Minggu, 26 Juni 2022

Dampak Perang Rusia vs Ukraina Bagi Indonesia

Konvoi kendaraan perang Rusia memasuki wilayah Ukraina. (Foto: AP)

Jakarta (Riaunews.com) – Rusia dan Ukraina sedang perang. Pakar hubungan internasional menyatakan dampak perang di Eropa Timur bisa terasa sampai Indonesia.

“Secara fisik, dampaknya mungkin tidak terasa, tapi secara ekonomi ini bisa mengganggu perdagangan internasional, terutama sektor energi dan minyak,” kata pakar hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Noer Arfani, kepada detikcom, Kamis (24/2/2022).

Riza, yang merupakan dosen HI Fisipol UGM, punya bidang keahlian dalam bidang ekonomi-politik internasional. Dia melihat sektor ekonomi sebagai sektor yang paling mungkin kena dampaknya. Apalagi dunia (termasuk Indonesia) baru saja ancang-ancang mau lepas dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Baca Juga:

“Perang ini mengancam pemulihan ekonomi internasional, maka Indonesia harus berbicara,” ujar Riza.

Forum G20 dapat digunakan Indonesia untuk mengakhiri perang Rusia vs Ukraina. Presidensi G20 Indonesia masih berlangsung dan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Selain G20, Indonesia bisa mengusahakan perdamaian lewat forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan ASEAN. Indonesia punya tujuan menciptakan perdamaian dunia sebagaimana amanat Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia 1945. Selain langkah konvensional, langkah nonkonvensional juga perlu ditempuh.

“Ini perlu kerja di luar kerja diplomatik, mungkin kerja intelijen melalui jalur-jalur yang tidak konvensional. Ini perlu dipikirkan Indonesia,” kata Riza.

NATO dan AS dinilai bikin parah

Riza melihat kehadiran Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Amerika Serikat (AS) dalam konflik Ukraina versus Rusia justru malah menambah kacau perang ini. Saat ini kedua belah pihak perlu menahan diri.

“Kehadiran NATO dan AS mendukung Ukraina hanya semacam memperparah kondisi konfliknya,” kata Riza.

Perang ini adalah permukaan paling atas dari masalah-masalah Rusia-Ukraina yang menumpuk tidak terselesaikan. Dialog konstruktif gagal dirancang. Perang sudah terjadi. Perlu pihak yang netral untuk menengahi dan menghentikan perang.

“Yang diperlukan adalah pihak di luar AS dan sekutunya. Apakah China, India, atau Indonesia. Indonesia, menurut saya, bisa karena ada di Presidensi G20,” kata Riza.

Tinggalkan Balasan