Senin, 23 Mei 2022

Kapitalisme Hancurkan Fitrah Keibuan

Diana Nofalia, SP

Oleh: Diana Nofalia, S.P.

Tragis memang, seorang ibu yang sering disebut sebagai malaikat tak bersayap bagi anak-anaknya bisa melakukan aksi penggorokan terhadap buah hatinya. Dan hal ini bukan hanya dilakukan pada salah satu anaknya tapi pada semua anaknya yang berjumlah tiga orang. Tentunya kita berfikir, apa sesungguhnya yang terjadi di negeri ini? Kasus seperti ini tidak hanya satu, tapi melainkan beberapa kasus.

Kunti Utami (35), seorang ibu di Brebes, Jawa Tengah (Jateng), diduga menggorok tiga anaknya sendiri. Satu anaknya tewas dengan luka sayat di leher, sementara dua lainnya dilarikan ke rumah sakit (RS).

“Saat pintu dibuka, anak yang bernama ARK (7) sudah dalam kondisi meninggal dunia. Ada luka sayat di leher,” kata Kapolsek Tonjong AKP M Yusuf, seperti dikutip dari detikJateng, Senin (21/3/2022).

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tubuh ARK mendapat luka sayat di leher kiri sepanjang 12 cm, dengan kedalaman 5 cm.

“Hasil pemeriksaan, korban meninggal terdapat luka sayat di leher kiri sepanjang 12 cm dan dalamnya 5 cm. Kalau yang dua lainnya, luka di leher, rahang dan dada,” ungkap petugas Puskesmas Tonjong Sajio. (https://news.detik.com/berita/d-5992803/ibu-di-brebes-gorok-3-anak-1-tewas-2-dilarikan-ke-rs)

Peristiwa itu terjadi Ahad dinihari sekitar pukul 02.00 WIB. Korban meninggal merupakan anak kedua pelaku dan masih duduk di bangku kelas 1 SD. Pelaku juga sempat hendak membunuh 2 anaknya yang lain. Namun gagal karena 2 anaknya kabur dan sembunyi di kamar. Mereka berteriak sehingga mengundang warga untuk datang dan mendobrak pintu kamar.

Pelaku KU dalam sebuah pengakuannya di kantor polisi, dalam sel penjara, ia hanya ingin menyelamatkan anak-anaknya. Meski dengan cara yang salah, dia meyakini kematian anak-anaknya adalah jalan terbaik.

Dia mengaku selama ini kurang kasih sayang. Dia mengaku sudah tidak sanggup lagi hidup dengan ekonomi yang pas-pasan. Apalagi, dia mengaku suaminya sering menganggur. “Saya ini enggak gila. Pengin disayang sama suami, suami saya sering nganggur,” katanya. (https://www.republika.co.id/berita/r91p1n396/soal-ibu-muda-gorok-anak-psikolog-polisi-perlu-telusuri-kejiwaannya)

Ini bukan lagi semata-mata hanya bicara masalah individu yang kurang beriman. Tapi masalah yang terjadi adalah masalah sistemik yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan di setiap lini kehidupan. Himpitan ekonomi yang hari demi hari sudah menjadi fakta nyata yang dihadapi oleh rakyat negeri ini. Masih terpampang jelas bagi kita bahwa hanya sekadar mendapatkan salah satu kebutuhan pokok yaitu minyak goreng saja, rakyat negeri ini harus antri dan bahkan ada yang meninggal.

Tentunya solusi masalah ini bukan hanya sekadar perbaikan kejiwaan individu pelakunya tapi seharusnya solusi yang diberikan adalah solusi dalam tataran sistemik agar tidak terjadi kasus yang serupa. Masalah ekonomi di negeri ini tentunya tidak terlepas dari peran negara dalam mensejahterakan rakyatnya.

Sempitnya lapangan kerja yang mengakibatkan mencari pekerjaan bukan hal yang mudah. Beban mencari nafkah untuk keluarga yang seharusnya ditanggung kaum laki-laki juga menjadi beban kaum perempuan. Disinilah awal bencana itu. Perempuan yang tadinya berperan dalam pengasuhan anak yang sesungguhnya tidaklah mudah, akhirnya harus bersusah payah bekerja untuk mencukupi kebutuhan dia dan anak-anaknya. Dan itu hal yang sangat melelahkan bagi kaum perempuan.

Dalam hal ini kita dapat melihat betapa buruknya penerapan sistem kapitalisme. Ketimpangan kesejahteraan ekonomi terjadi di tengah-tengah masyarakat, yang kaya makin kaya sedangkan yang miskin dipaksa untuk mati saja. Sistem ini selain menghilangkan empati terhadap sesama juga menghilangkan fitrah kemanusiaan itu sendiri.

Timbul sebuah pertanyaan, sistem seperti apa yang layak diterapkan agar manusia kembali pada fitrahnya? Tentu saja sistem yang berasal dari pencipta manusia itu sendiri, yaitu sistem islam. Sistem yang menjamin kesejahteraan dan keberkahan dunia-akhirat. Sistem yang kokoh yang bersandar pada Al-Qur’an dan as-sunah yang senantiasa terjaga dari kepentingan pribadi ataupun kelompok. Dan sistem yang menjanjikan rahmat bukan hanya untuk kalangan tertentu saja, tapi sistem ini menjanjikan rahmat untuk alam semesta.

Wallahu a’lam***

 

Penulis Aktivis Muslimah Riau

Tinggalkan Balasan