Kamis, 29 Februari 2024

Australia Klaim Pulau Pasir di Selatan NTT Milik Mereka

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Gugusan karang Ashmore Reef yang berjarak sekitar 170 km dari Pulau Rote (Roti), NTT, diklaim sebagai milik Australia. (Gambar: Google Map)

Canberra (Riaunews.com) – Masyarakat adat di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyatakan Pulau Pasir adalah miliknya. Namun demikian, Australia menyatakan pulau di selatan Pulau Rote itu miliknya. Australia menyebut pulau itu sebagai Ashmore Reef dan Cartier.

Dilansir situs Geoscience Australia, lembaga pemerintah, diakses detikcom pada Senin (24/10/2022), Ashmore and Cartier Islands terletak di sisi luar landas kontinen di Samudera Hindia dan Laut Timor. Orang Eropa pertama yang mencapai Ashmore dan Cartier adalah Samuel Ashmore, pada 11 Juni 1811.

Letak Ashmore Reef dan Cartier (atau Pulau Pasir) ada pada sekitar 320 km dari pantai barat laut Australia dan 170 km dari Pulau Rote (Roti), NTT, Indonesia.

Kepulauan ini terdiri dari koral dan pasir dengan sedikit rumput, dan tidak berpenghuni.

Ashmore sendiri disebut sebagai karang (reef), bukan pulau, sementara Cartier disebut sebagai pulau. Gugusan Karang Ashmore punya luas 583 km persegi, karang terbesar punya luas 1,12 km.

Pulau Carier berjarak 70 km dari Karang Ashmore. Pulau Carier adalah pulau pasir tak bervegetasi, luasnya 167 km persegi. Kawasan pulau ini mengandung keanekaragaman biologis yang tinggi, ada 547 spesies ikan yang teridentifikasi, 16% merupakan ikan spesies Australia.

“Kedekatan dengan teritori Indonesia telah menyebabkan pulau ini menjadi subjek diskusi resmi bersama pada tahun-tahun terakhir ini,” demikian tulis Australia dalam situs tersebut.

Australia mengadakan perjanjian untuk menetapkan batas-batas kemaritiman dengan Indonesia pada 1997. Australia menyebut kepulauan ini ada pada jarak 12 nautikal mil dari laut teritorial mereka.

“Nelayan Indonesia mengunjungi Karang Ashmore tiap tahun di bawah Nota Kesepahaman yang ditandatangani Pemerintah Australia dan Indonesia, yang mengizinkan mereka (nelayan Indonesia) untuk menggunakan area laut itu yang telah mereka akses secara tradisional selama berabad-abad,” tulis Geoscience Australia.

Nelayan Indonesia juga sering mengunjungi Pulau Cartier selama berabad-abad silam. Nelayan biasa mengumpulkan burung, telur burung, remis/tiram, timun laut, teripang, kerang, kura-kura, dan telur kura-kura. Semua itu dikumpulkan nelayan Indonesia untuk dikonsumsi serta dijual di pasar Asia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *