Ketika itu di Sebuah Pulau

(Catatan Akhir Tahun)
Oleh Helfizon Assyafei

Desember di penghujung tahun. Jelang tengah malam. Semilir angin sepoi-sepoi sesekali menyusupkan hawa dingin ke tulang. Di sebuah pulau di tengah laut. Jauh dari kebisingan. Hanya suara mesin genset listrik ditingkahi deburan ombak menyapa pantai. Kemah warna-warni berjejer di tepian pantai.

Kami tak mengisi malam itu dengan api unggun dan tepuk tangan. Tapi dengan berdiskusi ringan. Berbincang. Tertawa lepas dan sesekali serius. Banyak hal diperbincangakan, ya politik, ekonomi, sejarah, kebudayaan dan juga hal ringan lainnya.

Baca Juga:

“Apa hikmah dalam perjalanan waktu yang abang rasakan?” ujar saya bertanya pada seorang senior ketika itu. Sembari menyeruput kopi hitamnya ia tersenyum. “Kok rasa diwawancara ya?” ujarnya tertawa.

Saya tahu beliau banyak pengalaman yang dilaluinya ya di jurnalistik di politik juga di bisnis
“Hidup itu mesti ikhlas,” ujarnya singkat. Maksudnya ikhlas pada yang mengatur perjalanan hidup.

“Semua sudah dalam pengaturan-Nya. Tugas kita berusaha dan setelah itu ikhlas menerima apapun hasilnya,” ujar beliau lagi.

Menurutnya banyak kekecewaan yang pernah dialaminya ternyata berbuah manis setelah beberapa waktu kemudian.

“Dunia memang tempatnya kecewa. Jadi jangan kaget bila dikecewakan. Biasa saja. Waktu kan menyembuhkannya,” ujar beliau lagi.

Dulu, lanjutnya, ada orang sederhana yang tak pernah terfikir jadi orang elite seperti wakil kepala daerah misalnya. Ingin juga tidak. Tapi situasi politik ketika itu membawanya ke pusaran kekuasaan. Lalu ia terpilih jadi wakil kepala daerah.

Bahkan ia naik jadi kepala daerah juga karena situasi politik. Ia tetap biasa-biasa saja. Dan lega ketika masa jabatannya berakhir.

“Lihatlah ada yang sangat ingin jadi malah tak jadi. Yang tak ingin malah jadi. Begitulah hidup kadang misteri. Itu sebabnya kita perlu sifat ikhlas itu,” ujarnya.

Menurutnya ikhlas di setiap situasi itu adalah menerima kenyataan hidup susah-senang, suka-duka, berhasil-gagal sebagai hal yang wajar.

Ada masa kita susah, lelah, murung, marah. Ada juga masa ketika kita benar-benar merasa enak, gembira, bahagia. Jadi mana kita yang sejati?

Tak satupun dari itu. Kondisi akan terus begitu, berubah-ubah. Ada banyak hal di luar kendali kita. Jadi biarkan saja hukum alam bekerja. Jangan mudah kecewa. Tapi mudahlah menjadi gembira.

Cari dan ciptakan momen-momen gembira itu. Jangan biarkan keinginan membuat mu susah hati. Cukup berdamailah dengan kenyataan, selalu bersyukur dan menikmati setiap momen.

Malam semakin larut. Saya beranjak ke tenda (kemah) dengan hati yang merasa cerah di tengah gelapnya malam…

Selamat datang 2022..

31 Desember 2021

 

Penulis seorang jurnalis senior Riau

Artikel ini sudah dipublikasikan pertama kali di laman Facebook Helfizon Assyafei

Tinggalkan Balasan

Next Post

Belajar Ikhlas

Ming Jan 2 , 2022
329 (Catatan Awal Tahun) Oleh Helfizon Assyafei Yang paling sulit itu menata hati. Sebab ia mudah terpengaruh. Hati itu berbolak-balik. […]

Berita Menarik Lainnya

%d blogger menyukai ini: