Minggu, 14 April 2024

Netizen Ramai Sebut Rumput JIS Jelek, PSSI: Nonton Langsung Dong, Jangan dari TV

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga.

Jakarta (Riaunews.com) – Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga merasa heran dengan kritikan yang ramai di media sosial soal kualitas rumput Jakarta International Jakarta (JIS).

Pada Sabtu (10/11/2023), Stadion JIS menggelar dua laga, yakni Inggris melawan Kaledonia Baru dan Iran menghadapi Brasil.

Netizen menyoroti soal rumput JIS yang tampak mengering padahal baru saja direnovasi dengan anggaran sebesar Rp6 miliar. Arya mengatakan, kondisi fisik rumput bukan sekadar penampakan di televisi.

Terlebih, setiap televisi memiliki saturasi yang berbeda sehingga terdapat perbedaan.

“Kondisi rumput itu harus dilihat langsung ke lapangan, bukan hanya sekedar melihat di televisi,” ujar Arya dalam rilis tertulis sebagaimana dilansir laman tvOnenews.com.

Sejauh ini, Arya menegaskan bahwa tidak ada keluhan yang disampaikan oleh tim peserta berkaitan dengan kualitas lapangan. Termasuk JIS yang dikritik pada pertandingan Inggris melawan Kaledonia Baru dan Iran menghadapi Brasil.

“Bahkan hingga hari ini, belum ada tuh keluhan dari tim-tim soal lapangan,” ucapnya.

Dia menambahkan, bahwa JIS merupakan stadion yang paling sibuk di Piala Dunia U-17 2023.

Selain menggelar laga di Grup C, stadion berkapasita 80 ribu penonton itu pun bakal menjadi tempat pertandingan Grup E. Kemudian, JIS bakal menjadi stadion yang digunakan untuk menggelar salah satu laga di Grup F.

“Perlu diketahui, jika JIS merupakan stadion yang paling banyak dipergunakan untuk pertandingan Piala Dunia U-17 ini,” tegasnya.

Arya pun menegaskan, bahwa pengaturan venue pertandingan merupakan keputusan dari FIFA.

“Match paling banyak itu di JIS dan itu rekomendasi FIFA. Kenapa? ya sebab mungkin rumputnya tahan untuk bermain banyak. Kita asumsikan seperti itu saja, karena memang kami berharap bisa bagus. Mengingat rumput dan lapangan di JIS ini dikerjakan langsung oleh FIFA, dengan konsultan FIFA dari Australia dan bukan kami yang mengerjakan. Walaupun rumputnya dari Indonesia, karena kami mencari rumput yang mudah diperoleh dan cepat,” tuturnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *