Sabtu, 28 Mei 2022

Ancaman Resesi Seks Mengintai Dunia

Alfiah S,Si.

Oleh : Alfiah, S Si

Dunia kini tengah berhadapan dengan resesi seks, yaitu penurunan mood untuk berhubungan seksual, menikah, atau memiliki anak. Penyebabnya pun bermacam-macam, salah satunya adalah pandemi Covid-19. Selain Covid-19, salah satu penyebab resesi seks di tengah masyarakat adalah perubahan iklim. Nah kalau kaum LGBT terus diberikan angin tentu hal ini akan semakin memperparah keadaan.

Ternyata fenomena resesi seks sudah berlangsung cukup lama di Amerika Serikat (AS), yakni sejak 2012. Menurut The Washington Post, 23 persen orang dewasa mengaku tidak berhubungan seks dalam satu tahun terakhir. Kini, dunia dihadapkan dengan kesulitan sama seperti yang dirasakan AS. Beberapa negara di Asia yang mengalami resesi seks adalah Jepang, Tiongkok, Korea Selatan (Korsel), dan Singapura.

Jepang mencatatkan, kelahiran bayi turun 2,8 persen dibandingkan 2019 ke angka 840.832. Reuters mengungkapkan bahwa ini yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899. Untuk Tiongkok, pemerintah setempat sampai turun tangan karena efek resesi seks ini. Pemerintah Tiongkok merevisi aturan dan menyebutkan kini pasangan di negara tirai bambu tersebut boleh memiliki tiga anak.

Tak jauh berbeda dengan Jepang, di Korsel bahkan sampai ada gerakan tidak menikah yang dibuat oleh para perempuan di sana. Gerakan ini memanfaatkan feminisme yang sedang berkembang di Korsel. Gerakan tersebut bernama “Four Nos” yang merupakan kepanjangan dari “no dating, no sex, no marriage, and no child-rearing”. Sementara di negara tetangga Indonesia, yaitu Singapura, pembatasan sosial menjadi penyebab adanya resesi seks. Sebanyak 12,3 persen warga Singapura tercatat menunda pernikahannya di 2020.

Fenomena ini tentu sangat mengkhawatirkan. Pada Desember lalu, Miliarder teknologi Elon Musk mengatakan tingkat kelahiran yang rendah dan menurun dengan cepat adalah “salah satu risiko terbesar bagi peradaban”.

Musk menambahkan bahwa terlalu banyak “orang baik dan pintar” yang berpikir bahwa ada terlalu banyak orang di dunia dan bahwa populasi tumbuh di luar kendali. “Ini benar-benar kebalikannya,” kata Musk, mendesak orang untuk melihat datanya.

“Jika orang tidak memiliki lebih banyak anak, peradaban akan runtuh. Tandai kata-kataku”.

Benarlah ucapan Elon Musk jika populasi manusia kian merosot maka bisa dipastikan peradaban akan runtuh. Sungguh, setiap orang harus menyadari bahwa mendapatkan bayi yang baru lahir jauh lebih baik daripada membeli komputer.

Berakhirnya era kejayaan Inggris mungkin bisa menjadi pelajaran. Inggris menjadi negara superpower di tahun 1800-an setelah berhasil mengembangkan kekuatan ekonominya dengan jalan memanfaatkan kemajuan teknologinya, tenaga kerja murah dan bahan baku yang diperoleh dari wilayah-wilayah koloninya, serta mengembangkan pasar ke seluruh dunia melalui rute-rute perdagangan internasional yang dikuasainya.

Akan tetapi, negara Inggris kini telah kehilangan kekuatannya, bukan karena tidak memiliki kapabilitas teknologi, namun karena pasar globalnya telah menyusut. Sementara itu, kekuatannya untuk menyerap bahan baku dan tenaga kerja yang murah telah terkikis, dan karena berkurangnya jumlah populasi mereka pada sisi yang lain.

Sejatinya, besar kecilnya populasi telah dan akan selamanya menjadi salah satu di antara faktor-faktor krusial yang diperlukan sebuah negara untuk menunjukkan pengaruhnya terhadap kebijakan perekonomian dan geopolitik global. Tentu saja, berkurangnya ukuran populasi memberikan pengaruh kontraproduktif bagi sebuah bangsa yang memiliki ambisi untuk menjadi negara terkemuka di dunia.

Maka menjadi sebuah perkara yang penting bagi sebuah negara yang ideologis, untuk memiliki jumlah penganut yang besar atas ideologinya, yang akan mengikuti, mempraktikkan, mengimplementasikan, dan menyebarluaskan ideologinya itu.

Sesungguhnya Islam adalah satu-satunya ideologi yang benar yang akan menyelamatkan manusia dan membawa rahmat ke seluruh dunia. Islam menganjurkan umatnya untuk segera menikah dan memiliki banyak anak. Allah SWT berfirman :

وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ

Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui,” (QS An-Nur: 32).

Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Menikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka ia tidak mengikuti jalanku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.” (HR Ibnu Majah)

Jelaslah bahwa resesi seks tidak akan terjadi jika manusia tunduk pada aturan Illahi, yaitu dengan menikah dan memiliki banyak anak. LGBT? Tentu menyalahi kodrat dan mengundang azab, yaitu rusaknya moral dan kepunahan populasi.***

Penulis pegiat literasi Islam

Tinggalkan Balasan