Jumat, 12 Juli 2024

Pulang dari zona merah corona, pemuda Pasaman ini isolasi mandiri di areal sawah

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
(ilustrasi pondok sawah)

Pasaman (Riaunews.com) – Seorang pemuda di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, Yogi Arman, mengisolasi diri di sebuah pondok di tengah sawah lantaran khawatir membawa virus corona (Covid-19) sepulang dari Bogor, Jawa Barat. Meski belum pasti positif terinfeksi, dia tetap takut keluarganya tertular.

“Saya pulang dari zona merah Covid-19. Saya takut kalau membawa virus pulang, yang mungkin saya dapatkan dari bandara atau dari mana saja. Kalau saya di rumah, pasti 80 persen akan kontak langsung dengan keluarga,” ujar Yogi, Sabtu (18/4/2020).

“Inilah alasan saya mengisolasi diri di tempat yang jauh dari keluarga. Saya ingat papa punya pondok kecil di sawah. Sebelum pulang, saya minta keluarga menyiapkan pondok itu sebagai tempat isolasi,” tambahnya.

Yogi mengisolasi diri sejak 13 April. Pondok di tengah sawah itu berlokasi di Kampung Tanjung Aro, Nagari Bahagia, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

Setiap jam makan, anggota keluarganya mengantarkan makanan dengan memakai masker. Tempat makanan dan minuman terbuat dari plastik sekali pakai sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan penyebaran virus corona.

Dilansir CNN Indonesia, Sabtu (18/4), Yogi adalah seorang wirausahawan yang membuka toko di Bogor, Jawa Barat. Dia sudah menutup toko akibat terdampak virus corona. Yogi kekurangan pelanggan.

Dia lalu memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Namun, sebelum pulang, Yogi memutuskan untuk ikut pelatihan kerja yang diselenggarakan oleh Telkom selama dua hari mulai 23 Maret.

Namun, karena wabah Covid-19, pelatihan itu ditunda. Telkom belum memberikan informasi jadwal lanjutan.

Yogi memutuskan untuk pulang ketimbang berada di Bogor yang merupakan zona merah virus corona. Pendapatan lulusan Manajemen Industri di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu pun sudah tidak cukup untuk dipakai sehari-hari.

Selama perjalanan pulang, Yogi bersikap hati-hati agar tidak tertular virus corona. Misalnya, setiba di Bandara Internasional Minangkabau ia mandi dan mengganti pakaian serta membungkus pakaian lama dengan kantong plastik.

Ketika tiba di rumah, ia tidak menyalami keluarganya, tetapi langsung pergi ke tempat isolasi yang jaraknya 300 meter dari rumahnya.

“Sebenarnya saya ingin sekali bersalaman dengan keluarga saya. Saya rindu karena sudah setahun tidak pulang,” ucapnya.

Ia terinspirasi mengisolasi diri di tempat yang jauh karena mengetahui banyak penularan virus dari perantau. Karena itu, ia meminta kepada pemerintah daerah di Sumbar untuk mewajibkan perantau yang pulang kampung mengisolasi diri.

“Kalau cuma imbauan, banyak perantau yang tidak mengindahkannya pentingnya isolasi,” ujarnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *