Kamis, 18 Agustus 2022

Akibat Sistem Pendidikan Kapitalis “Negeri Wakanda”, bunuh diri jadi tren dikalangan pelajar

Oleh Ina Ariani Pemerhati Kebijakan Publik dan Sosial

Baru-baru ini viral berita dimedia sosial pelajar bunuh diri. “Sebelum ditemukan tewas gantung diri, mahasiswa berinisial BH sempat berkeluh kesah soal kuliahnya selama 7 tahun yang tak kunjung selesai. Ia juga sempat depresi karena skripsinya tidak kunjung diterima oleh dosen pembimbing. Akibatnya dia pun stres, dan akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri,” tutur Kanit Reskrim Polsek Sungai Pinang, Iptu Fahrudi. (Kompas.com,15/7/2020)

Hal yang sama juga terjadi pada seorang wanita yang ingin masuk PTN. Berawal dari kiriman di akun Twitter @utbkfess, sender atau pengirim menyampaikan bahwa adiknya yang saat itu sedang menunggu pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi, memiliki nazar jika ia benar diterima di PTN impiannya ia akan memberi santunan untuk anak yatim.

Jika ia tidak lolos pun, ia pun memiliki nazar lainnya. Si kakak mengetahui nazar itu. Setelah mengetahui hasil kelulusan si kakak khawatir dengan keadaan adiknya tersebut. (Hops.ID, 13/7/2022)

Bunuh diri, sebegitu berat kah masalah hidup nya. Sehingga menyelesaikan sebuah permasalahan dengan gantung diri? Na’udzubillah

Ternyata di negeri wakanda, kasus bunuh diri bukan hal yang asing bagi masyarakat. Dari bermacam usia, dewasa, remaja bahkan usia anak-anak pun melakukannya. Berbagai hal bisa jadi penyebab diambilnya keputusan tersebut. Islam tentunya punya pandangan sendiri terkait bunuh diri.

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.”

Ayat ini menjelaskan kepada kita umat terbaik jangan lemah dan mudah berputus asa hanya keberhasilan mu untuk menggapai cita-cita yang kamu inginkan masih tertunda, sekarang mungkin belum tapi yakinlah akan janji Allah.

Inna ma’al urri yusro
“Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan“.

Berkebalikan dengan sistem Islam yang menjadikan tujuan pembangunan kepribadian Islam sebagai inti sistem Pendidikan, menjamin akses Pendidikan pada semua WN dan menghasilkan masyarakat yang kokoh sejahtera.

Jadi banyaknya kasus bunuh diri pada pelajar adalah bukti nyata Pendidikan sekuler gagal membangun kepribadian yang kuat pada pelajar. Di saat yang sama sistem sekuler membangun masyarakat yang penuh tekanan hidup, sulit mendapat kebutuhan (termasuk sulit sekolah) dsb.

Kasus bunuh diri ibarat gunung es. Hanya sedikit yang terungkap. Padahal, ini sudah mulai menjadi penyakit yang menggejala pada generasi. Berdasarkan Statistik Potensi Desa Indonesia tahun 2021 saja, telah terjadi 5.787 korban bunuh diri maupun percobaan bunuh diri (antaranews.com, 8/12/2021). Angka ini meningkat dari data tahun 2018, yaitu sebanyak 4.560 kasus bunuh diri di Indonesia (jawapos.com, 10/12/2021).

Bahkan, menurut WHO, bunuh diri merupakan penyebab kematian keempat pada kelompok umur 15-29 tahun, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah (who.int, 17/6/2021). Penyebabnya pun beraneka ragam. Ada yang karena depresi, tidak lulus ujian, stres karena kuliah, kasus bullying, bahkan putus cinta.

Potret Kelam Pelajar dalam Sistem Sekuler

Remaja hari ini amatlah rentan ketika ditimpa masalah. Mereka menganggap masalahnya paling besar, seolah tak ada jalan keluar. Selalu mencari cara untuk melarikan diri, bukannya mencari solusi. Tak dimungkiri, bunuh diri menjadi hal yang diminati. Sebab setelah itu, mereka menganggap tak lagi merasakan beratnya ujian hidup. Sangat tepat bila mereka disebut bermental “krupuk”, tak memiliki mental baja. Semangat juangnya amatlah rendah dan mudah sekali termakan kata orang.

Seperti inilah potret generasi hasil sistem pendidikan sekuler. Agama dijauhkan dari kehidupan. Akibatnya, mereka tak memahami syariat, cenderung berperilaku bebas dan sesuka hati. Perkara bunuh diri yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam pun berani mereka langgar.

Kondisi ini diperparah dengan tekanan hidup yang amat berat. Generasi dituntut untuk berpendidikan tinggi. Akan tetapi, untuk masuk ke gerbang pendidikan tersebut sangatlah sulit. Pendidikan yang sebenarnya adalah kebutuhan seluruh rakyat tanpa terkecuali, namun sistem sekuler membuat pendidikan hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang. Biaya yang mahal, seleksi yang ketat, dsb membuat masyarakat kesulitan.

Kondisi inilah yang membuat generasi hari ini merasa harus berkompetisi dengan teman sebayanya. Ketika tak mendapat apa yang ia impikan, generasi sekuler mudah depresi dan putus asa, sehingga membuat keputusan tanpa pikir panjang, yaitu bunuh diri.

Solusinya hanya Islam

Tak ada kata lain lagi untuk menyikapi problem generasi yang semakin menjadi-jadi, kecuali kembali pada Islam. Sebab, Islam adalah agama yang berasal dari Sang Pencipta. Sebagai makhluk yang lemah, manusia harus mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dunia adalah sementara, akhirat adalah pasti dan abadi. Dengan berakhirnya hidup, bukan berarti urusan selesai. Akan tetapi, masih ada pertanggungjawaban di akhirat kelak. Maka, selama masih di dunia, ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala harus totalitas.

Islam sebagai agama yang sempurna, telah menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan dan hak bagi seluruh rakyat, tanpa terkecuali. Dengan kata lain, negara wajib menjamin seluruh rakyatnya untuk mendapatkan akses pendidikan. Negara yang dapat menerapkan syariat Islam secara kafah inilah yang disebut khilafah.

Pendidikan Islam sangat berbeda jauh dengan pendidikan sekuler. Sistem sekuler cenderung abai terhadap agama dan tak peduli pada kepribadian generasi. Sementara tujuan pendidikan Islam adalah untuk menciptakan generasi yang berkepribadian Islam. Kurikulumnya juga berasaskan akidah Islam. Dengan begitu, generasinya dapat memiliki pola pikir dan pola sikap Islami. Mereka akan takut untuk bermaksiat dan selalu berusaha taat pada syariat.

Pendidikan Islam juga bertujuan untuk membekali pelajar dengan tsaqafah Islam beserta ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga, generasi yang paham syariat akan paham, mana yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Mereka juga tidak menjadi umat yang tertinggal. Sebaliknya, justru menjadi umat terdepan.

Generasi unggul hasil sistem pendidikan khilafah amatlah banyak. Ada ilmuwan seperti Abbas Ibnu Firnas Sang Penemu Pesawat, Al-Khawarizmi Sang penggagas angka nol, Maryam al-Astrulabi sang penemu astrolab (cikal bakal GPS). Ada juga ulama yang mencapai dua ketinggian derajat, sebagai mujtahid dan mujahid, yaitu Imam Syafi’i. Dan masih banyak lagi.

Dengan jaminan sistem pendidikan seperti ini, khilafah akan mampu menghasilkan masyarakat yang bermental baja dan sejahtera. Generasinya tak mudah rapuh ketika ditimpa ujian. Sebab, mereka memahami bahwa hidup adalah tempatnya ujian. Sikap yang benar ketika menghadapi ujian adalah sabar dan berikhtiar untuk menyelesaikannya. Dengan begitu, generasi akan disibukan untuk mencari solusi yang sesuai dengan syariat. Bukan malah bunuh diri.

Agar dapat terhindar dari perilaku salah, manusia harus menyibukkan diri dengan aktivitas yang diridhai Allah. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengkaji Islam secara kaaffah (menyeluruh). Kemudian, mendakwahkannya. Dengan begitu, semakin banyak umat yang sadar akan pentingnya menaati Islam secara kaaffah, dan merasa butuh akan hadirnya khilafah. Maka, generasi akan terselamatkan dan kesejahteraan dapat kita rasakan.

Wallahu A’lam Bishshowab***

Tinggalkan Balasan