Rabu, 17 Agustus 2022

Jauh dari Nilai Islam, Siswa SMP ‘Jual’ Pacar?

Yenni Sarinah.

Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd

FRAMING pacaran itu indah yang di publikasi merata se-Indonesia melalui media sosial dan media televisi baik berupa sinetron, film dan tontonan lainnya, akhirnya menuai kerusakan di tatanan sosial masyarakat Riau khususnya.

Budaya pacaran yang serba hedon, serba sekuler, meninggalkan aturan agama dari kehidupan sosial berujung pada perusakan generasi secara tersistem. Rusak hulu dan hilir. Jikapun ada yang terselamatkan dari pergaulan perbinatangan ini, sisanya hanya sedikit sekali. Itupun karena adanya bekal pendidikan akidah yang kokoh, pembinaan, dan lingkungan yang islami turut mendukung seoptimal mungkin.

Miris, mendengar berita dari Riau Terkini Com yang menaikkan pemberitaan tentang Siswa SMP menjual pacarnya untuk melayani birahi lelaki hidung belang di salah satu hotel di Pekanbaru.

EA alias Riko kini harus mendekam di jeruji besi. Pasalnya pria 24 tahun itu telah tega mencabuli dan menjual pacarnya sendiri yang baru berusia 17 tahun kepada pria hidung belang.

Kelakuan Riko, terungkap setelah ayah korban mendapati anaknya berada di Winstar Hotel Pekanbaru setelah sekitar 1 bulan tidak pulang ke rumah.

Ayah korban selanjutnya melaporkan kejadian itu ke Polsek Senapelan pada 20 Juni lalu. Mendapati laporan itu personel Polsek Senapelan kemudian mendatangi hotel yang berada di jalan Moh Ali tersebut untuk menemukan korban sebut saja Melati.

Mirisnya, saat diamankan Melati mengaku baru saja melayani tamu atas perintah Riko. Dimana Melati dibayar Rp300.000 untuk memuaskan nafsu pria hidung belang tersebut.

Dari keterangan Riko, ia tega menjual pacarnya tersebut untuk biaya hidup selama tinggal di hotel tersebut. Ia menjajakan Melati lewat aplikasi Mi Chat.

Bukan hanya dijual kepada pria hidung belang, Riko juga kerap menyetubuhi Melati yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu. (riauterkini.com, 02/07/2022)

Dari berita ini saja sudah nampak jelas pembiaran dari orang tua, lingkungan sosial yang tidak preventif, pendidikan agama yang tidak membekas, dan pembiaran Negara terhadap konten-konten yang merusak generasi muda.

Orang tua membiarkan anaknya entah kemana perginya. Lingkungan sosial yang membiarkan pria dan wanita bukan mahram berdua-duaan di ruang publik. Pendidikan agama dari sekolah umum yang tidak membekas dan menjadi pelindung generasi muda. Negara yang hanya mementingkan keuntungan materi daripada mementingkan generasi penerusnya. Innalillahi.

Kejadian ini tidak akan separah ini jika Negeri ini mencampakkan sistem kapitalisme produk penjajah dari Barat, yang membawa ide sekulerisme, menjauhkan agama dari kehidupan, menjauhkan agama dari mengatur urusan bernegara.

Negara sekuler seperti saat ini, kurikulum agama hampir saja dihapuskan, media tontonan masyarakat luas yang menjerumuskan tidak terfilter dengan maksimal, abainya peran orang tua untuk mengajarkan dan menjaga anaknya, dan abainya para aparat terhadap aktifitas pergaualan bebas yang tersebar di masyarakat Riau khususnya.

Dulu Riau berdaulat beradat. Dulunya adat dijunjung kini jatuh terinjak oleh maksiat. Untuk pemerintah daerah sendiri seharusnya ada usaha pemberantasan lokalisasi seks bebas di hotel-hotel se Riau sebagaimana frontalnya FPI dalam menegakkan syariat Islam secara nyata. Justru Negara mencabut izin organisasi ini karena dianggap mengganggu kepentingan politik dalam negeri dan mengurangi sumber uang masuk negara dari jalur maksiat. Pajak Miras, Pajak Lokalisasi seks, dan sejenisnya.

Benarlah urusan rakyat hingga individu sekalipun adalah urusan utama Negara. Sadarilah, Negara ini bukan berkembang, Negara ini terjajah secara sistemik. Terjajah dengan jerat hutangnya, terjajah sumber daya alamnya, terjajah generasi mudanya dengan kurikulum merdeka yang minim nilai agama dan moralitas yang kian bobrok.

Inilah yang menjadi evaluasi kita semua, bahwa kita butuh sistem pengganti, yaitu sistem Islam dalam bernegara. Pasalnya hanya di sistem Islam, generasi muda menjadi generasi terbaik di zamannya dan penjaga turunnya rahmat Allah SWT ke bumi Riau. Jika terus saja maksiat menjual pacar dianggap tindak kriminal biasa, jangan heran rahmat Allah SWT menjauh, musibah pun mendekat. Salah satunya ketika kebanggaan itu dihinakan oleh hujan saja, Pekanbaru Kota Bertuah, jatuh tersungkur menjadi Pekanbaru Kota Berkuah.

Karena maksiat, tuah menjadi kuah. Karena abai pada amanat, rusak urusan rakyat. Hendak dibawa kemana generasi Riau ini. Jika maksiat tak lagi dianggap tabu? Riau wajib bangkit dengan budaya keislaman yang kental sebagaimana dahulunya Riau menjadi tauladan kemuliaan peradaban. Wallahua’lam Bisshowaf.***

 

Penulis, Pegiat Literasi Islam, Riau

Tinggalkan Balasan