Sabtu, 1 Oktober 2022

Petani Indonesia Ramai Jual Sawit ke Malaysia, Mendag Zulhas Anggap Wajar

Panen kelapa sawit.

Jakarta (Riaunews.com) – Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengungkap penyebab petani Indonesia banyak yang menjual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke Malaysia. Menurutnya, karena harga TBS di dalam negeri tengah anjlok.

“Wajar dong (petani jual ke Malaysia) di sana harganya mahal Rp 4.500 per kilogram. Kita cuma Rp 1.000 sampai Rp 1.200/kg. Tentu itu karena ada kebijakan kemarin berdampak ke sana,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Senin (4/7/2022).

Kemudian, penyebab anjloknya harga TBS disebut karena pasokan di pabrik kelapa sawit (PKS) sudah terlalu banyak. Karena itu pengusaha sawit tidak bisa membeli TBS petani.

“Bagaimana harga TBS naik? Maka pertama langkah kita PKS-PKS membeli Rp 1.600/kg itu perintah Mendag paling murah. Nah sekarang masih terjadi problem tangki masih penuh, sehingga pabriknya gak bisa beli. Tangki penuh karena nggak bisa ekspor. Ini sudah terealisasi setengah (ekspor). Jadi perlu penyesuaian konsumen perlu waktu. Pabrik belum operasi, tangki penuh, korban petani sawit TBS Rp 1.000 sampai Rp 1.200,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Zulhas lebih lanjut mengatakan pihaknya tengah mempercepat ekspor untuk pengusaha sawit. Percepatan itu dengan cara menaikkan jatah ekspor pengusaha yang tadinya 1:5 menjadi 1:7.

“Kita lakukan percepatan agar lancar lagi. Mudah-mudahan ini beberapa waktu ini lancar untuk mempercepat itu DMO 1:7. Jadi saya kira sudah semua kebijakan-kebijakan itu,” tutupnya.

Untuk hitungannya, misalnya digambarkan bahwa produsen sawit memenuhi kebutuhan dalam negeri 1.000 ton CPO. Dengan aturan lama, jika sudah memenuhi kebutuhan dalam negeri itu (DMO) maka perusahaan bisa ekspor 5.000 ton.

Kemudian, jika jatah ekspor ditambah jadi 1:7, maka perusahaan bisa ekspor lebih tinggi. Misalnya sudah memenuhi kebutuhan 1.000 ton maka, bisa ekspor CPO 7.000 ton. Perbandingan 1 banding 5 atau banding 7 merupakan pengalinya.

Dengan mempercepat dan menambah jatah ekspor, harapannya tangki CPO akan berkurang dan bisa menampung lagi sawit dari petani. Jika tangki pabrik kelapa sawit sudah kosong, Zulhas bilang otomatis harga TBS akan naik.

“Diharapkan kalau tangki kosong pabrik beli lagi (TBS),” tuturnya.

Petani Ramai-ramai Jual Sawit ke Malaysia
Dilansir Detikcom, viral di media sosial Instagram, video petani ramai-ramai menjual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke Malaysia. Dalam video itu, petani mengirim menggunakan sampan atau perahu kayu dan truk.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, hal itu dilakukan oleh petani sawit di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara.

“Itu bukan hoax, itu benar terjadi. Petani menjual TBS ke Malaysia menggunakan alat transportasi seadanya bertaruh nyawa. Ini masalah perut, mereka juga harus berpikir untuk keluarga,” tuturnya kepada detikcom, Senin (4/7/2022).

Meski begitu, Gulat mengakui bahwa tindakan yang dilakukan oleh petani sawit tidak diizinkan oleh peraturan negara.

“Sekalipun itu tidak diizinkan secara peraturan negara. Tetapi ini masalah perut,” lanjutnya.

Alasan petani menjual TBS ke Malaysia, karena banyak pabrik kelapa sawit (PKS) yang sudah tidak menerima TBS dari petani. PKS sendiri tidak menerima TBS karena pasokan sudah penuh dan tidak mampu lagi menampung.

“Banyak pabrik di sana menolak TBS dan sebagian besar pabriknya sudah tidak lagi beroperasi. Karena itu tangki CPO belum turun. Ekspor belum sama sekali (lancar),” lanjutnya.

Selain alasan pabrik TBS di Indonesia penuh, harga juga menjadi pertimbangan. Harga TBS di Malaysia itu sekitar Rp 4.800/kg, sedangkan di Indonesia khususnya di Kalimantan hanya Rp 800 sampai Rp 1.100/kg.

Sementara ini, menurut Gulat tidak ada perusahaan yang membeli TBS petani seharga Rp 1.600/kg, seperti yang diimbau Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan.

“Mereka kan juga berhitung, kalau dibeli Rp 1.600/kg harga CPO harus Rp 9.000, sementara CPO kita Rp 7.000, tumpur mereka dong. Mana ada perusahaan mau rugi,” jelasnya.

“Imbauan itu (Rp 1.600) kami berterima kasih, tetapi itu bukan solusi untuk saat ini, solusinya bagaimana memperlancar ekspor supaya berputar,” tutupnya.***

Tinggalkan Balasan