Sabtu , November 27 2021

Keruwetan dan Kefakiran

Oleh: Alfi Ummuarifah

Hari ini sistem kapitalisme telah membuat manusia dalam kesulitan hidup. Kesulitan ekonomi, akses terpenuhinya kebutuhan dasar. Baik kebutuhan dasar individu semisal sandang, pangan dan papan. Termasuk juga akses kebutuhan dasar komunitas semisal pendidikan, kesehatan dan keamanan. Semua itu akibat penerapan sistem kapitalisme buatan manusia yang rusak dan tidak solutif.

Namun banyak orang tak merasa bahwa itulah sistem penyebabnya. Akibatnya manusia saat ini tak mengetahui apa penyebab munculnya keruwetan masalah itu. Dampaknya mereka pun tidaklah juga mengetahui solusi untuk keluar dari keruwetan hidupnya.

Secara permukaan, diketahuilah bahwa ketidaktauan masyarakat atas apa penyebab masalah dan solusinya itu, menyebabkan manusia tetap dalam masalahnya. Semakin hari semakin sulit. Bukan tanggung-tanggung, masalah itu terjadi pada tataran individu hingga bernegara.

Negara-negara di dunia ini kolaps dan mengalami depresi ekonomi yang luar biasa. Dampak wabah covid-19 semakin melengkapi parahnya pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

Secara individu, Allah mengingatkan manusia. Agar manusia kembali kepada syariah islam. Melaksanakan ibadah kepada Allah. Sebab tak ada tujuan lain dari penciptaan manusia dan jin itu kecuali hanya untuk mengibadahinya.

Tentu bukan hanya dalam ibadah mahdhoh saja. Lebih dari itu, ibadah yang dimaksud adalah ibadah menjadikan urusan di dunia, diatur dengan pengaturan islam. Mulai dari kehidupan yang ringan hingga yang berat dalam cakupan bernegara.

Allah menyebutkan tujuan penciptaan jin dan manusia itu pada QS Adzzariyat ayat 56. Lalu pada ayat berikutnya yaitu pada QS. Az-Zariyat Ayat 57. Inilah ayat yang dimaksudkan itu.

مَاۤ اُرِيۡدُ مِنۡهُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّمَاۤ اُرِيۡدُ اَنۡ يُّطۡعِمُوۡنِ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.

Aku menciptakan manusia dan jin hanya agar mereka beribadah, bukan agar mereka memberi balasan apa pun kepada-Ku.

Aku tidak menghendaki rezeki atau balasan sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Seperti halnya mereka memberi sesajian kepada dewa atau tuhan yang mereka sembah.

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa sesungguhnya Dia tidak akan minta bantuan mereka untuk sesuatu kemanfaatan atau kemudaratan dan tidak pula menghendaki rezeki dan memberikan makan seperti apa yang dikerjakan oleh para majikan terhadap buruhnya.

Semua karena Allah tidak perlu kepada mereka, bahkan merekalah yang memerlukan-Nya dalam segala urusan mereka, Allah adalah pencipta mereka dan pemberi rezeki mereka. Dialah yang mempunyai kekuasaan, kemampuan dan kekuatan yang tak terhingga. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.

Abu Hurairah meriwayatkan dan berkata:
Rasulullah bersabda: “Allah berfirman:”Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadat kepada-Ku niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Ku-tutupi kefakiranmu, dan jika engkau tidak berbuat (menyediakan waktu untuk beribadat kepadaKu) niscaya akan Ku-penuhi dadamu dengan kesibukan (keruwetan) dan tak akan Ku-tutupi keperluanmu (kefakiran).” (Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah).

Jadi, kita selayaknya hidup sesuai dengan tujuan itu. Keruwetan dan kesulitan kita termasuk kefakiran hanyalah jalan bagi Allah untuk mengajak kita pulang. Pulang pada tujuan penciptaan kita.

Kita terlalu jauh berlari mengejar fatamorgana dunia yang menipu. Ibadah kita hanya dalam ranah individu. Kita biarkan ranah masyarakat diatur sistem buatan manusia yang cacat, serba kurang dan merusak.

Agama kita letakkan di ruang masjid, sementara urusan dunia kita seperti ekonomi, negara, industri, pendidikan, kesehatan, keamanan, pertanian, kehutanan hingga urusan dunia lainnya kita biarkan berbasis kapitalisme sekulerisme.

Pantaslah jika saat ini urusan dunia kita ruwet, kalut, kacau, ditimpa masalah tak berkesudahan. Itu semua wajar. Karena aturan Allah sudah kita campakkan dan kita ganti dengan aturan bikinan manusia lemah.

Kembalikanlah sistem hidup kita dengan aturan Islam. Niscaya keruwetan dan Kefakiran dalam skala besar ini diuraikan Allah. Diberikan jalan yang sederhana dan mudah. Sebab semua bagi Allah itu mudah. Hiduplah kita hanya untuk ibadah. Tentu dalam seluruh aspek kehidupan yang kaffah. Wallahu a’lam bish-showaab.***

 

Penulis seorang Pegiat Literasi islam

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: