Selasa, 23 Juli 2024

Boros Amunisi di Awal Perang, Ukraina Kini Terjepit Kekurangan Pasokan Senjata

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Tentara Ukraina kini mengalami kekurangan pasokan amunisi dalam menghadapi Rusia.

Kiev (Riaunews.com) – Posisi militer Ukraina di garis depan bagian timur negeri kini sedang dalam posisi terjepit.

Kewajibannya mengamankan negara tidak diiringi dengan pasokan senjata yang memadai.

Akibatnya, semakin banyak tentara yang membuang nyawa karena kalah dalam pertempuran dengan Rusia.

Surat kabar asal Spanyol, El Pais menggambarkan tentara Ukraina sedang menghadapi kekurangan amunisi yang sangat akut.

Seorang tentara berpangkat sersan bernama Aleksandr mengeluh karena pasukan Kiev sedang menjalani diet amunisi, dan persenjataan yang menipis.

Aleksandr, tentara berpangkat sersan dari brigade mekanis ’47’ yang bertempur di kota Avdeevka, sebelah utara Donetsk mengungkapkan mereka harus bertempur dengan senjata seadanya.

“Saya dan rekan-rekan harus berjuang dengan apa yang kami miliki, tidak selalu dengan apa yang paling cocok untuk mencapai tujuan,” ujarnya dalam kutipan El Pais.

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba mengakui kalau tentara Kiev sangat boros dalam penggunaan senjata saat melawan Rusia sejak awal perang.

“Mereka dengan cepat cepat membakar senjata dan amunisi Barat yang dipasok pada awal konflik,” ujarnya.

Borosnya tentara Ukraina tersebut diakui terjadi karena banyak diantara tentara yang kurang handal dan tidak menguasai kendaraan tempur bantuan.

Mereka pun banyak menyia-nyiakan senjata seperti tank dan lapis baja. Ribuan kendaraan perang bantuan Barat terkubur di medan perang, timur Ukraina seperti wilayah Donetsk dan Luhansk.

Dipercaya sebanyak 20 persen dari senjata Ukraina bantuan dari negara-negara NATO hancur lebur dalam dua pekan pertama serangan balik Ukraina yang dilakukan pada Juni 2023 lalu.

Dalam serangan balik tersebut dipercaya sekitar 5.000 tank dan kendaraan lapis baja terkubur oleh perlawanan tentara Rusia yang dianggap lebih siap.

Kuleba pun tak tahu kapan senjata dari Barat akan datang lagi. Ia hanya bisa mengingatkan kepada negara-negara Barat agar kembali menyalurkan bantuan senjatanya.

Diplomat utama negara tersebut dalam sebuah wawancara dengan CNN mendesak negara-negara Barat untuk “mempercepat keputusan yang tertunda” mengenai pengiriman lebih lanjut.

Sementara Rusia telah meningkatkan kapasitas produksi senjatanya meskipun ada sanksi dari Barat.

Saat ini, Pemerintahan Volodymyr Zelensky hanya bisa sesekali melakukan serangan dengan intensitas kecil sehingga harus terukur, seperti serangan terhadap.

Mereka juga hanya bisa menangkis serangan Rusia yang dilakukan dengan semakin masif.

Ketua delegasi Rusia pada perundingan Wina Konstantin Gavrilov, mengenai keamanan militer dan pengendalian senjata, mengklaim bahwa persediaan senjata di Kiev, serta milik NATO dan AS sudah “kosong.”

Ia memprediksi tidak adanya “lonjakan” pengiriman senjata oleh negara-negara Barat yang mendukung Ukraina di masa mendatang.

Dalam pekan ini, pasukan Vladimir Putin telah mengincar Kiev dan Kharkov di timur laut dengan serangan rudal dan drone.

Ukraina dikabarkan hanya bisa menangkis 10 dari ratusan senjata hipersonik yang kecepatannya 10 kali kecepatan suara.

Akibatnya sejumlah wilayah yang menjadi sasaran Rusia seperti industri pertahanan Ukraina hancur.

Di garis depan, pengamatan seorang tentara Ukraina dari Brigade 47 mengutip dari Russia Today mengatakan, bahwa mereka banyak memenangkan peperangan karena senjatanya lengkap.

Meskipun senjata Rusia mungkin bukan yang terbaik dari jenisnya, jelas tentara itu, Moskow tetap tidak kekurangan senjata tersebut di garis depan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *