Minggu, 25 September 2022

Intelektual Sekuler Terpapar Islamofobia Akut

Yenni Sarinah, S.Pd

Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd 

AKU tersudut dengan ucapan seorang yang distandarisasikan sebagai kaum intelektual, seorang profesor di lingkungan orang-orang berpendidikan. Dia dengan lantang mengatakan yang berpenutup kepala (berhijab syar’ie) adalah manusia gurun. Jika bernutup kepala digeneralkan dengan semua jenis penutup kepala. Maka toga yang dia banggakan juga penutup kepala. Apakah dia manusia gurun yang primitif?

Tentu sudah jelas arah pembicaraannya adalah mengkritik syiar Islam, tudingannya ke mahasiswi. Dan hanya mahasiswi muslim yang menjalankan syiar menutup kepala (berkerudung). Dan ucapan ini telah melukai bukan sekedar syiar Islamnya tapi juga para muslimah. Sungguh dia berucap tidak memakai akalnya.

Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Profesor Budi Santosa Purwokartiko dituding mendiskreditkan mahasiswa/mahasiswi muslim dalam tulisan di media sosialnya. Ia menyinggung soal menutup kepala ala manusia gurun. (nasional.sindonews.com, 03/05/2022)

Usai digegerkan dengan pernyataan yang menyinggung perempuan berhijab, kini Rektor Insitut Teknologi Kalimantan, Prof. Budi Santoso jadi sorotan lagi lantaran nyinyir soal bersalaman bukan muhrim. (seputarsurabaya.jurnalisindonesia.id, 04/05/2022)

Keangkuhan intelektual mendominasi karena menilai keunggulan manusia diukur dari prestasi akademik bahkan menganggap semestinya manusia cerdas adalah para penolak ketaatan pada agama, ini sungguh racun intelektualitas. Inilah Islamofobia akut yang berbahaya.

Seorang Muslim seharusnya menjauhi sikap-sikap islamophobia, yakni membenci Islam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kaum kafir. Mereka sejatinya memendam kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslim.

Sikap mencemooh hijab, mencurigai semangat hijrah yang sedang merebak, alergi terhadap khilafah yang merupakan bagian ajaran Islam, meradang bahkan mengkriminalisasi Panji Rasulullah saw. ar-Rayah dan al-Liwa’ saat dikibarkan, dan sikap-sikap islamophobia lainnya—jika tampak dari seseorang yang mengaku Islam—semua itu justru menampakkan hakikat yang tersembunyi di dalam hati. Pepatah mengatakan, “Kullu inâ`in bimâ fîhi yandhahu (Bejana hanya bisa menumpahkan apa yang ada di dalamnya).”

Terbukti bukan, bahwa sekularisme – dipisahnya aturan agama dari kehidupan bermasyarakat – telah merusak mentalitas kaum intelektual. Yang terlahir dari intelektual yang menjadi pengidap islamofobic seperti ini dalam sistem demokrasi – yang mengagungkan kebebasan – hanyalah caci maki terhadap syiar-syiar Islam.

Bagi kalangan mereka, penganut kebebasan, bahwa syiar Islam adalah kebodohan (jahiliyyah). Dimana ketaatan individu kepada syiar Islam terutama perihal menutup aurat, bagi mereka ibarat kedunguan yang dipaksakan atas dasar doktrin agama. Pembeda muhrim dan bukan saja bagi mereka adalah sesuatu yang mempersulit. Karena yang gampang itu ya campur baur. Inilah rusaknya pengaruh kaum kuffar kepada kita, muslim yang dididik untuk mensucikan diri dari perbuatan yang setara dengan binatang.

Binatang telanjang emang jelas mereka juaranya. Sedangkan kita dilebihkan akalnya agar bisa dididik untuk tidak sembarangan telanjang. Binatang mau gaul bebas kumpul kebo juga juaranya. Dan kita dilebihkan dengan akal untuk membedakan mana yang halal untuk kita, mana yang terlarang. Bukan malah diberi akal, lantas menjadi dungu akut.

Jika dilihat dari sejarahnya, justru orang-orang dungu lagi ingkar adalah mereka yang menyenangi budaya telanjang. Sedangkan Islam datang membawa ilmu, bagaimana menjadi manusia yang beradab dan teratur dalam bertingkah laku.

Maka dari itu telah jelas perbedaannya antara penerapan sistem liberal kapitalis menghasilkan para intelektual yang sekuler dan barbar. Dan ini berkebalikan dengan penerapan sistem Islam yang terbukti melahirkan intelektual (ulama) sebagai orang-orang yang paling besar ketundukannya dan rasa takutnya akan murka Rabb nya.

Sesungguhnya pergolakan antara kebenaran dan kebatilan akan terus berlangsung sampai Hari Kiamat. Pergolakan itu akan terus ada selama pengikut kebatilan masih ada, yakni mereka yang mengikuti bujuk rayu dan jalan Iblis.

Iblis telah divonis kafir karena menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Dia lalu diusir dari surga. Iblis kemudian berkata seperti yang dilukiskan dalam firman Allah SWT (yang artinya): Iblis berkata, “Tuhanku, karena Engkau telah memutus aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (TQS al-Hijir [15]: 39).

Sejak saat itu, para pengikut Iblis terus memerangi kebenaran, sebagaimana Iblis, hingga Hari Kiamat.

Sikap yang harus dibangun dan ditunjukkan oleh seluruh umat Islam tidak lain adalah memenuhi perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Ini adalah perintah dari Allah kepada semua orang Mukmin untuk mengambil dan mengamalkan semua ajaran Islam dan syariahnya, termasuk mengagungkan syiar-syiarnya. Ini berarti, setiap Mukmin harus mencintai Islam sepenuhnya sebagai wujud totalitas kecintaan kepada Allah SWT. Kecintaan kepada Allah itu harus dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya, yakni Rasul saw.:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah, “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (TQS Ali Imran [3]: 31).

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat yang mulia ini menjadi pemutus atas tiap orang yang mengklaim mencintai Allah, sementara dia tidak berada di atas jalan Muhammad maka dia adalah pendusta dalam klaimnya pada perkara yang sama, sampai dia mengikuti syariah Muhammad dan agama kenabian dalam semua ucapan dan keadaannya.”

Hendaknya setiap Muslim menunjukkan kecintaannya pada Islam dengan mengamalkan syariah Rasul Muhammad saw. secara menyeluruh di tengah kehidupan ini.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb.***

 

Penulis pegiat literasi Islam asal Selatpanjang

Tinggalkan Balasan