Kamis , Desember 2 2021

Tokoh Sekuler Dijadikan Nama Jalan, Menyakiti Umat Muslim

 

Oleh: Khadijah Nelly, M.Pd.
Akademisi dan Penulis

 

Rencana nama tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk, dijadikan nama jalan di DKI Jakarta menuai kontroversi. Sebelumnya, Duta Besar Republik Indonesia di Ankara, Muhammad Iqbal, mengatakan Indonesia berencana mengganti nama salah satu jalan di daerah Menteng dengan nama Mustafa kemal Ataturk. Menurut Ikbal sudah meminta komitmen dari pemerintah DKI Jakarta untuk pemerintah memberikan nama jalan dengan founding fathernya Turki di Jakarta,” kata Iqbal dalam acara Ngopi Virtual, Jumat (15/10).

Sementara itu Ataturk sendiri dikenal sebagai pelopor sekularisasi di dunia Islam, hal ini terang saja mendapat penolakan terhadap sosok Mustafa Kemal Ataturk untuk dijadikan nama jalan di Jakarta yang terus datang dari berbagai kalangan. Salah satunya tanggapan dari penasihat Fraksi PKS DPRD DKI, Abdurrahman Suhaimi, yang menolak nama Mustafa Kemal jadi nama jalan di Jakarta sebagai timbal balik adanya nama Jalan Sukarno di Turki. Menurutnya bila tak ada nama lain, lebih baik memakai nama pahlawan lokal. Banyak pahlawan negeri ini yang bisa dijadikan nama jalan, banyak pejuang kemerdekaan yang luar biasa dari negeri sendiri yang bisa dijadikan nama jalan. Maksudnya daripada diambil juga yang tidak jelas, seperti tokoh sekuler (Mustafa Kemal Ataturk).

Menurut Suhaimi, masih banyak pahlawan Turki yang layak untuk dijadikan nama jalan, sebut saja Sultan Mehmet II atau sering disebut Muhammad Al-Fatih. Al-Fatih merupakan tokoh Islam sentral saat itu yang berhasil menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun. Muhammad Al-Fatih, jelas sebagai pejuang bagi dunia Islam dan umat muslim. Selain itu, Sekretaris Fraksi PKS DKI Jakarta, Achmad Yani, juga turut menolak dengan tegas Mustafa Kemal dijadikan nama jalan. Lebih baik menggunakan nama jalan mengambil dari nama para pahlawan Indonesia yang sudah jelas pengorbanannya untuk membela negara Indonesia. Hal ini sebagai penghargaan kepada para pahlawan dalam negeri atas jasa-jasanya. (Kumparannews Senin, 18/10).

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas yang dilansir dari cnnindonesia.com, 17/10/2021 yang menolak rencana pemerintah mengganti nama salah satu jalan di Jakarta dengan nama tokoh sekuler sekaligus pendiri Turki modern, Mustafa kemal Ataturk. Anwar Abbas mengatakan bahwa Mustafa Kemal Ataturk ini adalah seorang tokoh yang kalau dilihat dari fatwa MUI adalah orang yang pemikirannya sesat dan menyesatkan. Sebagaimana diketahui bahwa MUI sendiri pernah mengeluarkan fatwa tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama pada 2015 lalu.

Fatwa itu pada intinya menyatakan bahwa Pluralisme, Sekularisme, dan Liberalisme agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Anwar mengklaim bahwa Ataturk merupakan seorang tokoh yang telah mengacak-acak ajaran Islam. Ia menilai banyak hal yang sudah dilakukan Ataturk bertentangan dengan ketentuan yang ada dalam Alquran dan sunnah. Ataturk ini adalah seorang tokoh yang sangat sekuler, yang tidak percaya ajaran agamanya akan bisa menjadi solusi dan akan bisa membawa Turki menjadi negara maju. Lebih lanjut, Anwar mengatakan langkah pemerintah yang hendak mengabadikan nama Ataturk sama dengan menyakiti hati umat Islam Indonesia. Ia menegaskan bahwa Indonesia menjunjung nilai agama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu menurutnya kalau pemerintah tetap akan mengabadikan namanya menjadi salah satu nama jalan di Ibukota Jakarta hal itu jelas merupakan sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak arif serta jelas-jelas akan menyakiti dan mengundang keresahan di kalangan umat Islam.

Ya, jelas saja adanya penolakan dari umat Islam dan para tokoh tersebut sangat beralasan, sebab Mustafa Kemal Ataturk memang dikenal sebagai salah satu pemimpin Turki yang mengubah sistem pemerintahan Turki dari kesultanan Islam menjadi sekuler yang jauh dari agama. Dan Mustafa Kemal Attaturk inilah tokoh sentral keruntuhan sistem Islam di Turki. Menyadur dari tulisan Herman Anas, alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep Madura dalam laman Hidayatullah.com, bahwa dalam perjuangannya, Mustafa Kemal banyak bekerja sama dengan negara Eropa untuk mewujudkan keinginan mereka menghilangkan kekhalifahan. Puncaknya apa yang terjadi pada tahun 1909 H, dengan dalih gerakan mogok massal, organisasi Persatuan dan Kesatuan berhasil memasuki Istambul, menyingkirkan Khalifah Abdul Hamid II dan melucutinya dari pemerintahan dan keagamaan tinggal menjadi simbol belaka.

Tidak cukup itu, pada 3 Maret 1924, badan legislatif mengangkat Mustafa Kamal sebagai presiden Turki dan membubarkan khilafah Islamiyah. Mustafa Kemal Attaturk bertindak radikal guna menghancurkan peradaban Islam. Mustafa, sebagai Presiden Republik Turki yang sekuler, bertindak diktator dalam menjalankan pemerintahan. Ia menetapkan ideologi Negara menganut paham sekularisme. Atas dasar ideologi Negara ini, dia mengumumkan akan mengambil langkah-langkah kebijaksanaan untuk mencapai cita-citanya demi kepentingan Negara Turki Sekuler.

Di antaranya ia mengambil langkah; menghapus syariah Islam dan tidak ada lagi jabatan kekhalifahan, mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum Italia, Jerman, dan Swiss, menutup beberapa masjid dan madrasah, mengganti agama Negara dengan sekularisme, mengubah azan ke dalam bahasa Turki, melarang pendidikan agama di sekolah umum, melarang kerudung bagi kaum wanita dan pendidikan terpisah, mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan bahasa Roma, pengenalan pada kode hukum Barat, pakaian, kalender, serta Alfabet, mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf Latin.

Akibat ulah Mustafa Kamal, pemaksaan ini akhirnya menjadikan Turki sebagai Republik Sekuler yang sangat anti terhadap dakwah Islam. Ciri Islam di Turki hampir – hampir hilang sama, sehingga kaum Muslimin kesulitan menemukan jejak peradaban Islam di tanah Turki. Sesaat berkuasa, Kemal Attaturk pernah menggantung tiga puluh ulama. Ia mengatakan, “Ketahuilah, saya dapat membuat negara Turki menjadi negara demokrasi bila saya dapat hidup lima belas tahun lagi. Tetapi jika saya mati sekarang, itu akan memerlukan waktu tiga generasi,” begitulah Kamal Attaturk, selalu berlaku angkuh di atas tindakan kekejaman dan anti agama, seorang yang dikenal sebagai pencetus ‘sekularisme Turki’ sekaligus penghancur kekhalifahan Turki dan agama Islam.

Sejak saat itulah umat Islam seluruh dunia hidup seperti anak ayam kehilangan induknya, yang awalnya bersatu namun tercerai berai dan tak tentu arah. Hingga hari ini umat Islam semakin jauh dari ajaran agamanya yaitu pembawa rahmatan lil ‘alamin. Mengatur urusan individu, masyarakat dan Negara. Jika individu mengatur dirinya dengan Islam yakni melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya baik dalam tingkah lakunya maka Islam akan menjadi rahmat pada dirinya. Jika Masyarakat mengatur urusannya dengan Islam maka Islam akan menjadi rahmat pada masyarakat tersebut. Begitupun juga Negara akan menerima rahmat penduduk negerinya jika urusan-urusan Negara tersebut berpanduan pada Islam.

Sejak Zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, agama Islam tidak bisa dipisahkan dari urusan Negara atau politik (pelayanan terhadap umat). Ada syari’at yang dibebankan kepada individu, misal, shalat, puasa dan ada yang dibebankan kepada Negara, misal ekonomi, pendidikan, keamanan, hukum had dan qishas. Banyak pendapat orientalis yang memusuhi Islam, tapi mereka mengakui bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari negara. Hal ini cukup menjawab pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa Islam hanya mengatur masalah ruhani antara hamba dan Rabbnya.

Sudah diketahui bahwa Daulah Madinah telah tegak di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rosyidin kokoh sampai akhirnya pada masa Khilafah Utsmaniyah. Eksistensi khilafah sendiri adalah sesuatu yang paling penting dalam Islam. Hal ini tergambar dalam kesibukan 50 sahabat Muhajirin dan Anshor yang mengutamakan mencari pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai pemimpin umat di perkampungan Bani Saqifah daripada mengebumikan Rasul terlebih dahulu.

Kekhilafahan dalam Islam mengalami pasang surut antara kejayaan, keemasan dan terkadang kemunduran. Salah satu kekhilafahan yang mempunyai rentang waktu panjang dan kejayaan yang mengagumkan adalah kekhalifahan Utsmaniyah di Turki. Selama kurang lebih lima abad Ustmany telah menjaga Islam dan kaum Muslimin. Kesuksesan terbesar kekhilafahan Utsmaniyah di antaranya adalah penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453. Hal ini memperkuat status kekhilafahan tersebut sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur.

Hingga kota-kota penting yang sangat terkenal sejak zaman dahulu pun masuk ke dalam wilayah kekhilafahan Utsmaniyah. Pada masa itu, seluruh Eropa takut dan “menggigil” dengan kekhalifahan Utsmaniyah. Raja-raja Eropa berada dalam jaminan keselamatan yang diberikan dari Khalifah Utsmaniyah. Begitulah gambaran keindahan masa kejayaan Islam.

Wallahu’alam bisshowab

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: