Jabatan Itu Amanah Bukan Hadiah

Yaqut Cholil Qoumas
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Oleh : Alfiah, S.Si

Benar juga kata Wasekjen PA 212, Novel Bamukmin, “ Bukan Yaqut namanya kalau tidak bikin gaduh”..

Baru-baru ini, Menag Yaqut melontarkan pernyataan yang menghebohkan semesta yaitu bahwa Kemenag merupakan hadiah untuk Nahdlatul Ulama, bukan untuk umat Islam secara umum. Yaqut menyebut Kemenag didirikan usai penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta dalam perumusan Pancasila. Saat itu, ucapnya, juru damai atas penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta kalau itu adalah tokoh NU.

Sontak saja pernyataan itu memancing reaksi keras tidak hanya dari ormas-ormas Islam namun juga pejabat – pejabat politik dan para aktivis. Tokoh MUI, PBNU dan Muhammadiyah telah mengkritisi ucapan Yaqut tersebut. Mereka mengatakan bahwa Kemenag merupakan hadiah untuk semua agama.

Ketua Umum Tim Pembela Ulama & Aktivis, Eggi Sudjana malah meminta kepada Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menangkap Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas karena telah melontarkan pernyataan yang menyinggung Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Eggi mengatakan bahwa pernyataan Yaqut tersebut mengandung unsur kebencian, permusuhan dan pecah belah terhadap umat Islam. Pernyataan itu, klaim dia, memenuhi unsur-unsur dalam ketentuan UU Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan UU No 11 tahun 2008 tentang ITE. Ia menyinggung Yaqut potensial dikenakan Pasal 28 ayat (2) UU ITE bahwa pelaku bisa dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.

Pernyataan Yaqut mengundang kritik dari berbagai elemen bangsa. Salah satunya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang dakwah, Cholil Nafis yang berpendapat bahwa Kementerian Agama bukan semata-mata hadiah untuk Nahdlatul Ulama (NU) saja. Ia menegaskan bahwa Kemenag mengurusi semua agama hingga kepercayaan.

Senada, Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Bukhori Yusuf, menyatakan, pernyataan Yaqut sudah menjadi sebuah persoalan bangsa. Bukhori pun mengingatkan bahwa pemerintah seharusnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, Anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN), Guspardi Gaus, menyatakan pernyataan Yaqut tendensius dan menafikan peran para tokoh dari berbagai kelompok Islam.

Meski Yaqut sudah memberi klarifikasi soal pernyataannya yang membuat gaduh tersebut dengan mengatakan bahwa itu dikatakan di acara internal untuk memotivasi santri, namun tetap tidak tepat dia mengatakan hal tersebut. Mengingat dia adalah pejabat negara yang digaji dari uang rakyat. Apalagi apa yang dia lontarkan mengandung benih-benih fanatisme golongan (menganggap bahwa kelompok atau golongannya yang paling benar). Padahal jabatan itu adalah amanah yang bisa menjadi kesedihan kelak di hari kiamat. Sehingga tidak layak seharusnya seseorang yang diserahi urusan umat justru berbangga dengan jabatan tersebut dengan mengatakan itu adalah hadiah.

Bahaya Fanatisme Golongan

Nabi shallalu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dengan tegas terkait bahaya ashobiyah ini , “Dan barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan buta, dia marah karena fanatik kesukuan, atau menyeru kepada ashobiyah (fanatisme golongan), atau karena ingin menolong (berdasarkan) fanatisme golongan kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah”. (HR Muslim No. 3436).

Diriwayatkan bahwa Sufyan bin ‘Uyainah dia berkata; dia mendengar ‘Amru Jabir bin ‘Abdullah berkata; “Kami pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu peperangan. Tiba-tiba seorang sahabat dari kaum Muhajirin mendorong punggung seorang sahabat dari kaum Anshar. Lalu sahabat Anshar itu berseru; ‘Hai orang-orang Anshar kemarilah! ‘ Kemudian sahabat Muhajirin itu berseru pula; ‘Hai orang-orang Muhajirin, kemarilah! ‘ Mendengar seruan-seruan seperti itu, Rasulullah pun berkata: ‘Mengapa kalian masih menggunakan cara-cara panggilan jahiliah? ‘ Para sahabat berkata; ‘Ya Rasulullah, tadi ada seorang sahabat dari kaum Muhajirin mendorong punggung seorang sahabat dari kaum Anshar.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tinggalkanlah panggilan dengan cara-cara jahiliah, karena yang demikian itu akan menimbulkan efek yang buruk.’ (HR Muslim).

Jadi amat jelas bahwa apa yang dilontarkan Yaqut amat berbahaya bagi umat. Jabatan itu amanah bukan hadiah yang akhirnya membuatnya menjadi lupa akan pertanggungjawaban kelak, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Wallahu a’lam.

Penulis seorang pegiat literasi

Tinggalkan Balasan

Next Post

Pemprov Siap Kembalikan Jabatan Kadis ESDM ke Indra Agus Lukman Usai Menang Praperadilan

Kam Okt 28 , 2021
521 Pekanbaru (Riaunews.com) – Indra Agus Lukman akan kembali memegang jabatan sebagai Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau, […]
Pjs Bupati Siak Indra Agus Lukman
%d blogger menyukai ini: