Selasa, 23 Juli 2024

Cahaya

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 

Oleh Helfizon Assyafei

Saya menyukai pagi Ahad karena dua hal; kuliah subuh dan bulutangkis. Dan selalu ingin menuliskan dan membagikannya. Bukan maksud untuk mengajari. Tapi biar saya tak lupa. Dan syukur-syukur ada manfaat bagi pembaca. “Sholat itu cahaya,” ujar tuan guru memulai tausiyahnya. Mengutip sebuah hadis yang panjang. Untuk bisa melihat diperlukan dua hal; cahaya dan mata yang sehat. Ia melanjutkan.

Mata yang sehat dalam gelap tak bisa melihat. Mata yang buta dibawah cahaya juga sama, tak bisa melihat. Di Alquran kata buta itu fokusnya bukan pada mata di kepala tetapi pada mata di hati. Sama seperti mata yang buta, hati yang buta meski di bawah cahaya pun takkan bisa melihat. Tak bisa melihat keadilan, kebenaran, keagungan Tuhan dan kesementaraan hidup.

Kita diberi Tuhan penglihatan, pendengaran dan hati sebenarnya untuk difungsikan. Jangan seperti hewan ternak. Tidak difungsikan kecuali untuk makan, tidur, dan berkembangbiak. Hewan ternak dijadikan untuk manusia. Tapi kita manusia dijadikan bukan untuk seperti hewan ternak. Tetapi untuk sebuah misi menuju ke kehidupan sejati (selamanya) tanpa kematian lagi. Kembali ke tempat asal kita sebenarnya (sorga).

“Jangan tinggalkan sholat,” ujar tuan guru lagi. Sebab ia cahaya. Cahaya apa? “Cahaya pada wajah dan hati pengamalnya,” lanjut tuan guru. Ada tiga cahaya akan menaungi orang yang menjaga sholatnya. Selain dua yang tadi yang ketiga adalah cahaya di alam selanjutnya (barzakh dan akhirat).  Cahaya pada wajah itu, lanjutnya, bahasa kekiniannya adalah inner beauty (kecantikan dari dalam).

“Senang saja lihatnya padahal ngga cantik atau ganteng amat,” ujar tuan guru mencontohkan. Sedangkan cahaya di hati adalah; hati kita bisa membedakan mana yang halal mana yang haram. Mana yang punya kita mana yang punya orang. Mana yang boleh mana yang tidak. Dan  tidak mau melanggarnya. Kadang hati kita tahu tapi kita melanggarnya. Inilah penyebab cahaya hati akan meredup dan padam. Awal hati menjadi gelap.

Tuan guru melanjutkan. Dan yang paling penting itu adalah sholat jadi cahaya saat kita menapak ke alam selanjutnya. Ketika kita diletakkan di lubang yang gelap. Ditutup papan. Ditimbun tanah. Diiringi isak tangis. Lalu ditinggalkan semua orang.. Kubur itu gelap. Alam barzakh gelap, akhirat gelap. Sendirian. Tanpa teman. Tanpa siapa-siapa. Kecuali amal.

“Sholat adalah cahaya penerangnya. Yang dengan cahaya itu bisa menuntunnya ke taman-taman sorga,” ujarnya lagi. Bahkan kelak, lanjutnya lagi, orang-orang munafik mengemis cahaya pada orang-orang beriman saat di padang mahsyar.  “Tuan, tangisi dirimu sekarang. Sebab ketika kita sudah di dalam tanah tidak ada lagi kaya-miskin, tak ada lagi gunanya nasihat, tak ada lagi berpangkat-orang biasa. Pada akhirnya kita semua sama; hanya debu…

Rindu Ramadhan…

[helfizon assyafei]

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *