Sabtu, 28 Mei 2022

TEKO

Ilustasi teko. (Foto: Tokopedia)

Catatan Helfizon Assyafei

Kan benarkan? Belum selesai satu riuh muncul lagi riuh berikutnya. Baru saja ramai soal JHT-Wayang- kini muncul pula ‘gongongan anjing’ dan entah apa lagi. Sementara minyak goreng tetap susah didapat kalaupun ada harga tak bersahabat.

Kata Fadli Zon yang anggota DPR itu di twitter dan youtubenya pejabat ini cari-cari masalah yang menimbulkan kegaduhan. Sementara urus yang besar seperti haji dan umrah saja tidak becus. Menggunakan kata metafora gongongan anjing untuk suatu yang mulia? Onde mande cusdei.

Baca Juga:

Begitulah teko hanya menuangkan air yang disiimpannya. Jika diri kita itu teko, maka ucapan kita adalah isinya. Jika isinya air kotor maka yang keluar air kotor itu juga.

Dia telah meludahi langit. Lalu ludah itu jatuh menimpa wajahnya sendiri. Orang yang hina takkan jadi mulia meski diberi jabatan terhormat. Duh, betapa hinanya lidah yang tak ada iman di dalam ucapannya.

Bahkan anjingpun takkan pernah menyakitimu dengan lidahnya. Tapi manusia bisa melakukannya. Bahkan andaipun kau ucapkan kata maaf, takkan lagi menyembuhkan luka ini.

Kita tak pernah bisa hormat pada orang yang hina setinggi apapun jabatannya. Jadi paham kelak neraka itu dipenuhi oleh dua golongan. Yakni orang yang tak bisa menjaga lisannya dan menjaga kemaluannya.

Smoga takkan ada lagi yang seperti ini kelak di masa depan bangsa ini. Amin..***

Penulis adalah jurnalis senior Riau

Tinggalkan Balasan