Sabtu, 3 Juni 2023

Alamak, Gegara Bercinta Pakai Posisi Berbahaya Penis Pria di NTB Patah

(ilustrasi)

Mataram (Riaunews.com) – Seorang pria mengalami patah penis setelah tertekuk saat berhubungan seks dalam posisi yang terkenal berisiko, yaitu reverse cowgirl.

Dikutip dari Detikcom, pria berusia 37 tahun asal Nusa Tenggara Barat itu datang ke rumah sakit dengan penis bengkak, berdarah, memar parah, dan berubah warna menjadi keunguan. Dokter menyebut kondisi penis pria itu menyerupai terong. Dokter menemukan penisnya patah dan melakukan untuk operasi darurat untuk memperbaiki kerusakannya.

Ahli urologi di Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat mengungkapkan bahwa pasien mendengar suara retakan saat berhubungan seks dengan posisi reverse cowgirl terbalik. Pada posisi itu, wanita berada di atas dan membelakangi pasangannya.

Pria itu segera merasakan sakit yang parah, kehilangan ereksi, dan mulai mengeluarkan darah dari penisnya. Pasien juga tidak bisa buang air kecil.

Dokter mengatakan pasien juga mengidap hematoma, yaitu cedera pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan darah merembes keluar ke jaringan sekitarnya.

Para petugas medis mengatakan cedera dapat terjadi ketika penis yang sedang ereksi mengenai perineum atau tulang kemaluan pasangannya selama hubungan seks ‘kuat’. Kondisi ini dapat menyebabkan penis tertekuk.

Reverse cowgirl atau yang disebut juga sebagai posisi ‘superior wanita’ dikenal karena risikonya melukai penis yang sedang ereksi. Tidak ada tulang di penis, tapi cederanya dikenal juga sebagai ‘patah tulang’ penis.

Anatomi ereksi didasarkan pada dua tabung spons yang diisi dengan darah dan mengeras, serta selubung fibrosa kuat yang mengelilinginya (tunica albuginea). Tunica albuginea yang berada di bawah tekanan yang ekstrim dapat patah dan menyebabkan penis bengkok. Petugas medis mencatat bahwa jaringan di tunica albuginea pria itu pecah.

Setelah operasi, petugas medis, melakukan ‘tes ereksi buatan’ untuk memastikan tidak ada kebocoran dari luka dan penis tidak lagi bengkok. Penis kemudian dijahit kembali dan ditutup dengan perban. Penis pria itu masih membiru 3 hari kemudian saat perbannya dilepas.

Pada pemeriksaan beberapa minggu kemudian, dokter mencatat bahwa penis pria itu ‘dalam kondisi baik.’ Dia bisa ereksi dan buang air kecil secara normal.

Dalam jurnal Urology Case Reports, dokter mencatat bahwa selain saat berhubungan seks, penis patah dapat terjadi saat masturbasi atau membalikkan tubuh di tempat tidur. Ahli urologi menjelaskan ‘kedaruratan urologis yang sangat tidak umum’ mudah dikenali dan didiagnosis karena umumnya menyebabkan suara pecah, bengkak tiba-tiba, memar, dan nyeri hebat. Pengidapnya mungkin juga sulit buang air kecil dan pendarahan pada penis.***

Tinggalkan Balasan