Sabtu, 1 Oktober 2022

Cinta dan Takut

helfizon assyafei
(ilustrasi, foto: dok. pribadi)

Oleh: Helfizon Assyafei

“Mengapa Tuhan mengirim dua malaikat pencatat perbuatan kita, sedang DIA Maha Mengetahui?” ujar tuan guru beberapa malam yang lalu. Kami yang hadir hanya tertegun mendengar pertanyaan itu. Kadang hal sederhana sering luput dari pengertian dalam tentang makna hal itu. “Karena Tuhan Maha Adil,” ujar tuan guru menjawab pertanyaannya sendiri.

Dengan kata lain Tuhan tak pernah berbuat aniaya (zalim) pada hamba-Nya dengan memasukkan mereka ke neraka, tetapi perbuatan si hamba itu sendirilah yang membawanya ke sana. Bahkan sudah salahpun kita, DIA Sang Maha Pengasih selalu membuka pintu ampunan bila kita datang pada-Nya bertaubat dengan sungguh hati.

Allah Maha Pengasih. Kasih-Nya mengalir pada semua makhluk. Entah si makhluk itu soleh ataupun pendurhaka semua dapat nikmat. Oksigen untuk bernafas misalnya. Penjahatpun dapat, orang baikpun dapat. Seperti air hujan yang menumbuhkan bunga yang indah dan juga tumbuhan beracun.

Segala puji hanya milik-Nya. Segala puji itu sederhananya segala kebaikan terkumpul pada-Nya. Fitrah kita mencintai kebaikan, orang baik dan benci pada kejahatan juga orang jahat. Jadi kalau tak memahami makna segala puji ini, lanjut tuan guru, maka orang-orang akan salah tersalah dalam menduga terhadap-Nya. Atau salah bicara tentang-Nya.

Salah duga itu maksudnya terkadang orang-orang yang bicara tentang-Nya tanpa sadar menjadikan Tuhan sebagai sosok yang pemarah, pencemburu, posesif, gila disembah (hormat), pengancam dengan maksud menimbulkan takut bagi pendengar atau pembacanya.

Digambarkan sebagai sosok yang gemar menebar ancaman neraka. Hasilnya orang-orang jadi takut, lalu ibadah. Pertanyaannya dimana Cinta? Ibadah yang didorong oleh rasa takut seperti itu melahirkan keterpaksaan. Melakukannya bukan karena ingin melakukannya tetapi terpaksa demi meredakan rasa takut.

Takut tidak selamanya bisa berubah jadi cinta. Bisa jadi benci. Sampai-sampai ada teman dulu tiap dengar azan bilang “duh sholat lagi, sholat lagi.” Takut tak mudah berubah jadi cinta. Tapi cinta bisa berubah jadi takut. Takut kehilangan. Takut melanggar larangan-Nya.

Kalau kita memahami makna “Segala puji” itu maka yang lahir pertamakali adalah cinta. Dari cinta muncul takut positif. Takut jauh dari-Nya. Takut yang lahir dari cinta itu amat beda dengan takut yang lahir dari ancaman. Jadi mengapa Tuhan mengirim dua malaikat mencatat perbuatan kita agar kita paham Tuhan tidak ada niat sedikitpun menganiaya kita.

Perbuatan tidak terpuji kita sendirilah-menipu, korup, menjahati orang dll- mengantar pada tempat tak terpuji (neraka)i. Jadi setiap orang bicara tentang DIA, pahamilah “Segala puji” untuk-Nya. DIA , Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sangat menyayangi kita semua makhluk-Nya. Tapi kitalah yang selalu lupa dan sering salah menduga-Nya.***

Pekanbaru, 20 Feb 2022

Penulis jurnalis senior Riau

Tinggalkan Balasan