Jumat, 1 Juli 2022

Bendera Tauhid Kok Dipandang Sempit

Alfiah, s.Si

Oleh : Alfiah, S.Si

LAGI-lagi Islamofobia menjangkiti publik negeri ini. Bendera tauhid yang merupakan bendera Rasulullah yang senantiasa digunakan saat berjihad dianggap semata bendera ormas tertentu. Miskinnya budaya literasi umat Islam saat ini terhadap khazanah ilmu dan tsaqafah Islam membuat pandangan terhadap Khilafah, syariah dan simbol-simbol Islam seolah racun yang membahayakan.

Ironisnya intelektual Islam bahkan ulama menjadi pihak terdepan dalam menolak perjuangan penegakan syariah dan Khilafah.

Seperti apa yang terjadi baru-baru ini. Pegiat media sosial Husain Alwi Shihab meminta polisi untuk segera menangkap orang yang membawa bendera HTI atau Khilafah pada kegiatan deklarasi Anies Baswedan. Ia menilai pengibaran bendera HTI itu menyalahi konstitusi, sebab organisasi itu sudah menjadi organisasi terlarang di Indonesia (fajar.co.id, 08/06/2022).

Sebelumnya, Polisi menyebut tengah menyelidiki kelompok yang menamakan dirinya Majelis Sang Presiden Kami dalam deklarasi Anies Baswedan sebagai caores 2024 di Hotel Bidakara. Hal ini terkait bendera tauhid yang sempat berkibar.

Pengurus Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme MUI Makmun Rasyid dalam keterangannya, Kamis (9/6/2022) bahkan mengkaitkan pengibaran bendera tauhid pada deklarasi Anies Baswedan dengan penangkapan pimpinan Khilafatul Muslimin.

Makmun mengatakan Abdul Qodir (pimpinan Khilafatul Muslimin) mempunyai jejak berafiliasi dengan kelompok teroris. Ia berencana mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Makmun mengatakan Khilafatul Muslimin sama dengan kelompok-kelompok radikal lainnya. Salah satunya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kemudian Makmun menduga penangkapan pimpinan Khilafatul Muslimin memicu sejumlah peristiwa lainnya. Salah satunya munculnya bendera mirip bendera HTI dalam acara deklarasi dukungan terhadap Anies Baswedan sebagai capres 2024, kemarin (8/6). (news.detik.com, 9 Juni 2022)

Demikianlah, kriminalisasi ajaran Islam, bendera tauhid, dan Khilafah terus dilakukan dan dimanfaatkan dalam momen hiruk pikuk pencapresan. Opini publik digiring mendesak capres agar turut dalam arus memonsterisasi ajaran Islam. Hal ini jelas membuktikan politik demokrasi sangat antipati terhadap Islam dan hanya memberi 1 pilihan pada kontestan manapun: bila mengikuti prosedur politik demokrasi maka harus anti Khilafah (anti Islam).

Terkait bendera tauhid yang sering dituduhkan sebagai bendera HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) menunjukkan dangkalnya pemahaman terhadap simbol Islam ini yaitu Al-Liwa da Ar-Rayah. Padahal prakteknya telah digunakan oleh Rasulullah SAW semenjak berdirinya Negara Islam paling awal di Madinah al-Munawwarah. Syariah telah memberikan makna syar’i untuk masing-masing bendera tauhid ini , Al-Liwa’ da Ar-Rayah.

Al-Liwa’ berwarna putih, tertulis di atasnya Laa ilaaha illaa Allah Muhammad Rasulullah dengan tulisan warna hitam. Al-Liwa iru menjadi pertanda posisi amir atau komandan pasukan dan turut beredar sesuai peredaran amir atau komandan pasukan itu. Dalil penetapan al-Liwa untuk amir (pimpinan) pasukan adalah sebagai berikut :
“Sesungguhnya Rasulullah SAW masuk ke kota Makkah pada saat pembebasan Makkah, sementara Liwa’ Beliau berwarna putih.”(HR Ibn Majah dari Jabir)

Adapun Ar-Rayah berwarna hitam; tertulis di atasnya Laa ilaaha illaa Allah Muhammad Rasulullah dengan tulisan warna putih. Ar-Rayah berada bersama para komandan bagian-bagian pasukan (sekuadron, detasemen, dan satuan-saruan pasukan yang lain). Dalilnya adalah bahwa Rasulullaj saw., ketika menjadi panglima pasukan di Khaibar, Beliau bersabda :
“Sungguh, besok aku akan menyerahkan ar-rayah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai Allah dan Rasul-Nya.” Lalu Beliau menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib. (HR Muttafaq ‘alaih).

Jadi jelaslah bendera tauhid yang dituding milik kelompok tertentu adalah simbol perjuangan kaum muslimin semenjak masa Rasulullah saw. Siapa saja umat Islam boleh menggunakan simbol tersebut asal dijaga kehormatan dan kemuliaaannya, karena di dalamnya terdapat kalimat syahadat. Wallahu a’lam bi ash-shawab.***

Penulis pegiat literasi Islam

Tinggalkan Balasan