Rabu, 1 Februari 2023

Imam Islamic Center New York Merasa Aneh Menteri Pendidikan Bangga Dansa Siswa SMPN 1 Ciawi

Kesya Aditia Putra Winardi dan Devina Anindita siswa SMP 1 Ciawi yang viral karena melakukan dance di lapangan sekolah. (Foto: Kapanlagi)

Jakarta (Riaunews.com) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengapresiasi dansa siswa SMPN 1 Ciawi, Kabupatem Bogor, Jawa Barat (Jabar).

“Prestasi ini cukup membanggakan bagi sang Menteri. Tapi bagaimana dg prestasi yang lebih menyentuh masa depan & juga menjaga nilai-nilai budaya luhur yang baik?” kata imam di Islamic Center of New York, Imam Shamsi Ali di akun Twitter-nya @ShamsiAli2, Ahad (22/1/2023).

Kata Imam Shamsi, ketika ada budaya yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia dituding budaya impor.

“Aneh, ketika ada budaya yang relevansinya dg moralitas dituduh impor budaya. Tapi dg ini bangga,” paparnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim mengaku bangga dengan aksi dansa siswa dan siswi SMPN 1 Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang viral di media sosial.

“Bangga sekali dengan Kesya Aditia Putra Winardi dan Devina Anindita dari SMP 1 Ciawi yang bisa menari sekeren ini,” ujar Nadiem melalui unggahan di media sosial Instagram-nya, Rabu (18/1).

Nadiem juga memberikan semangat kepada Kesya dan Devina untuk berkarya, berprestasi dan mengejar mimpi.

Kesya dan Devina berdansa di sekolah viral di media sosial. Keduanya berdansa dengan disaksikan siswa-siswi lainnya.

Aksi dua siswa dan siswi itu memuai apresiasi dan juga kritik dari sejumlah netizen.

Sebagian yang mengkritik mengaitkan itu dengan sentimen agama dan pengaruh budaya asing.

Pihak sekolah telah memberikan klarifikasi soal muridnya yang viral tersebut.

Kesya dan Devina disebut sebagai siswa yang juga atlet dance sport peraih medali emas.

“Kami izin klarifikasi. Anak-anak ini memang siswa/i dari sekolah kami, kebetulan mereka adalah atlet cabang olahraga dance sport, pemenang medali emas PORPROV Jabar 2022,” tulis pihak SMPN 1 Ciawi, di akun Instagram mereka.

Sekolah menegaskan tidak mengadakan ekstrakurikuler dance sport dan tidak memasukkan dance sport ke dalam kurikulum pembelajaran.

Sekolah juga memastikan kedua muridnya mengikuti kompetisi tersebut atas nama pribadi. Pihak sekolah hanya turut bangga dan mengapresiasi prestasi yang muridnya persembahkan.

Dalam keterangannya, pihak sekolah mengatakan dance sport dinaungi oleh Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI), juga diperlombakan bagi atlet-atlet difabel, di mana mereka mengikuti Dance Sport dengan menggunakan kursi roda.***

Tinggalkan Balasan