Sabtu , November 27 2021

Banjir Kecaman, Kemnaker Minta Maaf atas Konten TikTok soal Magang dan Upah

Kemnaker RI

Jakarta (Riaunews.com) – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) meminta maaf usai unggahan konten Tiktok mengenai kondisi magang dan upah pekerja yang sempat viral dan mendapat kecaman dari warganet. Sebab, warganet menilai konten tersebut tidak sepantasnya keluar dari akun media sosial kementerian.

“Konten Tiktok yang kami buat dari Humas Kemnaker itu tidak bermaksud menyinggung teman-teman magang yang dalam melaksanakan magang. Jadi mohon maaf bila merasa, tapi kami tidak seperti itu,” ujar Kepala Biro Humas Kemnaker Chairul Fadly kepada CNNIndonesia.com, Selasa (23/11/2021).

Sebelumnya, pada konten soal magang, kementerian mengunggah video yang memperlihatkan bahwa karyawan tetap merasa tersaingi oleh karyawan magang. Padahal, penilaian karyawan magang dipegang oleh karyawan tetap dan mereka memiliki kuasa atas hasil akhir penilaian tersebut.

Atas unggahan ini, Chairul menjelaskan kementerian bermaksud memberikan gambaran nyata dari kebanyakan kondisi permagangan saat ini, meski ia menekankan apa yang diunggah belum tentu terjadi di masing-masing individu magang.

“Tiktok yang kami gunakan pas konten ini jujur ingin menunjukkan bahwa kejadian magang yang selama ini ya seperti ini lah yang sedang berlangsung atau kebanyakan, tapi bukan berarti sama seperti itu,” jelasnya.

Padahal, menurut Kemnaker, proses magang seharusnya bukan ajang persaingan antara karyawan magang dan tetap.

“Ini contoh yang kurang baik sehingga harus teman-teman yang lain jangan melaksanakan magang seperti yang disimpulkan itu, di mana karyawan tetap semena-mena terhadap karyawan magang,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan magang seharusnya menjadi proses pembelajaran dan transfer ilmu pengetahuan bagi mereka yang akan memasuki dunia kerja. Porsi dan beban kerja mereka pun seharusnya disesuaikan pada level magang tersebut, bukan setara karyawan tetap.

“Sehingga banyak orang salah paham bahwa magang ini adalah melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang mohon maaf, ya seperti contoh yang kita dengar, disamakan dengan beban yang berat. Sementara, mereka seharusnya dijadikan untuk peningkatan skill dan kompetensi mereka,” tuturnya.

Sementara terkait upah, Kemnaker mengunggah konten yang menyatakan bahwa pekerja dengan upah tinggi biasanya memiliki kesehatan mental yang buruk. Sebaliknya, pekerja dengan upah kecil punya kesehatan mental yang lebih baik.

Chairul menjelaskan unggahan yang satu ini sejatinya ingin menunjukkan bahwa pekerja seharusnya mendapat upah sesuai dengan struktur dan skala upah. Hal ini ditentukan oleh kompetensi dan produktivitas mereka.

“Jadi struktur upah atau skala upah itu memang harus ditunjukkan dengan berapa kompensasi yang dia dapati, sehingga ini jelas kita memberikan ilustrasi-ilustrasi yang sedikit menggelitik dalam konten-konten yang kami buat. Upah yang kita maksud di situ adalah bagaimana sebenarnya upah itu harus berorientasi pada tingkat produktivitas,” terang dia.

Kendati begitu, warganet sudah terlanjur mengecam konten Tiktok Kemnaker, meski kedua unggahan itu akhirnya dihapus oleh kementerian.

Salah satu warganet di Twitter dengan akun @tantan__1go1e menilai konten seperti itu seolah menjadi akal-akalan pemerintah supaya masyarakat tidak minta kenaikan upah. “Akal-akalan aja ini biar ga pada minta naik gaji,” cuitnya.

Sementara, warganet lain dengan akun @sprinklesummer melihat kementerian seharusnya bisa membuat konten edukatif yang lebih baik.

“Meskipun ada aja orang-orang yang bilang ‘baca dulu caption-nya sebelum comment’ tapi menurut gue pribadi seharusnya ga gini konten edukatif dari sebuah kementerian yang harusnya punya work culture yang bagus ya. Kenapa sih harus merasa tersaingi sama anak magang?” tulisnya.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: