Sabtu, 23 September 2023

Eksploitasi Anak Demi Konten; Sungguh Terlalu!

Alfiah S.Si

Oleh : Alfiah, S.Si

Saat ini kita hidup di era fitnah dan penuh drama. Viral dan popularitas seakan menjadi keharusan yang wajib dilakonkan. Yang penting cuan, cuan, cuan. Tak peduli dengan ‘nyinyiran’ dan kritikan yang bakal didapatkan. Meski harus mengorbankan anak yang belum tahu kejamnya dunia dan kerasnya alam. Yang penting mata dunia tertuju pada lakonnya. Benarlah kata pepatah Arab, jika ingin terkenal, kencingi sumur zam-zam.

Ya, popularitas kini telah menjadi tujuan banyak orang. Banyak milenial kini berlomba menjadi youtuber, selebgram, tiktoker, conten creator dan sejenisnya. Mirisnya popularitas membuat seseorang abai akan pesan moral yang harus diwujudkan. Abai terhadap hal-hal yang harus dijaga. Bahkan keselamatan anaknya sendiri yang masih bayi dinomorsekiankan. Dorongan eksistensi diri menjelma menjadi lakon horor yang membahayakan keselamatan dan membuat ‘gregetan’ yang masih menjaga kewarasan.

Bagaimana tidak ‘gregetan’? Bisa-bisanya ada sepasang orang tua ber’happy’ ria mengajak anaknya yang baru 5 bulan untuk naik jetski dengan sedikit mengebut ke tengah laut.

Ria Ricis dan suaminya nekat membawa bayinya yang masih berumur 5 bulan bermain jetski. (Foto: detik)

 

Tak berhenti di sana, Ria Ricis dan Teuku Ryan juga mengajak Moana bermain ATV (all-terrain vehicle) dengan menggunakan gendongan. Moana yang terlihat mengantuk di gendongan Ria Ricis pun bahkan sampai tertidur di ATV.

Sontak saja, kedua video tersebut banjir kritikan warganet. Hingga tulisan ini dipublikasikan, sudah lebih dari 17 ribu komentar bertengger dalam video naik jetski dengan bayi yang diunggah Ria Ricis. Begitupun dengan video saat keluarga ini main ATV, hampir lima ribu komentar masih mengkritik Ria Ricis dan Teuku Ryan (liputan6.com, 06/01/2023)

Mengacu pada aturan naik jetski, apa yang dilakukan Ria Ricis dan suami memang keliru. Mengutip laman Jet Drift, kebanyakan negara tidak memiliki batasan resmi untuk penumpang jetski. Namun, ukuran tubuh anak sangat penting saat hendak berada di atas jetski. Terlebih, ada berat dan tinggi minimum untuk penumpang jetski. Setiap penumpang diharuskan bisa meletakkan kedua kakinya di pijakan kaki jetski yang dikendarai.

Sedangkan dalam hal berat, setidaknya anak harus memiliki berat minimal 18 pound atau sekitar 8,16 kilogram. Artinya, balita belum masuk kategori aman untuk ikut bermain jetski bersama orangtuanya karena ukuran badan yang belum memadai. Bahkan, saat anak sudah tergolong bisa diajak naik jetski, pengendara dilarang untuk membawa jetski dengan kecepatan tinggi. Disarankan pula menggunakan mode kontrol kecepatan agar mengendarainya tetap aman. Belum lagi, kecepatan yang diciptakan dari sebuah jetski sangat mungkin menciptakan ketakutan pada penumpangnya. Serta, disarankan untuk tetap memperhatikan kapasitas tempat duduk pada jetski yang digunakan.

Begitupun dengan ATV yang punya risiko bahaya tak kalah dengan jetski. Menurut panduan American Academy of Pediatrics (AAP), anak dibawa usia 6 tahun tidak diperbolehkan untuk mengendarai ATV. Serta, anak dibawah usia 6 tahun juga tidak diperbolehkan menjadi penumpang ATV. Hal ini lantaran fisik, mental, dan kemampuan anak pada usia dibawah 6 tahun belum mumpuni untuk berada di atas ATV.

Sejak 1985 hingga 2015, kecelakaan saat bermain ATV sudah menewaskan lebih dari tiga ribu anak berusia dibawah 16 tahun. Hampir 1 juta lainnya dibawa ke unit gawat darurat karena kecelakaan ATV. Jenis cedera dari ATV yang paling umum ditemukan adalah benjolan, memar, luka, dislokasi, dan patah tulang. Cedera serius lainnya seperti gegar otak dan cedera kepala pun terjadi.

Sesungguhnya Islam memberikan tuntunan bagaimana seorang perempuan dan ibu menjalankan kehidupan termasuk dalam mendidik dan menjaga keselamatan anak. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tabrani dari Ali bin Abi Thalib RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Didiklah anak-anakmu atas tiga hal: mencintai nabimu, mencintai ahli baitnya dan membaca Alquran. Sebab, orang yang mengamalkan Alquran nanti akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tiada naungan kecuali dari-Nya bersama para nabi dan orang-orang yang suci.”

Anak seharusnya dikenalkan dasar-dasar Islam semenjak bayi. Bukan diajarkan tentang apa yang lagi viral atau malah mengeksploitasi anak demi popularitas. Hal ini dilakukan untuk menanamkan rasa cintanya pada Islam dan Allah SWT. Hal ini sesuai dengan Hadist dari Ibnu Abbas, “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah”. Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (H.R Ibnu Abbas)

Sesungguhnya anak adalah amanah yang kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat kelak. Jangan sampai karena haus akan popularitas dan materi duniawi kita lupa mendidik mereka menjadi anak yang sholeh dan berbakti. Wallahu a’lam bi ash shawab.***

Penulis pegiat literasi Islam

Tinggalkan Balasan