tua. Alhasil, Nyoman Rai tidak diperbolehkan untuk membawa benda apapun yang bersumber dari keluarganya. Gelar bangsawan yang dimilikinya pun terhapus.

Soebagijo IN lewat buku Bung Karno, Anakku menyebutkan bahwa penghapusan gelar bangsawan serta larangan membawa benda apapun dari keluarga merupakan bentuk hukuman yang harus diterima Nyoman Rai. Beliau ternyata menerima semua itu dengan lapang dada. Bahkan, kedua orang tua Bung Karno ini akhirnya secara resmi menikah pada tanggal 15 Juni 1887 di Bali.

Hal yang cukup menarik lagi dari sosok ibunda Bung Karno adalah fakta mengenai darah keturunan Kerajaan Singaraja yang ada dalam tubuhnya. Fakta ini tertuang dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis oleh Cindy Adams. Di situ, dia mengungkapkan bahwa Ida Ayu Nyoman Rai merupakan keturunan terakhir dari Raja Singaraja.

Cindy Adams menuliskan bahwa modal darah Raja Singaraja itulah yang menjadikan Soekarno punya mental pejuang. Apalagi, kakek moyang Soekarno merupakan sosok yang berpartisipasi langsung dalam Perang Puputan melawan penjajah.

Sosok pejuang ini juga dimiliki oleh Ida Ayu Nyoman Rai. Hal itu dibuktikan dengan kemarahannya ketika melihat para pejuang muda yang tidak melakukan pergerakan apapun saat melihat kedatangan penjajah.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: