Kaleidoskop Kekerasan Kian Brutal Bukti Resesi Moral

(ilustrasi)

Oleh : Alfiah, S.Si

Tahun 2021 telah berlalu. Namun tahun itu menyisakan banyak kelabu. Wabah corona tak kunjung sudah. Mulai dari varian alfa, beta, delta, kini omicron, yang entah varian apalagi setelahnya. Program vaksinasi untuk pencegahan corona yang dipaksakan juga tidak menjadi jaminan. Menyisakan banyak persoalan. Saya tak bermaksud mengkaitkan vaksinasi dengan kekerasan.

Kekerasan dan pelecehan seksual tampaknya jadi menu harian. Sang Menteri Agama ternyata tak mengeluarkan statemen apapun terhadap persoalan ini. Lebih sibuk mengurus proyek moderasi untuk menangkal ‘radikalisasi’ di semua lini. Tampaknya radikal jauh lebih berbahaya daripada koruptor, pedofil, pembegal atau kaum pelangi yang tak bermoral.

Baiklah saya akan sebutkan secuil kekerasan yang sempat viral ditengah tumpukan gunung es berbagai kasus kekerasan di negeri ini :

Pelecehan penumpang Grab

Pelecehan seksual disertai kekerasan menimpa seorang perempuan berinisal NT. Kejadian tersebut menimpanya ketika menjadi penumpang taksi online yang menggunakan mobil Wuling bernomor polisi B 1563 COT.

Director of Business Grab Indonesia, Iki Sari Dewi menyatakan bahwa pihaknya tak bakal menolerir tindak kekerasan dalam bentuk apapun. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons atas dugaan insiden kekerasan antara mitra pengemudi dan penumpang di Jakarta pada Kamis (23/12/2021) lalu. Penumpang pun melakukan pelaporan ke pihak berwajib. Iki mengatakan, status mitra pengemudi terkait telah dibekukan sejak 23 Desember lalu.

Guru Cabuli 21 Santri
Seorang guru di sebuah pondok pesantren di Bandung, Herry Wirawan menjadi terdakwa kasus pelecehan seksual kepada para santrinya. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) mengungkapkan ada 21 orang yang dilaporkan menjadi korban Herry Wirawan.

Diketahui, aksi bejatnya tersebut dilakukan dalam rentang tahun 2016 hingga 2021 di berbagai tempat seperti pondok pesantren, apartemen hingga hotel mewah. Bahkan, aksi pencabulan terhadap 21 santri telah melahirkan 9 bayi. Hingga kini persidangan kasusnya masih berjalan.

Guru Ngaji Cabul di Bekasi

Seorang guru ngaji di Bekasi melakukan pelecehan seksual kepada muridnya yang berusia 12 tahun. Dalam sebuah keterangan, sang pelaku yang berinisal M (40) telah tega mencabuli muridnya (F) yang masih berusia 12 tahun.

Selama ini pelaku membuka sebuah tempat pengajian di rumahnya di Desa Jatibaru, Cikarang Timur, Bekasi. Dalam laporan, pelaku telah mengaku melakukan aksi bejatnya sebanyak 3 kali kepada korban.

Pelecehan Pegawai KPI

Pelecehan seksual terjadi di lingkungan KPI yang viral pada September 2021. Salah seorang pegawai KPI yang berinisial MS mengaku bahwa dirinya mengalami pelecehan oleh pegawai KPI lainnya sepanjang 2012-2014. Ia mengalami penyiksaan, dipukul hingga ditelanjangi oleh rekannya.

Kasus ini terbongkar melalui pesan WhatsApp dan viral melalui media sosial Twitter. Saat ini proses kasusnya masih dapat proses pihak berwajib.

Pelecehan di KRL Direspons Acuh oleh Admin Twitter

Pelecehan seksual terjadi di dalam Commuter Line rute Jakarta-Cikarang pada Juni 2021. Sang korban melaporkan kejadian tersebut melalui akun Twitter @CommuterLine. Namun sangat disayangkan, akun @CommuterLine tersebut tidak menganggapi laporan tersebut dengan baik.

Akun @CommuterLine kemudian membalas, “BTW kejadian nya di alami sama temen Mba kan.?? bukan sama mba nya ?? kenapa gak langsung Lapor Polisi aja Mbanya.? dan kalo lapor polisi si mba nya pun harus ada bukti”.

Kasus ini pun viral di Twitter hingga KAI secara resmi meminta maaf kepada korban dan masyarakat dan langsung menindaklanjuti laporan kerjadian tersebut.

3 Anak Diperkosa Ayah Kandung di Luwu Timur

Pada Oktober 2021, kasus pemerkosaan oleh ayah kandung kepada 3 orang anaknya di Luwu Timur viral di media sosial. Kasus ini diangkat dari sebuah laporan jurnalistik oleh Eko Rusdianto di Project Multatuli. Dalam laporan, kasus ini terjadi pada tahun 2019 di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Wahai para pemangku negeri dan pengambil kebijakan, apa hujjah kalian di hadapan Sang Pemilik Alam? Bukankah kalian akan ditanya bagaimana pengurusan kalian terhadap rakyat? Tidakkah kisah Khalifah Al Mu’tashim Billah membuat kalian malu karena telah gagal mencegah kekerasan seksual?

Kisah heroik Al-Mu’tashim Billah dari Dinasti Abbasiyah dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah (837 Masehi), dalam judul Penaklukan kota Ammuriah.

Pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.

Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah dengan lafadz yang legendaris: “waa Mu’tashimaah!” yang juga berarti “di mana kau Mutashim…tolonglah aku!”

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki).

Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), karena besarnya pasukan. Maasya Allah.***

 

Penulis seorang pegiat literasi Islam

Tinggalkan Balasan

Next Post

Danrem Bakal Bubarkan Ceramah Habib Bahar Jika Menyinggung TNI

Ming Jan 2 , 2022
365 Bogor (Riaunews.com) – Kapenrem 061/Surya Kencana Mayor Infanteri Ermansyah menjelaskan maksud kedatangan Danrem 061/Surya Kencana Brigjen TNI Achmad Fauzi […]
%d blogger menyukai ini: