Sabtu , November 27 2021

Kereta Cepat dan Ilusi Negara Hebat

Anggaran proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membengkak dari Rp80 triliunan menjadi Rp114 triliunan.

Oleh : Alfiah, S.Si

Lama tak merangkai kata karena pikiran sudah jengah dengan karut marut negeri yang dijuluki zamrud khatulistiwa. Baiklah, saya coba mencerna proyek kereta cepat yang digadang-gadang menjadi mega proyek andalan pemerintah. Sejak awal sebenarnya proyek ini banyak kritikan. Bukan kritikan tak beralasan ya…Tapi kritikan yang tentunya dibarengi data dan fakta.

Tak perlu berpikir ruwet sebenarnya untuk mencerna urgensi kereta cepat ini. Sederhana saja, utang negara sudah menggurita, pandemi mengakibatkan banyak masalah, kemiskinan, pengangguran dan sebagainya, ditambah masih banyak jalan-jalan rusak bak kubangan kerbau atau rawa menganga. Nah…kenapa ‘ngotot’ dengan kereta cepat, yang ‘maksa’ menggunakan APBN?

Wajar dong rakyat protes. Tepatlah kiranya Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel mengkritik langkah pemerintah yang mengalokasikan dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Menurut Gobel, soal kereta cepat biar diserahkan ke investornya. Ini sesuai dengan ide awal yang berprinsip business to business

Diketahui, Jokowi resmi menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Perpres Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung. Dengan perpres ini APBN pun digarong demi proyek kereta cepat. Padahal semula pemerintah menyetujui bahwa pembuatan kereta cepat itu tak akan memakan APBN karena menganut skema business to business. Namun demikian, hingga saat ini anggaran pembangunan terus membengkak.

Harusnya pembengkakan biaya diserahkan ke perusahaan konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Sebagai informasi, konsorsium BUMN ini bernama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Konsorsium terdiri dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII.

Celakanya, konsorsium ini memiliki 60 persen saham di operator proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Lalu, 40 persen saham KCIC digenggam oleh Beijing Yawan HSR Co.Ltd. Nah bukankah proyek ini berpotensi sebagai perangkap China untuk semakin menguasai Indonesia?

Sebelumnya, kebutuhan investasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membengkak dari US$6,07 miliar atau sekitar Rp86,67 triliun (kurs Rp14.280 per dolar AS) menjadi US$8 miliar atau setara Rp114,24 triliun. Estimasi ini sedikit turun dari perkiraan awal mencapai US$8,6 miliar atau Rp122,8 triliun.

Berpihaklah Kepada Rakyat
Pemimpin itu pelayan rakyat. Dia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap rakyat yang diurusnya. Pembangunan infrastruktur hendaknya berpijak pada kepentingan rakyat. Bukan bisnis semata, apalagi sekedar untuk gagah gagahan dan pencitraan. Jika demikian alasannya, pembangunan infrastruktur tak akan membawa berkah, tapi justru menjadi petaka yang berujung masalah.

Bukan kereta cepat yang membuktikan suatu negara hebat, tapi ketegasannya untuk tidak tunduk pada intervensi negara asing. Bukan juga ibukota negara baru yang menunjukkan suatu negara maju sementara rakyatnya dilarang protes ini dan itu. Cukuplah kiranya kisah Khalifah Umar ra. sebagai ibrah.

Amirul mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang terkenal tegas dan tegar dalam memimpin kaum muslimin tiba-tiba menangis, dan kelihatan sangat terpukul. Informasi salah seorang ajudannya tentang peristiwa yang terjadi di tanah Iraq telah membuatnya sedih dan gelisah. Seekor keledai tergelincir kakinya dan jatuh ke jurang akibat jalan yang dilewati rusak dan berlobang.

Melihat kesedihan khalifahnya, sang ajudan pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?” dengan nada serius dan wajah menahan marah Umar bin Khattab bekata: “Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”
Dalam redaksi lain yang pernah saya dapatkan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’.

Demikianlah untuk apa proyek kereta cepat, sementara masih banyak jalan yang tak layak yang lebih tepat dikatakan kubangan kerbau atau kolam. Sementara jalan itulah mungkin satu-satunya jalan yang harus dilalui para pendidik generasi dan putera-puteri negeri. Semoga pemangku negeri ini terbuka nuraninya.***

Penulis seorang pemerhati masalah sosial

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: