Kamis, 29 Februari 2024

Bunuh Diri Terjadi Lagi, Ada Apa Dengan Generasi Hari Ini

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 

Oleh Oki Ummu Kinan, penggiat literasi asal Kabupaten Siak-Riau

Kasus bunuh diri usia anak-anak kembali terjadi. Kompleksnya problem yang dihadapi anak-anak sang generasi. Sejatinya mereka adalah pengampu tongkat estafet pemimpin negeri di masa yang akan datang. Masalah yang timbul, kian hari makin meresahkan, ada apa sebenarnya dengan generasi?

Di Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan seorang bocah sekolah tingkat dasar mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Hanya gara-gara dilarang main smartphone oleh sang ibu. Miris, korban ditemukan tak bernyawa di kamarnya pada Rabu (22/11).

Kejadian ini di laporkan oleh orang tua korban ke Polres Pekalongan. Kasatreskrim Polres Pekalongan, AKP Isnovim membenarkan bahwa pihaknya menerima adanya laporan tersebut, pada Rabu (22/11/2023) kemarin.

Dilansir dari DetikJateng, pada Kamis (23/11/2023) AKP Insnovim saat dikonfirmasi membenarkan. Laporan masuk sekitar pukul 16.00 wib, namun saat polisi ke lokasi kejadian, kondisi korban sudah dievakuasi untuk mendapatkan pemeriksaan di puskesmas.

Menurut ibu korban, saat itu anaknya terus bermain smartphone miliknya. Kemudian si ibu meminta HP tersebut agar si anak makan siang. Namun, anak ini malah marah dan langsung masuk kamar dan mengunci diri.

Sampai sore hari, sekitar pukul 15.30 wib, ibu mengira si anak masih tidur. Lantas iapun membangunkan untuk pergi mengaji ke TPQ.

Saat pintu diketuk beberapa kali, tidak ada jawaban. Ibu ini mencoba mengintip dari lubang pintu. Kaget, karena dilihat si anak sudah tergantung di jendela kamar yang ada di atas kasurnya dengan menggunakan kain selendang.

Beberapa saksi lantas mendobrak pintu kamar, kondisi anak sudah kaku dan tidak bergerak. Menurut hasil pemeriksaan puskesmas, jasad korban ditemukan luka jeratan dileher, pupil mata yang membesar, keluar feses dari anus, badan dan kuku berwarna pucat.

Ada Apa Dengan Generasi Negeri Hari ini

Merunut dari kejadian-kejadian yang telah terjadi, kasus bunuh diri bocah di pekalongan bukanlah yang pertama.

Beberapa bulan sebelumnya setahun terakhir ini, sudah pernah terjadi kejadian serupa. Salah satunya di jakarta selatan, pada bulan September 2023, siswi sekolah dasar bunuh diri dengan melompat dari ketinggaan bangunan sekolah dari lantai 4.

Lalu, di Banyuwangi pada bulan Februari 2023, juga anak sekolah dasar kls 4 mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Penyebabnya karena dia acap kali dibully oleh teman-temannya hanya karena tidak punya ayah.

Ada apa dengan generasi hari ini, tindakan bunuh diri seolah menjadi solusi atas permasalahan yang terjadi.

Generasi yang lahir pada sistem kapitalis sekuleris hari ini bersumbu pendek. Keputusan yang diambil dianggap solusi tanpa berpikir akan konsekuensi jangka panjang.

Generasi negeri hari ini sedang tidak baik-baik saja. Sistem Kapitalis-Sekuleris adalah biang masalahnya. Kerusakan dari segala lini adalah bukti nyata kompleksnya masalah yang ditimbulkan.

Sistem pendidikan yang ada pada sistem hari ini, belum mampu membentuk karakter yang tepat dan hebat seperti yang di harapkan. Justru melahirkan mental dan moral yang jauh dari kata ideal.

Terbukti, kesiapan anak-anak dalam mengahadapi setiap masalah belum mampu membuat mereka kuat untuk hadapi kenyataan. Tergerusnya ide seklueris liberalisme, membuat generasi yang minim empati dan happy fun hanya sebatas mencari kesenangan duniawi.

Sistem Kapitalis-Sekulerisme menjauhkan manusia dari pondasi yang kokoh yaitu aqidah Ruhiah. Sehingga agama di jauhkan dari kehidupan. Visi dan misi dalam menjalani kehidupan, seolah berjalan tanpa arah dan tujuan. Standar bahagia kembali pada kebahagiaan dunia.

Wajar, jika anak-anak hari ini tidak menjadi kuat. Tidak mampu bertahan pada keadaan. Mencari dan mengambil jalan pintas dalam setiap mengambil keputusan.

Pahala dan dosa bukan standar perbuatan. Baik dan buruk versi mahluk sesuai keinginanan. Rasa kasih sayang dan berbakti pada orang tua seolah menjadi pengahalang jika tidak sesuai keinginan.

Semua Pihak Harus Serius Mencari Solusi Tepat

Kejadian demi kejadian tidak bisa didiamkan. Membiarkan penyelesaian masalah harus di selesaikan hingga sampi akarnya. Demi menyelamatkan karakter generasi negeri ini.

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi anak untuk mendapatkan kasih sayang dan perlindungan. Perhatian orang tua dan orang-orang di lingkup keluarga juga menjadi hal yang utama. Karena dari sinilah awal mula karakter dan didikan generasi terbentuk untuk pengajaran.

Didikan agama menjadi landasan agar tidak dijauhkan dalam kehidupan, karena aturan Yang Maha Menciptakan terikat dan mengikat untuk kemaslahatan.

Lingkungan di luar keluarga adalah pihak kedua yang turut terlibat. Apakah sekolah, masyarakat, teman-teman dan orang-orang yang terdekat.

Lebih peka, ber empati dan bersimpati kepada siapapun. Kepedulian yang lebih tinggi atas kondisi yang ada. Tidak berdiam diri pada situasi dan kondisi yang buruk.

Kedua pihak ini juga harus di dukung oleh pihak ketiga yaitu negara. Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keamanan dan kenyamanan yang tercipta. Penanggulan masalah yang menyelesaikan masalah, bukan malah menambah masalah.

Pandangan Islam dan Solusi

Islam adalah agama yang unik, agama dan aturan tidak dapat dipisahkan ketika menjalani kehidupan. Ada seperangkat aturan dari yang Menciptakan, menjadi kewajiban untuk dilaksanakan.

Pahala dan dosa menjadi standar pada setiap perbuatan. Setiap muslim didorong untuk menjadi hamba yang bertakwa, menjalani segala perintah dan menjauhi segala apa yang menjadi laranganNYA.

Amar ma’ruf nahi munkar adalah aktivitas yang wajib dijalankan. Mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran pada siapapun tanpa melihat status jabatan.

Sepanjang sejarahnya Islam hadir dan diterapkan dalam bingkai negara. Negara menjadi pion utama, yang bertanggung jawab atas urusan rakyatnya.

Pendidikan dalam Islam hanya berbasis aqidah dan tsaqofah, terbukti melahirkan generasi yang berkarakter dan bersyaksiyah Islam. Unggul di ilmu alam dan juga ilmu akhirat. Telah terbukti para imam dan ilmuan yang lahir dari peradaban Islam hingga kini tetap menjadi rujukan umat muslim dan juga dunia.

Setiap masalah yang terjadi, harus segera diselesaikan. Hukum Islam berfungsi menjadi penghapus dosa dan memberi efek jera. Sehingga mencegah orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Bila dirunut dari kasus yang terjadi, generasi hari ini hilang arah tujuan. Pandangan hidup hanya sebatas kesenangan dunia, padahal akhir kesenangan hidup adalah menuju akhirat yang menyenangkan.

Memperbanyak amal pahala untuk menjadi bekal akhirat yang diidamkan. Dunia hanya dinikmati sekedar saja, karena waktu terlalu berharga untuk disia-siakan.

Rasulullah SAW, adalah sang suri tauladan sepanjang zaman. The real Idola bagi setiap kalangan.

Seyogyanya, negara harus menciptakan suasana yang mengkondisikan keimanan terus terjaga. Meninggalkan segala sistem dan budaya yang mengantarkan umat pada dosa. Misal menghapus konten, film, lagu dan game yang tidak berfaedah, karena menjadi penyebab lalainya untuk segera menjalani kewajiban.

Sistem kapitalis-sekularisme dan turunannya bukan dari Islam, sudah sepatutnya ditinggalkan dan hanguskan.  Kini, tinggal satu masalahnya agar mau kembali pada sistem yang telah berhasil mencetak generasi ke puncak kegemilangan di masa peradabannya.

Wallahu’alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *