Selasa, 21 Mei 2024

Anak Buah Debat Sengit dengan Said Didu, Sri Mulyani Malah Pernah Akui Bayi Indonesia Menanggung Utang

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Said Didu

Jakarta (Riaunews.com) – Mantan sekretaris Kementerian BUMN Said Didu berdebat Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo soal pandangannya mengenai bayi di Indonesia yang lahir langsung menanggung utang negara.

Mulanya, Yustinus menanggapi cuitan soal pandangan tersebut. Ia menilai pandangan itu sebenarnya tidak benar. Sebab, utang negara tetap dibayar oleh pemerintah melalui penerimaan negara.

“Faktanya kan tidak demikian, tapi dibayar negara dari hasil aktivitas ekonomi termasuk pajak,” ungkap Yustinus dalam balasan cuitan ke akun Twitter @NephiLaxmus, Kamis (25/2).

Cuitan Yustinus kemudian mendapat balasan dari Said Didu. Ia menilai bayi baru lahir di Indonesia faktanya memang akan ikut menanggung utang.

“Siapa yang mengatakan bayi baru lahir bayar utang? Yang jelas bayi baru lahir akan ikut menanggung utang. Mari kita jujur,” ucap Said.

Yustinus pun menantang Said untuk menjelaskan kepada publik mengapa bayi baru lahir di Indonesia akan ikut menanggung utang?

“Ya kedua hal itu sama saja di-framing, sudah banyak kok narasinya. Nggak usah menampik. Bagaimana ‘bayi baru lahir ikut menanggung utang’ Anda jelaskan?” balas Yustinus.

Pandangan bayi baru lahir di Indonesia ikut menanggung utang sebenarnya pernah diakui oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa tahun yang lalu.

Dalam sebuah kuliah umum di Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), bendahara negara pernah mengatakan hal tersebut karena utang Indonesia mencapai 27 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2017.

Dari jumlah itu, bila dibagi ke jumlah populasi di dalam negeri, maka setiap masyarakat di Indonesia memiliki utang sebesar US$997 per kepala atau sekitar Rp13 juta.

“Rasio utang kita memang cukup tinggi. Kalau dihitung itu dari hampir 260 juta penduduk, kira-kira utang kita US$997 per kepala,” tutur Ani, sapaan akrabnya, pada 2017.

Kendati tinggi, Ani memastikan angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan tanggungan utang yang menjadi beban warga Amerika Serikat dan Jepang.

“Di Amerika Serikat, setiap kepala menanggung utang US$62 ribu. Sedangkan di Jepang sebesar US$85 ribu per kepala,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *