Jumat, 20 Mei 2022

Mediasi Pigai dan Abu Janda, Sufmi Dasco Banjir Cibiran Netizen

Sufmi Dasco Ahmad.

Jakarta (Riaunews.com) – Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad baru saja membuat kejutan, yakni mempertemukan dan memediasi Natalius Pigai dengan Permadi Arya alias Abu Janda.

Tak tanggung-tanggung, pertemuan tersebut diduga dilakukan di sebuah hotel berbintang di Jakarta, yakni di Hotel Fairmont, sebagaimana yang ditulis Sufmi Dasco di akun Twitternya.

“PERKUAT DIRI MEMBANGUN NEGERI, Bersama Natalius Pigai & Abu janda ,Fairmont.8-2-2021,” tulis Sufmi Dasco di akun @Don_dasco, Senin (8/2/2021).

Namun, alih-alih mendapat dukungan, akun Sufmi Dasco malah banjir cibiran dari para netizen yang selama ini gerah dengan perangai si Abu Janda.

“Selamat, anda telah semakin mempelebar jarak perbedaan atas nama hukum. Dan terima kasih atas sumbangsih anda yg telah perlihatkan bahwa kelompok penguasa saat ini lah yg telah memelihara pemecah belah rakyat Indonesia. Berlindung dibalik Saya NKRI, Saya Pancasila,” tulis @fredjonhar.

“Enaknya yg pro kekuasaan bebas,mau rasis tinggal bersembunyi dibalik kebhinekaan,mau menista agama tinggal bersembunyi dibalik toleransi…ini negara hukum apa hukum milik penguasa?lama2 anak2 cucu loe pada bakal menyebut abu janda dengan gelar pahlawan nasionalis..miris,” sindir @benk2_zha.

Selain itu, ada juga netizen yang membandingkan sikap Gerindra terhadap Habib Riziq Shihab dan FPI, yang notabene mendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 silam dan saat ini tersandung masalah hukum.

“Giliran sama HRS dan FPI diem ajah. Emang manfaatnya si babu janda ini apa, kader gerindra ?” cuit @kenshinov.

“Giliran ama HRS dan FPI situ mingkem!” sebut @diatius.

Sebagian lain mengungkapkan kekecewaannya pada Gerindra yang saat ini sudah berkoalisi dengan rezim.

“Speechless…saya nyesel teramat sangat sudah mempercayakan suara saat pilpres kemarin….,” ungkap @Ramadian40.

“Gerindra, the new protector of Abu Janda,” sindir @ucokseparoh.

“Raut wajahmu menampakkan ketidak ikhlasan sbg mediator. ada tekanan dan perintah dri orang yg punya power. Inilah nasib mjd budak kekuasaan. tak sanggup lg menjunjung idealisme,” kata @ridho_maestro.***

Tinggalkan Balasan