Sabtu , November 27 2021

Adab Dalam Islam Jika Bermimpi Buruk

(ilustrasi)

Pekanbaru (Riaunews.com) – Kembang tidur atau mimpi biasanya menjadi pelengkap seseorang saat tidur terlelap. Mimpi terdapat beberapa macam yang dialami setiap orang.

Dikutip dari NU Online, Rabu (17/11/2021), mimpi menurut pandangan Islam terdapat tiga macam sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah mimpi buruk. Jika Anda mimpi buruk, maka sebaiknya tidak menceritakannya kepada orang lain.

“Mimpi itu ada tiga: [1] mimpi baik yang merupakan kabar gembira dari Allah, [2] mimpi karena bawaan pikiran seseorang [ketika terjaga], dan [3] mimpi menyedihkan yang datang dari setan. Jika kalian mimpi sesuatu yang tak kalian senangi maka jangan kalian ceritakan pada siapa pun, berdirilah dan salatlah!” (HR Muslim).

Dari ketiga mimpi tersebut terdapat satu mimpi yang bisa ditafsirkan seseorang, yaitu mimpi kabar gembira yang datang dari Allah SWT. Mimpi ini akan diberikan kepada orang-orang yang berhati bersih dan selalu melakukan kebaikan.

Mimpi yang pertama juga dialami Nabi Yusuf AS saat akan dibuang saudara-saudanya ke sumur. Beliau saat menjadi Bendahara juga mampu menakwilkan mimpi sang raja saat akan musim kemarau panjang di Mesir.

Menurut Pengasuh Pesantren Al Bahjah, Cirebon, Jawa Barat, Buya Yahya, yang mampu mengetahui ciri-ciri mimpi yang akan menjadi kenyataan hanyalah seorang Nabi atau Rasul. Manusia biasa yang bermimpi kebaikan dianjurkan untuk berhusnudzon atau berbaik sangka kepada Allah SWT seperti yang dijelaskan di video Youtube Al-Bahjah TV berjudul Ciri Mimpi Yang Bermakna .., yang ditilik Solopos.com, Rabu (17/11/2021).

“Jangan menghubung hidup kita dengan mimpi. Tapi ada qaidah saat bermimpi jika baik husnudzon pada Allah. Jika mimpi tidak baik kata Nabi tidak akan membahayakan,” ucap Buya Yahya.

Buya Yahya menegaskan mimpi tidak perlu diubah menjadi kenyataan karena mimpi saat tidur tidak menjadi kenyataan saat bangun. Sementara mimpi kabar baik yang bisa ditafsirkan oleh orang saleh berbeda dengan orang yang suka berbuat maksiat karena mimpi pada orang fasik hanyalah mimpi kosong (Adhghatsu ahlam).

Buya Yahya juga berpesan untuk tidak menakwilkan atau menafsrikan mimpi seseorang jika tidak memiliki ilmunya dan bisa disebut su’ul adab.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: