Ironis ! Nyata Ingin Merdeka Malah Dianggap Saudara

KSAD Dudung Abdurachman.

Oleh : Alfiah, S Si

Lagi-lagi publik dibuat geram oleh pernyataan KSAD Dudung Abdurachman. Ia menyebut kelompok teroris KKB Papua sebagai saudara kita yang belum paham NKRI.

Dudung menegaskan, personel TNI harus memiliki pandangan yang sama mengenai teroris kelompok kriminal bersenjata (KKB). KKB, kata Dudung, adalah sebagian kecil masyarakat yang belum memiliki kesepahaman mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia juga menyampaikan kepada pasukan yang melaksanakan tugas bahwa tugas di Papua ini bukan tugas untuk melakukan operasi perang, tetapi membantu Polri, membantu pemerintah daerah, untuk memulihkan jalur perekonomian, memulihkan situasi keamanan di sini.

Meski terkesan humanis, sontak saja ucapan Dudung banjir kritikan. Bahkan dijawab telak langsung oleh Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom, menyatakan dengan tegas bahwa kelompoknya tidak memiliki sejarah tentang hubungan keluarga dengan orang Indonesia dan Asia.

Sebby Sambom juga menilai orang Papua hanya memiliki sejarah keluarga dengan ras Melanesia di bagian wilayah Pasifik. Ia lalu menegaskan bahwa pihaknya memastikan pernyataan Jenderal Dudung hanyalah angan-angan belaka lantaran tidak akan pernah terwujud.

Sementara itu, anggota DPR Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Nasir Djamil turut menanggapi soal polemik pernyataan Jenderal Dudung Abdurachman yang menegaskan agar melakukan pendekatan khusus dengan kelompok bersenjata di Papua. Padahal  pemerintah sebelumnya telah menyatakan bahwa gerakan KKB di Papua sebagai terorisme. Alasannya tak lain karena KKB kerap melancarkan berbagai aksi brutal terhadap warga sipil maupun aparat TNI-Polri. Bahkan belakangan KKB juga membunuh tenaga kesehatan.

Aneh memang pendekatan memukul ‘kok’ diganti jadi pendekatan merangkul. Padahal jelas KKB Papua membunuh warga sipil, membunuh tenaga kesehatan, membunuh aparat TNI Polri dan merusak fasilitas umum. Dan keberadaan mereka bukan setahun dua tahun. Tapi sudah puluhan tahun.

Tentu wajar kita bertanya apakah pernyataan dari Kasad Jenderal Dudung Abdurachman itu sebagai sikap resmi pemerintah? Atau hanya ucapan Dudung yang belum paham sejarah OPM? Jika benar sikap resmi pemerintah tentu amat naif sekali karena itu menunjukkan sikap lemah pemerintah di hadapan OPM. Padahal OPM sebelumnya telah dilabeli kelompok teroris. Kenapa Densus 88 tidak dikirimkan untuk menghadapi OPM?

Wajar pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena sikap pemerintah selama ini terkesan lemah di hadapan OPM yang jelas-jelas menyatakan kemerdekaannya dari Indonesia. Sementara ketika menghadapi terduga ‘teroris’ yang ‘katanya’ punya kaitan dengan Jamaah Islamiyah justru bersikap garang.

 

Mendudukkan Konflik Papua

Konflik Papua merupakan konflik paling kompleks yang pernah ada di Indonesia setelah merdeka. Di Papua, konflik politik, konflik adat, konflik ekonomi dan konflik hukum bercampur-aduk menjadi satu. Ada sekitar 250 suku yang beragam di Papua; masing-masing bisa saling serang.

Bintang Kejora dan lagu kebangsaan Hai Tanahku Papua  merupakan salah satu simbol  nasionalisme Papua yang menghendaki wilayah Papua Barat menjadi negara bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh. Nasionalisme Papua ini pada awalnya dibangun oleh Pemerintah Belanda, terutama pada masa menjelang pelaksanaan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, bahkan sejak tahun 1945.

Sesungguhnya tuntutan pemisahan diri Papua dari Indonesia tidak bisa dilepaskan dari campur tangan AS, Australia, Inggris dan  negara-negara asing lainnya. Indikasinya dengan kedatangan utusan negara-negara tersebut dalam Kongres Papua yang berlangsung tanggal 29 Mei – 4 Juni 2000, yang menggugat penyatuan Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI). Menurut Kongres tersebut, bangsa Papua telah berdaulat sebagai sebuah bangsa dan negara sejak 1 Desember 1961. Selanjutnya Kongres meminta dukungan internasional untuk memerdekakan Papua (Kompas, 05/06/2000).

 

Pandangan Islam Terhadap Bughat

Islam adalah agama yang sempurna. Islam memandang, pelaku bughat (yang ingin memisahkan diri dari negara) adalah dengan diperangi.

Jika pelaku bughat menentang negara, mengangkat senjata, dan bertahan di suatu tempat tertentu serta menjadi suatu kekuatan yang tidak memungkinkan bagi kepolisian  untuk mengembalikan mereka, menghentikan pembangkangan mereka, dan mencegah keluarnya mereka untuk menentang negara, maka  kepolisian harus didukung militer atau kekuatan pasukan sesuai dengan kebutuhan dalam rangka menghadapi pemberontak.

Sebelum mereka diperangi, dilakukan surat-menyurat dengan mereka dan dilihat bagaimana sikapnya. Mereka diminta kembali pada ketaatan  dan berhenti mengangkat senjata. Jika mereka memenuhinya mereka tidak diperangi. Jika mereka menolak untuk kembali, berkeras untuk keluar menentang negara, dan memerangi negara, maka mereka diperangi dengan perang untuk mendidik, bukan perang untuk melenyapkan dan membinasakan  (Ajhizatu ad-Daulah al-Khilafah).

Demikianlah harusnya negara ini bersikap. Tegas menghadapi pemberontak bersenjata. Tidak bersikap lemah atau menganggap enteng keberadaan mereka.***

 

Penulis seorang pegiat literasi Islam

Tinggalkan Balasan

Next Post

Demi Timnas yang Berlaga di Piala AFF, Jadwal Liga 1 Digeser

Ming Nov 28 , 2021
617 Jakarta (Riaunews.com) – PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator Liga 1 melakukan penyesuaian jadwal kompetisi pada seri ketiga […]
%d blogger menyukai ini: