Sabtu , November 27 2021

Hari Ayah

(ilustrasi)

Oleh Helfizon Assyafei

Meskipun saya seorang ayah namun tidak tahu mengapa hari ayah nasional berbeda dengan hari ayah internasional. Hari ayah nasional baru beberapa hari yang lalu 12 November. Sedang hari ayah sedunia itu tanggal 20 Juni.

Padahal sama-sama ayah saja beda hari. Agak aneh memang. Tapi terserahlah. Ada banyak hal yang memang kita tidak tahu dan tahu-tahu sudah ada saja di dunia ini. Dan saya tak ingin memikirkannya. Biarlah begitu.

Ternyata tidak mudah menjadi ayah. Seorang anak lelaki selalu bertanya pada ayahnya; “Mengapa ayah tak pernah cerita tentang kakek?” Si ayah diam saja dan menghela nafas. “Nantilah jika kau sudah cukup umur,” ujar si ayah.

Rupanya si anak menyimpan janji ayahnya itu. Ketika cukup umur (17 tahun) ia menagih janji ayahnya lagi. Dan ayahnya pun akhirnya bercerita tentang kakeknya.

“Kakek mu itu seorang bedebah. Kerjanya pulang dalam keadaan mabuk dan memukuli siapa saja yang ada di dekatnya. Dan nenek mu adalah sasaran kekerasannya itu,” ujar si ayah. Lalu anak itu bertanya tetapi mengapa ayahnya sangat penyayang dan tidak seperti kakeknya.

“Dulu nak saya berjanji bila saya bisa melewati derita itu dan punya anak takkan pernah saya lakukan apa yang dilakukan kakek terhadap kami,” ujar si ayah.

Saya terharu membaca kisah yang ditulis oleh Ajhn Bhram itu.

Mulanya saya kira itu cuma kisah di buku-buku. Dan ternyata itu nyata.

Seorang teman bercerita ke saya. Ia ketika itu bimbingan skripsi dan pergi ke rumah pembimbingnya. Mengetok pintu dan dibukakan oleh anaknya.

Ia menyapa dengan sopan. “Ada bapak di rumah dik? Saya mau bertemu,” ujarnya.

Jawaban si anak membuat ia kaget luar biasa.

“Nyari bapak bangsat? Bu ada yang nyari bapak bangsatt,” ujar si anak.

Si ibu keluar. “Dia bapak yang bedebah cari lah di tempat-tempat bedebah itu,” ujar si ibu lagi.

Kawan saya itu sampai shock mendengar jawabann itu dan pulang dengan hati tak keruan. Belakangan ia tahu si bapak itu gemar ke tempat prostitusi.

Bahkan puluhan tahun kemudian ketika ia menceritakan itu kepada saya, hati saya pun tak keruan mendengarnya.

Mungkin mudah menjadi ayah biologis. Tapi tak mudah menjadi ayah yang baik ditengah budaya sekuler dan percampur-bauran lelaki perempuan di semua tempat. Di kantor, di organisasi, di perusahaan di kampus.

Juga tak mudah jadi ibu yang baik di dalam budaya serba bebas ini. Bahkan para bedebah pun bisa berwajah bak malaikat.

Baru nyadar betapa relevannya hadis Nabi.

Kata Nabi, “Ada empat faktor yang mestinya menjadi patokan dalam memilih jodoh di antaranya harta, keturunan, kecantikan atau ketampanan, dan agama. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR Bukhari).

Artinya jika ada empat-empatnya sempurnalah jodohmu. Jika harus memilih karena jarang kita dapat yang sempurna begitu maka prioritaskanlah yang bagus agama (iman) nya.

Mungkin nasihat ini sudah telat untuk saya dan yang seangkatan dengan saya tapi nasihat tidak pernah telat bagi generasi berikutnya. Biar telat yang penting masih bermanfaat. Suai?

19 November 2021

 

Penulis Merupakan Wartawan Senior Riau.

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: