Kamis, 29 Februari 2024

Fitrah Ibu ternoda, Kapitalisme lahirkan Ibu penuh derita

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 

Oleh Dewi Soviariani, ibu dan pemerhati umat.

Ibu selalu menjadi tempat ternyaman untuk anak-anaknya tercinta. Rasa damai yang tercipta dari sebuah ketulusan kasih sayang ibu tidak akan pernah tergantikan. Ibu selalu menjadi tempat bermanja karena kelembutan dan kesabarannya yang tulus.

Namun, hari ini situasi tersebut menjadi langka. Fitrah ibu kini ternoda. Seringkali akhir-akhir ini kita mendengar kabar pilu. Tentang kondisi ibu yang berubah kejam bak sembilu yang menikam tajam anak-anak mereka.

Ibu tega menyiksa bahkan membunuh darah dagingnya. Karena luka dan derita akibat terus memikul beban tak berkesudahan dalam kehidupan rumah tangga. Ibu kini berubah menjadi monster menakutkan yang tidak lagi menjadi tempat aman bagi si buah hati.

Seperti berita yang disadur dari BANGKAPOS.COM, BELITUNG (Selasa 23/01/2024). Rohwana alias Wana (38 tahun), seorang ibu di Kabupaten Belitung, Bangka Belitung, ditangkap polisi karena diduga membunuh dan membuang bayi yang lahir secara normal di kamar mandi.

Ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai buruh tersebut, membunuh bayinya sendiri dengan cara menenggelamkan ke ember berisi air setelah dilahirkan. Bayi itu kemudian dibuang ke semak-semak dalam kebun milik warga sekitar. Adapun penyebab terjadinya pembunuhan bayi ini dikarenakan beban ekonomi yang yang menghimpit rumah tangganya.

Rohwana tertekan dengan biaya membesarkan bayinya yang baru lahir. Ia tidak siap untuk merawat bayi yang tidak berdosa tersebut. Apalagi suaminya juga hanya bekerja sebagai buruh dan ada dua orang anak lagi yang masih membutuhkan biaya.

Sungguh miris nasib ibu hari ini. Himpitan ekonomi menjadi alasan mereka gelap mata untuk membunuh buah hatinya. Ibu tak lagi bisa menjaga fitrahnya yang memiliki naluri kasih sayang terhadap anaknya. Ibu merupakan sebuah peran mulia yang ditangannya Allah SWT berikan sebuah keistimewaan mengandung, melahirkan, menyusui serta mengasuh seorang anak.

Sebenarnya persoalan ekonomi sudah bukan menjadi rahasia lagi saat ini. Terpuruk nya ekonomi dan tingginya angka kemiskinan menimpa negeri-negeri muslim. Tak ayal dalam level terkecil yakni keluarga ikut merasakan dampaknya.

Apalagi banyak kaum ibu menjadi korban akibat lemah dan tidak berdayanya ekonomi keluarga. Selain itu juga faktor keimanan yang tidak mendukung para ibu untuk senantiasa menjadi hamba yang tawakal di setiap kondisi.

Hal ini disebabkan sistem kehidupan yang diadopsi oleh kaum muslimin bukan lagi ideologi Islam. Melainkan ideologi Kapitalisme yang melahirkan cabang-cabang permasalahan yang begitu kompleks.

Negara sendiri tak bisa memberikan jaminan kesejahteraan bagi para ibu. Masalah kesejahteraan ini nyatanya paling dominan. Bahkan tak sedikit kaum hawa yang harus berganti peran menjadi tulang punggung keluarga. Profesi yang mereka jalani pun sudah beralih, bertolak belakang dengan fitrah perempuan seperti yang telah Allah SWT perintahkan.

Banyak kekhawatiran yang muncul dibenak kaum ibu akibat orientasi hidup yang menuntut terpenuhinya materi. Akhirnya tak sedikit para ibu enggan memiliki anak banyak seperti yang Rasulullah Saw nasihatkan.

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاشِرٌ بِكُمُ اْلأَنْبِيَاءَ يَومَ الْقِيَامَةِ

“Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik]

Pemahaman sekuler (memisahkan aturan agama dari kehidupan) telah menjangkiti benak kaum muslimin. Termasuk para ibu yang kini hidup dibawah cengkeraman Kapitalisme. Bayang-bayang mahalnya biaya kehidupan membuat mereka dihinggapi rasa takut untuk memiliki anak banyak.

Kaum ibu dihadapkan dengan kehidupan materialistis serta hedonis sehingga semua kebutuhan diukur dengan standar materi. Belum lagi interaksi pasangan suami istri yang hari ini dilanda krisis komunikasi memperberat beban para ibu karena orang terdekat tak bisa memahami beban pikirannya.

Fungsi keluarga yang didamba memberikan rasa empati kini tiada. Belum lagi kondisi masyarakat yang kurang peduli terhadap nasib sesama. Sikap individualis menjadi ciri masyarakat kapitalis yang menganut paham sekuler liberal. Dan situasi diperparah dengan abainya negara.

Ibu tidak memiliki tempat mengadu, keluh kesah yang dirasa menggerogoti jiwanya. Dan alhasil anak yang menjadi korban atas matinya fitrah ibu. Negara harusnya memberikan perlindungan, namun fakta nya ibu yang melakukan pembunuhan tersebut tetap menjalankan hukuman.

Dipenjara, tanpa ada perhatian keluarga, saudara, tetangga apalagi negara. Nasib tragis kehilangan anak menyempurnakan beban penderitaannya.

Lemahnya ketahanan iman, tidak berfungsinya keluarga sehingga ibu juga terbebani pemenuhan ekonomi, lemahnya kepeduliaan Masyarakat, dan tidak adanya jaminan kesejahteraan negara atas rakyat individu per individu. Semua berkaitan erat dengan sistem yang diterapkan negara. Kapitalisme akar permasalahan utama dari ternodanya fitrah ibu.

Sampai hari ini kejadian serupa seperti di Provinsi Bangka, Belitung tersebut terus berulang. Negara hanya memberikan solusi tambal sulam. Penanganan yang tidak tuntas bahkan abai terhadap akar masalah yang mendera kaum ibu terus berlangsung. Entah sampai kapan penderitaan ibu berlanjut jika sistem rusak ini terus dipertahankan.

Butuh sistem hidup yang penuh nuansa keimanan untuk mencegah matinya fitrah ibu. Sistem yang tegak berdasar azas aqidah Islam yang kokoh. Sistem yang mengokohkan mental para penghuni yang dinaunginya. Caranya, dengan menerapkan sistem Islam yang ramah keluarga. Sistem hidup yang menyejahterakan.

Islam merupakan sebuah ideologi yang sangat relevan untuk memberikan solusi hakiki terhadap problematika kehidupan. Dalam Islam kedudukan seorang ibu sangat dipandang mulia. Fitrah nya yang penuh kasih sayang serta tugas yang berat sejak hamil, melahirkan, menyusui hingga mengasuh seorang anak. Allah SWT telah menjelaskan kedudukan tersebut didalam firman-Nya:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS Luqman: 14).

Seorang perempuan tidak diberikan beban untuk mencari nafkah. Apalagi menyelesaikan persoalan ekonomi keluarga yang berat sehingga meninggalkan kodrat serta fitrahnya yang mulia. Didalam penerapan ideologi Islam, jaminan kesejahteraan serta keamanan benar-benar terwujud dalam bentuk tanggungjawab negara.

Perempuan memiliki koridor khas yang mendapatkan perhatian penuh oleh negara. Setiap individu masyarakat terjaga dan terkontrol kualitas akidahnya. Lingkungan masyarakat dalam peradaban Islam adalah kumpulan individu masyarakat yang saling peduli dan saling tolong-menolong.

Masyarakat akan saling membantu ketika melihat tetangga ada yang mengalami kesulitan. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.” (HR At-Thabrani).

Begitu prinsip Islam mengajarkan kepedulian terhadap orang terdekat di sekeliling kita. Maka ketika himpitan ekonomi terjadi dalam keluarga muslim, kontrol yang begitu kuat sehingga memudahkan negara untuk memberikan solusi segera.

Kemudian negara sebagai support sistem yang terdepan dalam mengurus masyarakat nya. Dalam sistem ekonomi Islam sumber pemasukan negara diatur berdasarkan kitabullah dan Sunnah. Melalui pos-pos yang ada dalam Baitul Mal, penyaluran pembiayaan sarana umum menjadi tanggung jawab negara secara penuh.

Masyarakat tak perlu memusingkan biaya pendidikan dan biaya kesehatan. Semua di berikan secara gratis oleh negara. Mekanisme serta kontrol yang dijalankan negara dilakukan dengan amanah. Penguasa dalam Islam adalah pribadi bertakwa yang sangat berhati-hati terhadap permasalahan umat.

Seorang penguasa adalah perisai dalam memelihara diri dan kehormatan rakyatnya, memikul tanggung jawab dunia akhirat, seorang penguasa dalam Islam adalah pelindung bagi hak hak umat dari tindak kejahatan, tak terkecuali anak dan perempuan. Rosulullah mengingatkan akan tanggungjawab tersebut dalam sebuah riwayat:

” Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, Dimana orang akan berperang dibelakangnya, dan digunakan sebagai tameng.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Negara melakukan kontrol ditengah masyarakat dengan teliti ditisetiap wilayah. Kisah Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang memanggul sekarung gandum untuk seorang ibu yang merebus batu sungguh demikian masyhur. Kisah ini menggambarkan perhatian Khilafah terhadap nasib kaum ibu. Sistem ekonomi dan politik yang mampu mewujudkan kesejahteraan individu per individu.

Kesejahteraan pun terwujud secara merata. Sistem ekonomi Islam dengan 12 pos pemasukan meniscayakan negara memiliki dana yang cukup untuk menyejahterakan rakyatnya, termasuk menyantuni fakir dan miskin.

Ketika Islam memimpin peradaban dunia 14 abad silam, kesejahteraan dan keamanan bukan sekedar isapan jempol belaka. Kaum Ibu terjaga fitrahnya. Posisi mulia mereka sebagai umm wa rabbatul bayt (Ibu sekaligus pengatur rumah tangga) dan Al Madrasatul ula (Sekolah pertama) bagi anaknya.

Berjalan penuh keridaan tanpa tekanan hidup yang berat. Para Ibu menjalankan perannya dengan maksimal. Melahirkan generasi berkualitas yang memajukan peradaban.

Hanya kembali pada kehidupan Islam secara menyeluruh, menyelamatkan ibu dan anak. Kasus pembunuhan ibu terhadap anaknya dapat dihentikan sekaligus mencegahnya terjadi berulang kembali. Sudah saatnya kita meninjau ulang sistem kehidupan yang selama ini diadopsi. Meninggalkan kehidupan dibawah cengkeraman Kapitalisme Global dan menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan.

Wallahu A’lam Bishawwab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *