Sabtu, 1 Oktober 2022

Wayang

Pagelaran wayang yang mirip Ustaz Khalid Basalamah di Ponpes Ora Aji milik Gus Miftah banjir kecaman. (Foto: Detik)

Catatan Helfizon Assyafei

Wayang bagian dari kesenian. Seni itu keindahan, keselarasan dan harmoni. Seperti halnya musik. ‘Mereka’ hanya alat untuk berkesenian. Tidak ada yang salah dengan wayang atau musik atau seni.Tapi pelaku seninya bisa melakukan kesalahan.

Misalnya menjadikan wayang jadi sarana untuk mencaci maki yang tak suka seni. Atau bermusik untuk membangkitkan syahwat misalnya. Alat sifatnya netral saja. Tidak terkena hukum halal-haram. Simple logic.

Namanya juga alat. Pelakunya yang membuat alat bisa digunakan untuk baik dan bisa juga buruk. Seperti pisau yang tergantung tidak ada hukumnya. Baru ada hukumnya ketika digunakan untuk membunuh orang misalnya. Tapi yang dihukumnya tetap pelakunya. Bukan pisaunya.

Di tangan orang baik, wayang jadi sarana dakwah. Sunan Kalijaga contohnya. Tapi ditangan tak baik wayang bisa jadi sarana membully orang lain.

Di tangan Opick dan Rhoma Irama, musik bisa menjadi nada dakwah. Tapi di tangan penyanyi lain musik bisa mengiringi lagu atau goyangan pemancing syahwat seperti “cinta satu malam” misalnya.

Persoalannya bukan di alatnya tapi di pelakunya. Dan belakangan heboh ada orang yang menggunakan wayang untuk membully. Menunjukkan kebencian dan ketidaksukaan.

Di negeri yang penuh dengan para bedebah, kegaduhan mungkin sebuah produktivitas. Makin gaduh makin bagus. Biar orang-orang lupa atau dilupakan pada persoalan mendasar dan asyik tenggelam dalam konflik yang tidak produktif.

Seperti sebuah agenda setting, ada yang berperan sebagai pembentur anak bangsa satu dengan yang lainnya. Ada yang berperan menulisnya, membuat pertunjukan, melaporkan mereka yang tak sejalan dan sebagainya.

Padahal bukankah perbedaan cara pandang itu sebenarnya hal yang teramat sangat biasa? Kalau ada orang yang mengharamkan durian misalnya, saya tahu itu hukum untuk dia saja dan yang sekolam dengannya. Mungkin karena tak suka atau alergi. Ya tak apa. Silakan saja.

Secara universal hukum itu tidak berlaku demikian. Mengapa harus mencaci maki pembenci durian hanya karena kita suka durian? Biarkan saja. Gitu aja kok repot.

Tapi sekali lagi mungkin kegaduhan itu sebuah produktivitas yang menghasilkan income. Sehingga setiap tausiah ditunggu kalau-kalau ada statemen yang bisa diviralkan untuk menggebuk yang tak sejalan.

Pelakunya biasanya itu ke itu juga. Dan akan aman-aman saja selalu. Biarlah catatan langit yang akan membukukannya.***

Pekanbaru 22-2-2022

 

Penulis adalah jurnalis senior Riau

Tinggalkan Balasan