Minggu, 26 Juni 2022

Jurnalis Media Barat Heran Tak Lihat Mayat di Bucha Seperti yang Diklaim Pemerintah Ukraina

Rusia klaim berhasil hancurkan sebagian besar kekuatan militer Ukraina. (Foto: AP via CNNIndonesia)

Kiev (Riaunews.com) – Beberapa hari yang lalu dunia internasional digegerkan oleh tragedi pembantaian warga sipil yang terjadi di Kota Bucha, Ukraina.

Tragedi ini awalnya diviralkan oleh pemerintah Ukraina yang merilis foto dan video mayat-mayat manusia dibiarkan begitu saja di jalan raya hingga di halaman rumah.

Pemerintah Rusia sendiri telah menampik tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa tragedi pembantaian itu adalah rekayasa pemerintah Ukraina.

Dikutip TribunWow.com, kini media asal Rusia rt.com mengklaim berhasil memeroleh sebuah rekaman percakapan telepon milik seorang jurnalis media barat yang sedang melakukan liputan lapangan di Kota Bucha.

Dalam rekaman percakapan telepon tersebut, sang jurnalis diketahui bernama Simon.

Simon bercerita kepada koleganya kala itu ia sedang melakukan liputan lapangan di Kota Borodyanka yang terletak tak jauh dari Bucha.

“Sama sekali tidak ada mayat-mayat di jalanan,” ujar Simon di telepon.

Simon lalu bercerita kota tersebut memang mengalami kerusakan parah karena serangan namun dirinya tidak menemukan adanya bukti pelanggaran hak asasi manusia di sana.

Simon juga menyampaikan ia dan krunya sempat mewawancarai sejumlah penduduk di Borodyanka.

Namun hasil wawancara justru mengatakan bahwa tentara Rusia bersikap ramah ke penduduk setempat, bahkan memberikan bantuan makanan hingga minuman.

Simon lalu bercerita, dirinya merekam semua itu dalam kamera.

Simon mengatakan, ia tak menyangka realita di lapangan akan berbeda jauh dari yang ia bayangkan.

Lalu Simon melanjutkan ceritanya di telepon ada seorang jurnalis Prancis melihat mayat yang diduga tewas karena serangan, bukan dieksekusi mati.

Sambungan telepon itu kemudian ditutup seusai Simon mengatakan akan berangkat ke Bucha untuk mengecek apakah ada bukti pelanggaran hak asasi manusia di sana.

Di sisi lain, Michael Tracey, seorang jurnalis asal Amerika Serikat (AS) mengungkapkan kecurigaan soal viralnya video pembantaian warga sipil di Kota Bucha.

Seperti yang diketahui, pemerintah Ukraina mengklaim sejumlah mayat manusia yang ditemukan di jalan adalah warga sipil korban serangan pasukan militer Rusia.

Namun Tracey menduga pemerintah Ukraina memiliki tujuan tersembunyi terkait aksinya menyebarkan video tersebut.

Dikutip TribunWow.com dari Tass.com, Tracey yang juga seorang komentator politik menyoroti bagaimana media-media barat dengan senang hati memberitakan video pembantaian warga di Bucha tanpa proses verifkasi terlebih dahulu.

“Mereka mengabaikan semua standar jurnalistik untuk membantu upaya propaganda dari sebuah pemerintahan negara asing,” ungkap Tracey.

Tracey menduga pemerintah Ukraina ingin pasukan militer AS dan NATO untuk terlibat dalam konflik melawan Rusia.

Tracey menyampaikan bagaimana video ini disebarkan dengan tujuan untuk memancing emosi agar publik bersimpati terhadap Ukraina.

Menurut pihak Rusia, penembakan pada warga sipil dan kehancuran kota justru disebabkan tentara Ukraina sendiri.

Dilansir TribunWow.com dari TASS, Senin (4/4/2022), Rusia mengklaim tidak ada korban sipil yang dilaporkan di kota Bucha ketika kota itu dikendalikan oleh Angkatan Bersenjatanya.

Namun Duta Besar Rusia untuk Washington Anatoly Antonov menuding media AS mengabaikan penembakan yang dilakukan militer Ukraina di kota itu.

Ia pun terang-terangan membantah tudingan bahwa Rusia telah melakukan kejahatan perang pada warga sipil di Bucha.

“Kementerian Pertahanan Rusia telah sepenuhnya menolak tuduhan palsu ini,” ujar Antonov saat diwawancarai Newsweek.

Menurut Antonov, pasukan Rusia sudah seminggu meninggalkan Bucha.

Selama itu, pasukan Ukraina disebut sudah mengetahui kondisi di Bucha dan memilih diam.

Namun belakangan potret mengenaskan di wilayah itu justru digunakan untuk menyalahkan Rusia.

Hal ini senada disampaikan Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Minggu, (3/4/2022) bahwa Angkatan Bersenjata Rusia telah meninggalkan Bucha, yang terletak di wilayah Kiev, pada 30 Maret.

Sementara bukti kejahatan muncul baru empat hari kemudian, setelah petugas Dinas Keamanan Ukraina tiba di kota itu.

“Saya ingin menunjukkan bahwa pasukan Rusia meninggalkan Bucha pada 30 Maret. Pihak berwenang Ukraina tetap diam selama ini, dan sekarang mereka tiba-tiba memposting rekaman sensasional untuk menodai citra Rusia dan ini membuat Rusia harus mempertahankan diri,” kata Antonov.

“Saya ingin menekankan dengan penuh tanggung jawab bahwa tidak ada satu pun warga sipil yang menderita akibat kekerasan ketika kota itu dikendalikan oleh Angkatan Bersenjata Rusia. Sebaliknya, pasukan kami mengirimkan 452 ton bantuan kemanusiaan untuk warga sipil.”

Menurut pihak Rusia, tentara Ukraina justru melakukan penembakan dan menghancurkan kotanya sendiri.

Dikatakan bahwa Ukraina sengaja ingin menjatuhkan kesalahan ke pihak Rusia.

“Sementara itu, fakta bahwa Angkatan Bersenjata Ukraina menembaki kota Bucha tepat setelah pasukan Rusia pergi sengaja diabaikan di AS. Inilah yang bisa menyebabkan korban sipil. Yang mengatakan, rezim Kiev jelas berusaha menyalahkan kekejamannya. di Rusia,” ujar Antonov.

Kementerian menekankan bahwa pada 31 Maret, Wali Kota Anatoly Fedoruk telah mengkonfirmasi dalam pidato video bahwa tidak ada pasukan Rusia di Bucha.

Namun, dia tidak mengatakan sepatah kata pun tentang warga sipil yang ditembak mati di jalan dengan tangan terikat di belakang.***

Tinggalkan Balasan