Selasa, 6 Desember 2022

Lemang Bambu

Memasak lemang bambu. (Foto: ilustrasi)

Oleh: Helfizon Assyafei

Kemarin saya lewat di sebuah masjid tak jauh dari sebuah pasar yang ramai. Di depan masjid itu masyarakat ramai bergotong-royong membersihkan halaman masjid. Memasang tenda. Wajah-wajah mereka terlihat gembira. Dan ini yang unik; memasak dengan unggun api, lemang bambu hampir ratusan banyaknya.

Di gerbang masuk ada spanduk selamat datang pada tamu-tamu yang memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pagi ini di majlis Tuan Guru, seorang bertanya. Apa hukumnya itu? Bolehkah? Bukankah Nabi tidak pernah menyuruh kita melakukan itu? Tuan Guru tersenyum. Lalu membuat ilustrasi.

Setiap bulan Agustus ada upacara khusus pada tanggal 17 memperingati Hari Kemerdekaan. Juga ada permainan rakyat seperti panjat pinang, pacu goni, makan kerupuk. Bukankah dulu para pahlawan dan pejuang tak pernah menyuruh kita melakukan itu?

Kita melakukannya sebagai wujud rasa syukur. Juga untuk mengenang jasa mereka. Perjuangan mereka. Agar generasi ini tahu kita sekarang ada di sini tak lepas dari pengorbanan mereka. Lalu ia membuka sebuah kitab karya Syekh Muhammad Hudribek seorang ulama di Mesir abad ke 17.

Kitabnya berbahasa arab gundul tanpa baris. Syekh itu menulis di kitabnya Nurul Yaqin tentang Shiroh Nabawi (sejarah kehidupan Nabi). Lalu Tuan Guru membacakannya kepada kami.

Bahkan Syekh yang mulia itu dalam kitabnya setiap hendak mengucapkan nama Nabi ia awali dengan Sayyidul Akram (penghulu kemuliaan) sekalian manusia. Mengapa? Karena kemuliaan Nabi bukan buatan manusia. Tapi langsung dari Allah SWT.

Memang Nabi manusia biasa seperti kita. Tapi esensinya tidak sama. Ibarat batu permata dan batu kerikil. Memang sama-sama batu tapi beda nilainya. Kemuliaan buatan manusia hanya fana. Mungkin kita dihormati karena harta, pangkat jabatan, gelar, keturunan, keilmuan, keahlian. Tetapi bila semua itu pergi dari kita maka orang kan menjauh, melupakan. Itulah hukum kehidupan.

Sebab semua kemuliaan hanya milik Allah SWT. Dan Allah yang Maha Mulia itu memuliakan makhluknya bernama Nabi Muhammad SAW. Jadi ketinggian kedudukan Nabi di semesta jagad raya ini tiada tara. Itu sebabnya ada kadang ada kata ‘Baginda’ sebelum namanya disebut. Baginda Nabi, Baginda Rosul.

Bukankah kelahirannya adalah sebuah nikmat besar? Salahkah kita bergembira ketika mendapat nikmat besar? Ternyata tidak. Beliau menukilkan ayat Alquran; “…dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah…”(QS Ibrahim: 5). Dalam tafsir Depag RI, yang dimaksud dengan “hari-hari Allah” peristiwa yang terjadi pada kaum-kaum dahulu serta nikmat dan siksa yang dialami mereka.

Jadi menurut Syekh Hudribek kita memperingati nikmat yang diberikan Allah SWT dengan kelahiran Nabi meski Nabi sendiri tak ada menyuruhnya. Karena Nabi memang tidak gila hormat/pujian. Beliau ingin semua puji hanya untuk Allah.

Tapi Alquran menyuruh kita tidak melupakan nikmat ataupun siksa yang dialami kaum terdahulu sebagai pelajaran. Dan kelahiran Nabi adalah nikmat besar. Jadi wajar orang-orang beriman sangat gembira, bersyukur dan merayakannya.

Wajar kaum muslim sangat gembira, bahagia dengan kelahiran Nabi. Utusan Allah yang bisa memberi syafaat (pertolongan) tidak saja di dunia ini tapi juga di akhirat nanti. Pesan Tuan Guru di akhir tausiyah cukup mengena.

“Jangan pernah merasa bersalah jika dirimu gembira dengan kelahiran manusia agung itu dan merayakannya. Itu bentuk syukur dan cinta,” ujarnya. Dan lemang bambu satu diantara tanda cinta. Sebab cinta bukan hanya kata.

Rindu kami pada mu ya Rosul.
Rindu tiada terperi…***

 

Pekanbaru, 24 Oktober 2021

 

Penulis adalah wartawan senior Riau

Tinggalkan Balasan