Sabtu, 28 Mei 2022

Ukraina Umumkan Keadaan Darurat Nasional, Staf Diplomatik Rusia Ditarik

Rusia mengerahkan peralatan tempur mereka ke Donbas, wilayah Ukraina Timur yang ingin memisahkan diri dari negara tersebut. (Foto: AP)

Kiev (Riaunews.com) – Pemerintah Ukraina mengumumkan keadaan darurat nasional pada Rabu (23/2/2022) waktu setempat di tengah meningkatnya ancaman invasi Rusia. Ukraina juga menyerukan warganya di Rusia untuk segera pulang.

Sementara itu, pemerintah Rusia mulai mengevakuasi staf diplomatik di Kedutaan Besarnya di Kiev, ibu kota Ukraina di tengah memanasnya situasi antara kedua negara tetangga itu.

Dilansir dari kantor berita AFP, Kamis (24/2/2022), evakuasi staf diplomatik Rusia ini dilakukan sehari setelah anggota parlemen di Moskow memberikan izin kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengerahkan pasukan militer Rusia ke wilayah-wilayah separatis yang memisahkan diri dari Ukraina.

Ditanya apakah evakuasi telah dimulai, juru bicara Kedutaan Besar Rusia, Denis Golenko mengatakan kepada AFP melalui telepon: “Ya.”

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan pada Selasa (22/2) waktu setempat, bahwa mereka akan segera mengevakuasi para diplomat dari negara itu. Disebutkan bahwa langkah itu dilakukan untuk “melindungi jiwa mereka”.

Menurut saksi mata, bendera Rusia telah diturunkan dari atas gedung kedutaan.

Seorang reporter AFP melihat beberapa keluarga meninggalkan kedutaan pada Rabu (23/2) dengan membawa koper.

Golenko mengatakan evakuasi itu “terkait dengan fakta bahwa kedutaan-kedutaan besar Barat mengumumkan evakuasi beberapa staf mereka, dan bahwa kementerian kami juga mengambil keputusan ini.”

Beberapa kedutaan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, telah memindahkan staf mereka ke kota Lviv dekat perbatasan Polandia.

Mereka melakukannya karena takut akan invasi Rusia ke Ukraina, dengan mengatakan bahwa ibu kota Kiev bisa diserang.

Sebelumnya, kepala NATO Jens Stoltenberg mengingatkan bahwa pasukan Rusia terus mempersiapkan serangan potensial ke Ukraina setelah Moskow mengakui dua wilayah separatis di Ukraina timur sebagai wilayah merdeka.

“Setiap indikasi adalah bahwa Rusia terus merencanakan serangan skala penuh ke Ukraina,” kata Stoltenberg setelah pertemuan mendesak dengan utusan Ukraina.

“Kami melihat semakin banyak pasukan yang bergerak keluar dari kamp dan berada dalam formasi tempur dan siap menyerang,” imbuhnya.***

Tinggalkan Balasan